Filsafat: Plotinus

Metafisika
Doktrin sentral metafisika Plotinus adalah teorinya tentang Trinitas; ‘Yang Esa’, ‘Akal Budi’, dan
‘Jiwa’. Pada dasarnya, berpusat pada ‘Yang Baik’. Artinya, ‘Yang Esa’ itu tidak dapat dibicarakan, tidak dapat dipikirkan, dan tidak bisa diidentifikasikan, karena Ia bukan sesuatu atau bukan roh. Ia adalah asal dan tujuan dari segala sesuatu. Maka dalam realitas, seluruhnya dapat digerakan; gerak menurun (emanasi) dan gerak kembali (remanasi).
Manusia sebagai hasil turunya sang Jiwa ke materi, dapat memilih untuk menyerah pada dunia inderawi dengan resiko mangasingkan jiwanya. Menurut Plotinus, kehidupan moral harus melawan atau menolak daya tarik dunia inderawi. Dengan demikian orang dapat merawat sang jiwa serta membuatnya dapat kembali ke Yang Esa. Melalui tendensi diri, amnesia menjadi dirinya yang sejati. Plotinus menggamabrkan perjalanan kembali sang jiwa ke sumbernya sebagai ‘kebangkitan’ (awakeing) dan realitas yang dipahami dan dilihat adalah “keindahan menakjubkan yang melampaui semua realitas lainnya”.

Epistemologi
                Tiga tahapan pengetahuan;
a.       Pendapat (opinion)                : diperoleh melalui persepsi inderawi.
b.      Sains                                      : sarananya adalah dialektika.
c.       Iluminasi                               : sarananya adalah intuisi.

Estetika
Keindahan sesungguhnya berada di wilayah rohani. Untuk menangkap keindahan tersebut, dibutuhkan sebuah proses ‘pemurnian’ (purification), agar dapat mencapai bentuk-bentuk rohani di dalam Intelek. Dengan demikian orang dapat menyadari bahwa keindahan dunia inderawi adalah lebih inferior dan berpartisipasi dalam intelek. Sebaliknya, bentuk-bentuk rohani ini adalah keindahan yang harus dipahami dalam satu pandangan intelektual yang menyeluruh, di mana ‘yang melihat’ (the seer) dan ‘yang dilihat’ (the seen) menjadi identik.

Karena Plotinus menekankan pada penolakan terhadap dunia inderawi, maka akhirnya mengarah pada pembedaan antara ‘keindahan luar’ (outer beauty) benda-benda material dan ‘keindahan dalam’ (outer beauty) realitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan moral.

Comments

Popular posts from this blog

Marselli Sumarno (Wawancara Singkat)

Sedekit PR untuk FFI