Sedekit PR untuk FFI
FFI merupakan salah satu acuan
perfilman di Indonesia, baru saja terselenggara di ICE, BSD. Tepat pada tanggal
23 November 2015. FFI dibuka oleh Mendikbut Anies Bawsedan dan Bupati—aktor kawakan—Rano Karno.
Selain sebagai
tolak ukur perfilman
, FFI juga sebagai tempat untuk mengapresiasi diri sendiri,
teman-teman, dan masyarakat. Tahun ini sistem penjurian berbeda dari tahun
sebelumnya. Dengan 127 juri yang kredibel (27 nominator, 15 orang luar film—misalnya psikolog, dsb—, dan sineas
lainnya) dan tidak ada diskusi antara juri untuk memastikan tidak ada kerja
sama.
“Tahun ini perbedaan cukup terasa
pada pemilihan film-film yang masuk nominasi, film-film yang masuk didominasi
oleh film-film budget rendah, kecuali Guru Bangsa Tjokroaminoto. Sehingga, menghasilkan
esensi tersendiri.”, jelas Lukman Sardi, ketua bidang media dan publikasi FFI
2015.
Walaupun FFI tahun 2015 sudah cukup
baik. Contohnya, saat penempatan kursi-kursi undangan. Sebagai acara perfilman,
FFI tahun 2015 memastikan agar para nominator dan sineas duduk di kursi-kursi
depan (VVIP), sedangkan pejabat pemerintahan di kursi tengah (VIP), dan kursi
belakang untuk undangan lain. Namun, mungkin ada sedikit PR untuk FFI tahun depan, misalnya;
1. Adanya nominasi untuk kategori kritikus
film
2. Adanya nominasi untuk kategori theme
song
3. Membacakan seluruh pemenang film secara
live (Mis: film documenter, animasi, dsb.)
Banyak masyarakat Indonesia yang tentunya paham
jika film dokumenter mengambil andil besar bukan hanya dari segi perfilman,
tapi juga lebih dalam dari itu. Film-film dokumenter dapat mempengaruhi
pesimisme masyarakat tentang keadaan Indonesia. Dokumenter merupakan film
pembelajaran dan pengetahuan yang nyata disekitar. Orang-orang pantas mengetahui
siapa orang-orang dibalik film-film tersebut.
Tentang film animasi di Indonesia, beberapa
orang mengajukan pertanyaan dan pernyataan; Kenapa animator Indonesia tidak
memajukan film-film animasi? Kenapa film Indonesia masih jarang menayangkan
film animasi? Kenapa seperti ini, kenapa seperti itu? Dengan ditayangkannya
pemenang film animasi (cuplikan, alasan pemilihan pemenang, dsb). Mungkin masyarakat
Indonesia akan lebih menghargai film animasi itu sendiri. Setidaknya dapat
menjawab keraguan dari penonton.
Berlaku juga untuk film TV. Jika selama ini
sebagian besar “orang yang mengerti film” tidak terlalu menyukai film TV karena
alasan “jualan”. Tentunya FFI tidak memandang dari sudut tersebut untuk
memenangkan film TV. Hal ini akan memberikan wawasan baru bagi masyarakat awam
untuk mengenal film TV yang baik. Begitu juga untuk film pendek karya anak
bangsa.
Dalam
setiap acara, waktu memang menjadi masalah terbesar. Namun, saya berharap
penayangan FFI bisa lebih terfokus. Sekali lagi, FFI merupakan salah satu acuan
perfilman. Masyarakat harus paham jika perfilaman memiliki banyak aspek dan
optimis akan kehadiran film-film Indonesia.
Comments
Post a Comment