Literasi Media Internet di Kalangan Mahasiswa
Smartphone merupakan salah satu
sarana komunikasi yang berevolusi karena perkembangan teknologi di era
globalisasi. Beberapa tahun lalu—sekitar 10 tahun lalu (2000-an)—manusia (khususnya
masyarakat di Indonesia) masih menggunakan mobile phone (telepon genggam) yang
hanya berfungsi sebagai
media komunikasi nirkabel. Smartphone sekarang (tahun
2011an) mengambil peran yang lebih besar dari telepon genggam di tahun 2000-an.
Faktor yang sangat dominan adalah perkembangan internet dan spesifikasi yang
semakin menyerupai PC (Personal Computer) atau laptop.
Kini hanya dalam satu genggaman,
masyarakat dapat merasakan manfaat yang luar biasa dengan memanfaatkan
fasilitas dalam smartphone mereka. Dengan antusiasme masyarakat
modern—masyarakat perkotaan—semakin besar juga peluang para investor smartphone
yang membuka lahan di Indonesia. Para investor menyadari bahwa daya beli
masyarakat Indonesia sangatlah besar dan beragam. Bukan hanya kalangan menengah
ke atas yang berharap untuk mendapatkan fasilitas yang mempuni. Masyarakat
menengah ke bawah pun mulai tergiur dengan iming-iming kemudahan teknologi ini
sebagai salah satu sarana peningkatkan kualitas hidupnya.
Sebagai contoh, penggunaan BBM (Blackberry
Messenger), Whatsapp, Line dan sebagainya, mempermudah masyarakat untuk mulai
menjajakan barang dagangan mereka menggunakan media online. Pedagang tidak
perlu repot dan membayar mahal sewa tempat seperti ruko dan sejenisnya. Mereka
hanya perlu bermodalkan smartphone seharga 1jutaan dan pulsa sekitar
Rp100.000,-/bulan. Mereka bisa mengalokasikan modal untuk barang-barang
dagangan lain ataupun memberikan promosi harga yang lebih murah. Mereka pun
tidak perlu repot untuk melakukan transaksi. Mereka bisa melakukan transaksi di
mana saja. Keuntungan ini juga dirasakan oleh pembeli. Di mana mereka dapat
dengan mudah menemukan barang yang mereka suka dengan harga yang relative lebih
murah hanya dengan 1 jari. Tidak perlu repot keliling mall untuk membandingkan
harga.
Hal itu hanya merupakan 1 dari
berbagai keuntungan penggunaan gadget. Jika masyarakat saja mampu menggunakan
gadget untuk berbisnis. Maka bukanlah hal yang mustahil untuk mengakses
berbagai informasi secara instan.
Seperti yang sudah saya bahas
sebelumnya, bahwa investor asing yang mengembangkan produk smartphone di
Indonesia memiliki pasar yang beragam untuk memenuhi hasrat setiap konsumen.
Bukan hanya kalangan menengah ke atas atau menengah ke bawah. Namun
pelajar—terutama mahasiswa yang memerlukan akses informasi untuk pengembangan
di dunia perkuliahannya—tentu saja menginginkan keuntungan dari penggunaan
smartphone ini.
Sebagian
besar alibi utama adalah untuk berkomunikasi dengan kelompoknya menggunakan
media sosial. Hal ini tentu saja dikarenakan semakin mudahnya pengaksesan
internet. Seperti yang dilansir Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia
(APJII) bersama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa data
jumlah pengakses internet di Indonesia mencapai 71,19 juta orang pada akhir
tahun 2013 dan terus menaikan grafiknya hingga saat ini. Hal ini dipastikan
karena antusiasme masyarakat terhadap fenomena smartphone. “Dunia dalam
genggaman” merupakan salah satu tagline yang sering kali saya dengar untuk
mendeskripsikan fenomena smartphone.
Tagline
tersebut seakan terngiang dalam pembentukan karakter manusia atau tepatnya
tagline tersebut dibuat atas dasar riset dalam memandang fenomena smartphone.
Seperti yang dilansir oleh MarkPlus Insight bahwa 95% masyarakat di Indonesia
mengakses internet menggunakan media ponsel. Perlu diketahui juga bahwa
setengah dari pengguna internet di Indonesia merupakan masyarakat berumur di
bawah 30 tahun.
Dapat
diasumsikan jika setengah dari pengguna internet merupakan kalangan muda. Bisa
juga dipastikan bahwa sebagian besar pengguna internet merupakan pekerja baru
maupun mahasiswa dan/atau pelajar. Hal ini berarti sebagian besar dari setangah
pengguna internet bisa dikategorikan belum mempunyai pengalaman yang cukup
dalam memilah informasi yang mereka akses secara bijaksana. Tidak semua
pengguna, karena saya pikir—beberapa bahkan sebagian besar—masyarakat usia 20an
sudah mampu memilah informasi secara kritis. Bahkan bisa lebih kritis dari usia
di atas 30an. Hal ini tentu saja atas dasar peranan literasi media.
Literasi media akan sangat berguna
bagi masyarakat yang mungkin belum cukup berpengalaman dalam memilah informasi.
Seperti yang kita ketahui bahwa literasi media merupakan wujud edukasi untuk
menganalisa secara kritis informasi-informasi yang kita terima. Menurut James
Porter dalam Rahayu (Media Literasi Agenda “Pendidikan” Nasional yang
Terabaikan) Volume 1 Nomor 2. Halaman 171-184, tiga tahap tersebut adalah
a. Explore,
yaitu keahlian untuk memilih memutuskan informasi yang dibutuhkan dari suatu
pesan.
b. Recognize
Symbols, keahlian untuk mengidentifikasi dan memilah simbol-simbol. Keahlian
ini terdiri dari dua macam yaitu Message Focused Skill dan Message Extending
Skill. Message focused skill merupakan keahlian menafsirkan makna pesan media
massa. Keahlian ini meliputi aspek: 1) Analysis, keahlian menjabarkan pesan ke
dalam elemenelemen yang bermakna dengan cara menggali lapisan-lapisan makna di
dalam pesan yang tersaji di media; 2) Compare/contrast, merupakan keahlian
untuk membuat klasifikasi pesan-pesan yang memiliki persamaan dan perbedaan; 3)
Evaluation, menunjukkan keahlian menilai elemen pesan dengan membandingkannya
dengan kriteria-kriteria tertentu; dan 4) Abstraction, merupakan keahlian untuk
menyusun sebuah deskripsi pesan media yang tepat yaitu singkat, jernih dan
akurat. Message extending skill merupakan keahlian menjelaskan dan menyimpulkan
pesan-pesan media massa yang diterima. Keahlian ini terdiri dari: 1) Deduction,
keahlian menggunakan prinsip-prinsip umum untuk menjelaskan hal-hal khusus; 2)
Induction, keahlian untuk menarik kesimpulan mengenai pola-pola umum melalui
pengamatan terhadap hal-hal khusus; dan 3) Synthesis, keahlian untuk menyusun
kembali elemen-elemen menjadi suatu struktur baru.
Beberapa pengguna menjelaskan
alasan mereka mengakses internet. Mulai dari masyarakat yang menggunakan
smartphone kurang dari 5 jam sampai masyarakat yang mengakses 24 jam full.
Benar-benar seperti dunia dalam genggaman. Beberapa mengkases berita dari
aplikasi secara sengaja maupun tidak sengaja. Ada yang hanya berseluncur dalam
dunia maya yang meliputi Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan sebagainya,
ada juga yang hanya menggunakan smartphone untuk menghubungi rekan, atau
sebagai alat yang mempermudah mendapatkan informasi untuk mendukung pekerjaannya.
Bagi sebagian besar
pengguna—terutama mahasiswa—tentu saja hal ini tidak lepas dari media hiburan. Dan
menurut beberapa data yang saya baca di internet maupun media cetak, makna
hiburan semakin bergeser. Mulanya hiburan benar-benar sesuatu hal yang menghibur
masyarakat. Seperti candaan yang konotatif. Seiring berkembangnya selera
masyarakat, hiburan ini semakin memperkuat maknanya secara denotatif. Sebagian
besar hiburan di sini bukan lagi hiburan yang menghibur. Tapi lebih ke hal-hal
kritis yang diselewengkan agar menghibur. Peranan kelompok-kelompok yang
berkepentingan juga melakukan oligarki sebagai “hiburan”.
Kembali lagi pada hegemoni yang
siklusnya ajaib dalam perkembangan media. Suatu kondisi yang selalu
berproses—selalu berubah—selalu kembali lagi memaksa kita untuk memilah secara
kritis. Bahkan mempertanyakan sesuai ideologi yang dianut setiap individu.
Khususnya mahasiswa yang sedang dalam proses pembenahan dan pemahaman menjadi
individu. Apakah informasi tersebut benar adanya? Apakah informasi tersebut
ditulis berdasarkan fakta riset atau opini? Apakah informasi tersebut berdampak
pada sistem yang selama ini dianut? Apakah informasi tersebut berguna untuk
pengakses? Kenapa kita mengakses? Kembali kekesadaran sesungguhnya. Benarkah
kita sadar akan informasi tersebut? Sadar secara sadar atau sadar secara
kepalsuan yang memaksa dibentuk agar tampak menyadarkan?
Comments
Post a Comment