Jadi tiba-tiba beredarlah berita seperti ini 'Pemilik Warteg Ternyata Orang Kaya". Masih inget gk sih beberapa th lalu di mana tunawisma ternyata punya uang jutaan di gerobaknya dan rumah besar di kampungnya karena mengemis? Sebenernya, udah cukuplah mempermasalahkan kaya-miskin. Coba deh pelajari kasus awal yang diangkat lalu konotasinya tuh kemana. Ini yg kurang cermat kan si penulis awal yah, kalau doi bilang "kasihan org miskin". Itu stereotype masyarajkat untuk pemilik warteg. Padahal, kl sempat kalian perhatikan seperti "barokah", "bahari", "nikki rasa", dsb. merupakan warteg-warteg yang ada dalam 1 wilayah, yang biasanya punya 1 pemilik. Jd gue liatnya gini. Menurut, perspektif gue yah. 1. Yah si penulisnya memang kasihan, dia ngga salah juga, memang gak manusiawi aja kl tuh warteg diubrak-abrik, itu apa yg dia lihat saat itu yah 2. Gue bukan "jurnalis", tapi please! Sebagian besar berita itu untuk kepentingan ...