Dialog Membawa Plot
A : Hei
hentikan kegilaan ini!
B : Aku tidak
melakukan apa-apa
A : Enak sekali
kau berbicara, tak punya pikiran yah?
B : Perkataanmu
kasar sekali, ini hal wajar, kau saja yang tak siap!
A : Aku? Tak
siap? Sebelum aku tumbang, aku selalu siap!
B : Kau mulai
gila, Anjani!
A : Memang dan
ini salahmu! Kau tahu? Aku lelah, lelah, lelah, aku butuh istirahat, aku ingin
memiliki kebahagiaanku kambali.
B : Tetapi kamu
yang memili hal ini, kan? Dengan alasan, ini keinginanmu, ini yang seharusnya
kamu lakukan, ini adalah kebahagiaanmu, iya kan?
A : Awalnya
kupikir begitu, tapi aku benar-benar kelelahan, aku sulit bernapas. Aku mulai
muak, bosan. Aku lebih dari budak, kupikir ini akan satu paket dengan
pengembangan diriku, ternyata, ini tak lebih dari tekanan.
B : Jangan
berpikir begitu, tidak ada yang salah, kegilaan ini merupakan pengambangan
dirimu. Kau kuat, aku yakin itu!
A : Bagaimana
mungkin? Aku sakit! Kau tahu? Terlalu banyak orang yang membutuhkanku, aku tahu
itu bagus tapi Chandra pergi, aku membutuhkan dia. Aku lelah, aku ingin pulang
saja. Aku ingin mati saja.
B : Tapi kau
sudah cukup kuat waktu itu, saat sebelum bertemu dengannya. Jangan melemah,
keluargamu adalah sumber kekuatan, sahabatmu juga.
A : Dulu
kupikir juga begitu, namun sekarang berubah. Mereka juga kelelahan, aku tak
ingin mengusik mereka. Mereka juga butuh aku dan aku harus siap. Aku hanya bisa
menangis di kamar tanpa suara. Menyetel music kencang-kencang. Senang? Iya, aku
senang.
B : Anjani, kau
mau kabur?
A : Tidak, aku
tahu bagaimana rasanya ditinggalkan. Aku tak ingin mengecewakan mereka.
B : Tapi kau
butuh waktu.
A : Tidak ada
yang bisa menggantikanku, orang-orang saling sibuk.
B : Aku tidak
bisa berkata apa-apa, bahkan aku sering meninggalkanmu. Aku minta maaf, tapi
kau yang membuat aku pergi.
A : Iya, aku
tahu. Aku tidak marah. Aku suka sendirian dalam kegelapan. Makanya aku sering
mematikan lampu dan mengusir Bayanganku.
Comments
Post a Comment