Interpretasi Puisi "Tiga Sajak Kecil" Sapardi Djoko Damono
Tiga Sajak Kecil, Novel Hujan Bulan
Juni
/1/
Bayang-bayang hanya berhak setia
Menyusun partitur ganjil
Suaranya angin tumbang
Agar bisa berpisah
Tubuh ke tanah
Jiwa ke angkasa
Bayang-bayang ke sebermula
Suaramu lorong kosong
Sepanjang kenanganku
Sepi itu, mata air itu
Diammu ruang lapang
Seluas angan-anganku
Luka itu, muara itu
/ii/
Di jantungku
Sayup terdengar
Debarmu hening
Di langit-langit
Tempurung kepalaku
Terbit silau
Cahayamu
Dalam intiku
Kau terbenam
/iii/
Kita tak akan pernah bertemu:
Aku dalam dirimu
Tidakah pilihan
Kecuali di situ?
Kau terpencil dalam diriku
Analogi
puisi:
Perlu
dikatahui bahwa puisi ini dikutip dari novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi
Djoko Damono. Novel ini bercerita tentang cinta sepasang kekasih yang beda
agama. Mereka saling menghormati keluarga meraka yang tentu saja menjadi latar
belakang diri mereka. Namun, mereka tidak dapat membohoongi perasaan mereka.
Mereka berusaha mencari cara sekaligus pasrah terhadap kisah cinta mereka.
Tiga Sajak Kecil, Novel Hujan Bulan
Juni
/1/
Bayang-bayang* hanya berhak setia
*Bayang-bayang:
wujud gelap dibalik cahaya, pantulan cermin, sesuatu yang seakan ada, angan,
harapan
Menyusun partitur* ganjil
*Partitur
bentuk tertulis komposisi musik
Suaranya angin* tumbang*
*Angin:
udara yang bergerak
*Tumbang:
mati, gagal, sia-sia
Agar bisa berpisah
Tubuh ke tanah
Jiwa ke angkasa
Bayang-bayang ke sebermula
(Kematian
yang dapat memisahkan)
Suaramu lorong* kosong
*Lorong:
jalan kecil, identic dengan gelap
Sepanjang kenanganku
Sepi itu, mata air* itu
*Mata air:
sumber kehidupan
Diam*mu ruang* lapang*
*Diam: tanpa
suara, berdoa
*Ruang:
rongga, kemungkinan-kemungkinan
*Lapang:
bebas
Seluas angan-anganku
*Angan-angan:
harapan, cita-cita
Luka itu, muara* itu
*Muara:
tempat berkumpul air-air yang mengalir
/ii/
Di jantungku
Sayup terdengar
Debar*mu hening*
*Debar
identik dengan detak jantung, identik dengan hidup, identik dengan keinginan
*Hening:
senyap, kosong, ragu
Di langit-langit
Tempurung kepalaku
Terbit silau
Cahayamu
(Aku selalu
memikirkanmu)
Dalam inti*ku
*inti: yang
paling pokok, penting
Kau terbenam*
*terbenam:
masuk sangat dalam, tenggelam, mati
/iii/
Kita tak akan pernah bertemu:
Aku dalam dirimu
(Aku
bukanlah tujuan karena aku adalah kamu)
Tidakah pilihan
Kecuali di situ?
(Tidak bisa
memilih untuk memilikiku karena aku milikmu, aku adalah kamu)
Kau terpencil* dalam diriku
*Terpencil:
tersendiri, special, kenyamanan yang tak perlu dipamerkan
Puisi ini
diletakan pada halaman terakhir novel. Puisi ini merupakan akhir cerita dari
novel ini. Selama membaca novel. Pembaca telah diarahkan secara tersirat kemana
cerita ini akan berakhir. Puisi ini sebagai jawaban atas pertanyaan pembaca
tentang akhir kisah ini.
Setelah
melakukan sedikit pembedahan, maka saya menyimpulkan:
Tiga Sajak Kecil, Novel Hujan Bulan
Juni
/1/
Sarwono
hanya ingin mencintai Pingkan
Berusaha
membenahi/meluruskan sejarah/hukum yang telah tertulis tentang cinta yang
berbeda ras/agama
Perjuangannya
mungkin saja berhasil direstui/menjalin kisah cinta yang utuh, namun
kemungkinan besar gagal
Hanya
kematian yang bisa memutuskan rasa cintanya
Ucapan dan janji-janji
Pingkan tidak berarti, tidak mudah mencari restu ini
Seingat
Sarwono, mereka sudah mencoba/berpacaran bertahun-tahun
Tapi, belum
didukung adalah alasan mereka bertahan saling mencintai
Doa
Pingkan adalah kekuatan untuk segala kemungkinan
Sama seperti
doa Sarwono yang merupakan cita-citanya
Semua
penolakan itu semakin mengumpulkan kekuatan cinta mereka
/ii/
Sarwono
merasakan keraguan dalam diri Pingkan
Sarwono
tetap mencintai Pingkan
Hanya
Pingkan yang ada dalam pikiran Sarwono
/iii/
Pasrah saja
Bersama
bukanlah tujuan karena cinta selalu ada
Mau
bagaimana lagi?
Mereka
saling mencintai
Pingkan
adalah jiwa Sarwono, alasan Sarwono bertahan hidup (menyembuhkan penyakitnya)
Menentukan
aliran :
Idealisme
(romantisme) adalah karya yang mengutamakan perasaan, sehingga objek yang
dikemukakan tidak lagi asli, tetapi telah ditambhakan unsur perasaan si
pengarang.
Sapardi
terkenal sebagai Sastrawan yang menganut aliran romantisme. Hampir semua
karyanya merupakan luapan perasaan cinta. Dalam puisi ini, perhatian dibebankan
pada batin tokoh utama.
Menentukan
pandangan karya jika difilmkan :
Isu perbedaan agama dalam percintaan
selalu menjadi topik yang tak henti diunggah. Entah karena faktor nilai-niali
keagamaan, undang-undang pernikahan, dan sebagainya. Ini selalu menjadi topik
ringan yang sulit untuk diakhiri. Bagaimana perasaan harus beradaptasi dengan
kebudayaan. Semakin rumit jika keluarga tidak mengizinkan atau menentang
perbedaan yang ada. Yang pada dasarnya, keluarga tidak mau kehilangan sang
anak, sang anak yang mencintai keluarganya, juga perasaan yang saling
mencengkram.
Sudah cukup banyak film yang
mengangkat isu perbedaan agama. Indonesia merupakan Negara multikultural yang
seharusnya masalah ini bukanlah hal yang ruwet. Tapi seperti yang sudah saya
jelaskan di atas. Faktor tradisi keluarga dan hukum perundang-undangan, seakan
mengecam perasaan tulus ini. Jika novel ini diangkat menjadi film, saya rasa
akan memiliki cukup banyak peminat dengan ending yang sulit ditebak.
Pemilihan tema yang dekat dengan
kehidupan tentang cinta beda budaya. Namun, novel ini memberikan sisi yang
cerdas. Di sini, kedua tokoh tetap fokus pada cita-citanya, kedua tokoh juga
berusaha menghargai dengan keluarga. Yang sebenarnya, mereka tidak mampu saling
membohongi diri. Mereka tetap menghormati sahabat-sahabatnya masing-masing.
Latar tempat dan waktu juga sangat
kekinian. Gaya bahasa dan pemilihan setting mudah diterima oleh orang-orang
yang baru ingin mengenal sastra. Sayangnya, saya sedikit pesimis jika karya ini
diangkat menjadi film pada waktu ini. Seperti film CIN(T)A yang sebenernya
sangat mempermainkan perasaan penonton, tidak mendapat respon yang cukup baik.
Entah karena terlalu sederhana atau karena pada dasarnya, penonton menengah ke
bawah lebih menyukai film-film percintaan yang tidak realistis. Sedangkan,
mungkin penonton menengah ke atas di Indonesia jarang ingin ikut campur masalah
cinta-cintaan wanita dan pria. Mereka tidak tertarik merasakan kedalaman suatu
cerita yang sangat sederhana. Kesederhanaan adalah kunci suatu pandangan
tentang kekayaan. Karena sederhana adalah kaekayaan itu sendiri.
Comments
Post a Comment