Konsep Sosiologi dalam Film

Kebebasan Pemikiran ala Shawshank

The Shawshank Redemption (1994) merupakan film yang diadaptasi dari cerita pendek karya Stephen King—Rita Hayworth and Shawshank Redemption”. Film ini sangat apik digarap oleh Frank Darabont dan kru. Dalam IMDb (Internet Movie Database) film ini menyandang posisi pertama dengan rating 9.2 selama beberapa tahun (sampai sekarang—2016).
            The Shawshank Redemption ini merupakan film yang
sangat sederhana. Film ini berkisah tentang Andy Dufrense (Tim Robin) yang merupaka seorang bankir. Andy dituduh membunuh istri dan selingkuhan isterinya. Pada kenyataannya, Andy tidak bersalah namun semua bukti tertuju kepadanya sehingga Andy harus mendekam dipenjara. Hal ini sesuai dengan isu sosial atau konsep ideology alienation keterasingan yang mengungkapkan bahwa dipenjara berarti (seharusnya) terasingkan dari dunia luar, namun tidak sepenuhnya karena Red masih bisa mendapatkan barang-barang dari luar penjara.
Bisa juga dikategorikan sebagai konsep identity di mana dalam film ini. Para napi mencari, mendapatkan, bahkan kehilangan jati dirinya. Seperti Brooks yang merasa nyaman menjadi penjaga perpustakaan, karena terpenjara selama 50 tahun menjadikan hidupnya berguna dipenjara. Brooks malahan merasa tidak sanggup hidup di luar penjara. Hal ini bahakn menyebabkan Brooks bunuh diri. Seperti juga konsep Culture yang menjelaskan bagaimana kebudayaan yang dianut di dalam penjara. Lenih dari iut, kebudayaan apa yang dianut para petinggi penjara, bahkan kebudayaan yang membentuk narapidana dalm berkehidupan.
Mungkin konsep Civil rights juga bisa masuk dalam kategori konsep sosiologi di film ini. Seperti yang kita katahui dalam film bahwa Andy tidak membunuh sang isteri. Namun pengadilan dan barang bukti berkata lain. Jika konsep Civil Rights adalah benar. Maka seharusnya hakim dapat memberikan perlindungan kepada Andy sebagai orang yang tertuduh. Bukan tersangka yang harus dipenjara.
Ideology merupakan konsep selanjutnya yang dapat ditemukan dalam film The Shawshank Redemption. Seperti yang kita ketahui bahwa ideology adalah  kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup. Di sini Andy mempunyai harapan untuk bisa keluar dari penjara. Ideology Andy agar ia tetap merasa bebas—di sini kita diajarkan berpikir ataupun bertindak agar merasakan kebebasan yang tentu saja hal ini berasal dari konsep Freedom)—dalam kekangan. Andy membuat perpustakaan, memutar music untuk orang-orang penjara, bahkan dia melakukan kecurangan pajak terhadap Warden agar mendapatkan keadilan. Di mana sebelumnya, Andy dikenalkan sebagai orang yang sangat jujur. Sama seperti konsep paradigm (kerangka berpikir) di mana setiap narapidana memiliki cara berpikir yang berbeda. Konsep-konsep ini semakin diperkuat dengan konsep yang dianut Andy (tokoh utama) yaitu power knowledge. Di sini jelas diceritakan bahwa Andy adalah orang yang cerdas, karena kecerdasan inilah dia mempunyai kekuatan untuk memiliki paradigm sehingga membetuk ideology.
Crime tidak lepas dari sebagian besar tema/konsep dalam film. Jika berasal dari 3 babak, maka crime (sebut saja kejahatan) adalah unsur penggerak plot. Crime di sini sangat banyak contohnya, mulai dari keserakahan Warden, kekerasan yang dilakukan kepala penjara—Hadley—dan masih banyak lagi. Tentu saja faktor criminal menggerakan bahkan membuat cerita ini berjalan. Seperti setting penjara, di mana secara umum, penjara melambangkan kriminalitas.
Tidak lepas dari konsep garis besar. Beberapa paragraph di atas juga menjelaskan bahwa film The Shawshank Redemption tentu menganut konsep justice (keadilan). Para narapidana yang tak henti mencari keadilan. Konsep ini disokong dengan konsep power, kekuatan petinggi penjara yang bisa berbuat semena-mena. Sehingga muncullah konsep Control socialization yang mengekang narapidana untuk berbuat suatu hal.
Konsep Community dan Konsep Group merupakan konsep kecil karena ini berkisah tentang narapidana di dalam penjara. Mereka juga membuat grup-grup. Sedangkan, sebenarnya secara keselurukan berada dalam penjara merupaka komunitas narapidana, orang-orang yang dinyatakan bersalah dan harus mendapatkan hukuman.
Jika kita mengungkap muatan konsep pada tahun 90an. Tahun-tahun yang merupakan waktu di mana para pembuat film menampilkan karya-karyanya. Sebenarnya, setiap film memiliki cerita yang berbeda. Namun, hampir setiap film yang mengambil tema seperti ini, kurang lebih memiliki konsep yang sama. Bukan hanya berlatar belakang kehidupan penjara tapi tentang kebebasan. Misalnya The Green Mile dengan Paul Edgecomb (Tom Hanks) seorang sipir penjara untuk sebuah penjara yang akan melakukan eksekusi hukuman mati pada tahun 1930-an, zaman dimana terjadi resesi di Amerika Serikat. Hidupnya yang jujur sering terganggu dengan menyaksikan banyak orang yang hidup dan mati. Suatu saat, seorang lelaki berukuran besar dan berwarna kulit hitam, John Coffey didatangkan ke LP tersebut untuk kemudian dilakukan eksekusi hukuman mati listrik karena divonis memerkosa dan membunuh dua orang gadis muda. Coffey merupakan seorang pemuda pemalu, berbicara lembut dan emosional serta mempunyai kekuatan luar biasa terutama menyembuhkan orang sakit.
            Menelisik kembali dalam film ini. Faktor kelas sosial dalam film ini awalnya beraga,. Para narapidana berasal dari kalangan bermacam-macam. Namun secara garis besar. Para narapidana berasal dari kalangan menengah ke bawah. Hal ini di jelaskan ketika ada beberapa narapidana baru yang dipenjara karena mencuri (Tommy). Dan dari pembicaraan-pembicaraan pada narapidana tentang kehidupan sebelumnya. Sehingga sebagin besar dari mereka juga merasa lebih berguna saat hidup di penjara. Karena mereka bukanlah siapa-siapa di dunia luar. Seperti kata Red dan Brooks yang sangat ketakutan terhadap dunia luar.
Dalam The Shawshank Redemption peran genre diangkat sebagi faktor penting. Karena konsep peran genre merupakan bagian dari upaya pelepasan “stereotyping” dan/atau “labeling”. Di sini, setiap narapidana mempunyai perspektif yang beragam. Mereka juga bukan benar-benar orang jahat seperti yang orang awam pikirkan. Tentu saja para petinggi penjara juga tidak bersih seperti yang seharusnya. Genre yang diangkat adalah Drama/Thriller. Drama yang sering kali membuat penonton berpikir bagaimana mengatasi suatu masalah. Drama sering kali membuat pentonton memiliki sudut pandang yang berbeda dari umumnya. Jika yang dimaksud adalah pembentukan labeling baru, maka jawabannya iya. Di sini setiap yang bersalah maupun yang tidak memiliki 1 label yaitu, “mereka tidak ingin salah”.
Seperti pada paragraph awal, film The Shawshank Redemption memang memiliki konsep-konsep sosiologi tertentu. Namun saya mengambil beberapa konsep besar dalam film ini yaitu, ideology dan justice. Film ini sangat kuat dengan bias-bias politik. Film ini merupakan film karangan Stephen King yang selalu menggerumulkan kejahatan dan kebaikan dengan berbelit-belit. Namun inilah kenyataan sesungguhnya dalam diri manusia yang hidup dalam sebuah kelompok. Tidak hal yang seharusnya benar adalah benar adanya, tidak hal yang spertinya buruk itu tidak benar, dan tidak ada kebenaran yang benar-benar mutlak. Maka jika dikaitkan dengan tema utopis. Ini mungkin sebuah utopis yang berdasarkan kisah nyata.
Maka jika saya simpulkan pernyataan saya pada paragraph di atas. Konsep sosiologi yang diangkat dalam film The Shawshank Redemption itu relevan dengan kondisi dan situasi aktual (sesungguhnya) sesuai dengan negara asal film ini bahkan (hampir) di semua Negara. Karena setiap Negara mulai yang dari hukumnya mendudukinposisi hukum terbaik sampai dengan terburuk. Selalu saja ada kabar tentang ketidak adian dalam penjara maupun kekerasan dalam penjara. Bayak juga narapidana yang berusaha keluar. Banyak juga yang memiliki perspektif yang berbeda dari saat mereka belum masuk ke penjara. Berbagai hal bisa terjadi dalam lingkup penjara.
Analisis film ini tentu saja dilakukan dengan pendekatan sosiologi. Di mana definisi dari sosiologi itu sendiri adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat; ilmu tentang struktur sosial, proses sosial, dan perubahannya. Karena sosiologi mengambil andil dalam kehidupan masyarakat yang sangat besar, sama halnya seperti film yang dapat menyampaikan atau memberi pengetahuan baru bagi penontonnya. Penerapan konsep sosiologi haruslah berdasarkan pendekatan yang tepat sasaran, agar segala hal yang ingin disampaikan bisa diterima oleh penontonnya. Selain sebagai pedoman, sosiologi juga merupaka ilmu yang sangat berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan manusia dan kelompoknya. Dari sosiologi, segala data-data dapat dijadikan sumber untuk menyimpulkan ilmu baru bagi perkembangan masyarakat maupun pemahaman tentang seni pola kehidupan.
Dari keseluruhan pemikiran yang saya sampaikan di atas, saya akan menyimpulkan bahwa pada dasarnya film ini—bahkan hampir semua/kebanyakan film—tentu mengusung dasar konsep-konsep sosiologi. Dan pada film ini, konsep sosiologi yang diusung cukuplah kuat. Selain film ini membongkar sistem berpikir orang—orang (narapidana) yang tertekan dalam kehidupan penjara. Kehidupan yang dipilihkan (keterpkasaan) oleh sekelompok orang sehingga membentuk suatu komunitas yang tentu saja merupakan maksud dari ilmu sosiologi (manusia dan perilaku bermasyarakat/berkelompok) itu sendiri. Seperti pada penjabaran di atas tentang konsep-konsep sosiologi yang merupakan landasan dasar dari film ini. Apa yang disajikan dalam film ini berasal dari cara pandang manusia atas kelompok penyokong kehidupan dan faktor masa lalunya. Faktor kuat untuk menentukan cara berpikir sehingga menyokong perjalanan kehidupan yang ditempuhnya.

The Shawshank Redemption juga memberikan pesan moral dan sensasi kebebasan psikologi kepada penonton (hasil penelitian berdasarkan perasaan yang saya alami dan beberapa sumber yang pernah menonton) karena termotivasi. Sesungguhnya rasa kesepian, kehampaan, kesedihan, keterpurukan, kesakitan, kebebasan, dan kebahagiaan itu berasal dari bagaimana seseorang berpikir. Bagaimana paradigma yang dianut oleh orang tersebut. Pada akhir film ini, Andy bebas dari penjara dan bebas meneruskan hidupnya. Namun hal itu karena pembuat film mengarahkan penonton kepada kebebasan yang diinginkan si tokoh. Bagaimana bisa hidup di tengah pulau adalah kebebasan, sedangkan di kota, orang pada umumnya bisa mendapatkan apapun yang ia mau hanya dengan membelinya di toko? Sebenarnya, pada akhir yang tidak divisualkan, Andy juga manusia yang membutuhkan Red untuk membangun impian-impian hidup bermasyarakat dengan memiliki tempat wisata di tengah pulau. Manusia dan kehidupan bermasyarakat.

Comments

Popular posts from this blog

Marselli Sumarno (Wawancara Singkat)

Sedekit PR untuk FFI