Warteg DiUbrak-Abrik, Kepentingan Instansi Media, Politik, atau Kemanusiaan?

Jadi tiba-tiba beredarlah berita seperti ini 'Pemilik Warteg Ternyata Orang Kaya". Masih inget gk sih beberapa th lalu di mana tunawisma ternyata punya uang jutaan di gerobaknya dan rumah besar di kampungnya karena mengemis?
Sebenernya, udah cukuplah mempermasalahkan kaya-miskin. Coba deh pelajari kasus awal yang diangkat lalu konotasinya tuh kemana. Ini yg kurang cermat kan si penulis awal yah, kalau doi bilang "kasihan org miskin". Itu stereotype masyarajkat untuk pemilik warteg. Padahal, kl sempat kalian perhatikan seperti "barokah", "bahari", "nikki rasa", dsb. merupakan warteg-warteg yang ada dalam 1 wilayah, yang biasanya punya 1 pemilik. Jd gue liatnya gini. Menurut, perspektif gue yah.
1. Yah si penulisnya memang kasihan, dia ngga salah juga, memang gak manusiawi aja kl tuh warteg diubrak-abrik, itu apa yg dia lihat saat itu yah

2. Gue bukan "jurnalis", tapi please! Sebagian besar berita itu untuk kepentingan pihak-pihak yg bersangkutan
 yah. Karena gua pernah bbrpa kali kejadian "berita kami diambil oleh kantor berita yang lebih punya nama", sebenernya gua senang! Gua cukup tau aja, buat instansi sampe segitunya loh. Tapikan itu cuma bbrpa nama org yg gua liat sendiri. Gak bisa kan gua menjelek2kan instansi itu.

3. Iya balik lagi, masalah yg mau diangkat "warteg yg diubrak abrik karena buka siang" dan karena menurut peraturan daerah (kl gk salah) emg tempat makan diwajibkan ngga buka siang2. Terus juga penjelasannya gini, "yah itu salah si warteg, peraturan daerahnya kan memang spt itu, toh warga sekitarnya yg gk puasa juga sudah terbiasa dan santai aja tanpa warteg siang2". Peraturan yg udh dibuat dan disepakati di daerah itu. Di mana di setiap daerah punya peraturannya sendiri, dan perspektifnya loh yah ngga nyangkut2in peraturan daerah lain ke daerah lain.

4. Ini yg lucu, fak! Gue termasuk yg mendukung makanan buka aja pas siang, toh sebagian besar agama yg diakui di Indonesia juga punya tanggal2 tertentu untuk puasa, walau ngga 1 bulan (justru ini, kami terbiasa dg pola seperti itu dan kl harus ngikut kaga makan, kang sayur kabur selama 1 bulan, kelar), lah jujur aja yh, gua tuh merasa bersalah aja kl makan pas puasa gitu, yg tiba2 diliatin, atau gue takut grgr gue puasa mereka batal. Gue kaya iblis yah (gua sukanya menggoda pacar orang bukan puasa orang, gimana donks? *eaaabaperjirr). Itu perspektif yg dibentuk oleh mayoritas yg tidak bertanggung jawab. Baca lengkap yh "mayoritas" yang "tidak bertanggung jawab".

5. Menurut petisi change.org, yg diubah adalah peraturan di daerah itu. Nah, intinya, agar daerah lain tidak melakukan kekerasan seperti itu. Tandai "kekerasan". Karena stereotypenya, kl warteg boleh diubrak abrik dan ngga ditegur pemerintah, di daerah lain akan ada kejadian serupa, lagi2 mengatasnamakan (you know), pemerintah salah melakukan stereotype? Kaga juga, setau gua sample terbanyaklah yg dianalisis (dijadikan patokan). Dapet kan, simpelnya kalau ngga mau dicap toh yh berusaha memahami utk perubahan yg lebih baik.

6. Udh berapa kali sih pemberitaan yg berusaha memecahkan keutuhan bangsa ini? (Ciaaaelaaaah) setiap pihak yang punya kepentingan yang punya "kuasa" berusaha memasukan ideologi2 mereka kepada kita? Sering kali kan kita mengatasnamakan "landasan dasar NKRI, pancasila", ingetkan sila pertama diubah karena kita ingin kita bersatu. Lalu, kita sendiri yg mengotori sila pertama yg diubah karena kesepakatan bersama? Cobalah memahami apa yg ingin dibahas dan korelasinya.

Kesimpulannya, gua pegel ngetik ini di hp yah. Kl gua ketik di word dan diprint dan sumbernya gua cantumkan dan gua pakai pendekatan literasi media, ini jadi nilai UAS gua. Tp gua geram!!! Kesimpulannya, carilah kesalahan untuk membuktikan kebenaran bukan untuk menghancurkan hal yang tidak sejalan, pahami masalahnya cari jalan keluarnya (tengah, ngga kiri-ngga kanan), jadilah manusia yang manusiawi, yang penting jangan bolos masuk kelas Mas Seno apa lagi dapet kesempatan persentasi sendirian selama 1 jam full dan debat2an walau keliatan begonya. Kerjakan essaymu, nak.

Comments

Popular posts from this blog

Marselli Sumarno (Wawancara Singkat)

Sedekit PR untuk FFI