Resensi Novel Hujan Bulan Juni
Judul :
Hujan Bulan Juni
Penulis :
Sapardi Djoko Damomo
Penerbit :
Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Juni
2015
ISBN :
978-602-03-1843-1
Tebal :
135 Halaman
Sebuah novel sastra yang ringan,
sederhana, dan menyentuh dari seorang sastrawan terkemuka sekaligus Guru Besar
Pasca Sarjana Institut Kesenian Jakarta. Jika selama ini pembaca pemula
memiliki minat terhadap sastra, namun mengkhawatirkan perbedaan zaman yang
mempengaruhi
gaya bahasa. Maka, novel ini adalah pilihan yang tepat. Gaya bahasa
dan tulisan akan mudah dimengerti oleh remaja sekarang. Terlebih aplikasi chatting yang dipakai dalam novel ini
sangat umum. Pemilihan tema yang sangat dekat dengan kehidupan, tema yang tak
lekang oleh waktu, dan memberikan persepsi berbeda bagi setiap golongan
masyarakat Indonesia.
Novel ini bercerita tentang kisah
cinta Sarwono dan Pingkan. Sarwono yang merupakan dosen Antropolog, Universitas
Indonesia. Sedangkan, Pinkan merupakan dosen dari jurusan Sastra Jepang. Mereka
sama-sama orang kepercayaan rekan-rekan sejawatnya, mereka sama-sama selalu
berusaha berkarya, mereka sama-sama memiliki cita-cita pribadi, mereka
sama-sama kukuh, sama-sama menghormati keluarganya, dan saling mencintai
Tuhan-nya. Kesamaan dan perbedaan dalam satu roman.
Setiap bab mengantarkan si pembaca
mengalun dengan harapan dan kegelisahan. Pingkan merupakan wanita Menado
(Kristen) yang tinggal di Solo, sedangkan Sarwono (Islam) adalah lelaki Solo
tulen. Pada awalnya, seakan kisah cinta mereka berjalan mulus. Atau bisa
dikatakan, mereka saling mampu menerima segala perbedaan. Terlebih, orang tua
mereka berkerabat baik. Dan Kakak Pingkan adalah sahabat Sarwono.
Selalu, nasib mengajak mereka
berdansa dengan berbagai pergolakan. Keluarga besar Pingkan dari Mendao berusaha
menjodohkannya dengan pria Menado yang sudah lama menaksirnya. Pingkan juga
harus pergi ke Jepang, di mana selama di sana ia dekat dengan sontoloyo Katsuo—seorang yang pernah ikut pertukaran
pelajar ke Indonesia.
Bukan hanya faktor eksternal, faktor internal yang sudah mengakar juga menambah keraguan mereka. Mereka
tidak sanggup membohongi rasa kasih mereka, namun mereka juga memiliki
keegoisan terhadp kepercayaan masing-masing. Keegoisan untuk saling bersama dan
memaksa menjadi sama.
“Apa dosa dan salahku
maka aku telah mencintai laki-laki Jawa yang sering zadul mikirnya ini? –
Halaman 36”
“..sebab kata
cenderung berada di luar kasih sayang dan kasih sayang tidak bisa disidik
dengan kata sekalipun berupa sabda bahwa ketika berpelukan mereka merasa seperti
dituntun untuk sepenuhnya mempercayai bahwa kasih sayang tak lain adalah Kitab
Suci yang tanpa kertas tanpa aksara tanpa surah dan ayat.. — Halaman 45”
“Yang aku cintai adalah Matindas yang lain-Tuama Minahasa yang
bisa menaklukkan hatiku – Halaman 57”
Katamu dulu kau takkan meninggalkanku
Omong kosong belaka!
Sekarang yang masih tinggal
Hanyalah bulan
Yang bersinar juga malam itu
Dan kini muncul kembali
(Hujan Bulan Juni – Halaman 94)
Kita tak akan pernah bertemu;
Aku dalam dirimu
Tiadakah pilihan
Kecuali di situ?
Kau terpencil dalam diriku
(Hujan Bulan Juni – Halaman 133)
Comments
Post a Comment