Jerzy Grotowski

Kenapa “teater miskin” itu penting?
Dalam teater miskin, setiap aktor
mereka-reka topeng organiknya lewat otot-otot wajahnya dan dengan demikian tiap topeng memakai seringai-seringai wajah tertentu selama pementasan berlangsung. Sementara itu seluruh tubuhnya akn bergerak-gerak sesuai dengan tuntutan sekitarnya, topeng tetatp “terpasang” di dalam mengungkapkan keputusasaan, penderitaan, dan ketidak acuhan. Sang aktor seperti mengeluarkan pencangkokakn dari dalam tubuhnya. Bagian tubuh lainnya memberikan kendali bebas pada refleks-refleks yang berbeda pula dengan yang sering bertentangan, semantara lidahnya bukan saja menolak untuk mengeluarkan suara tetapi juga gestur dan cara menirunya.
                Sang aktor mempergunakan gestur, posisi dan irama yang diambil dari pantomik. And tiap aktor mempunyai siluet tetap yang tidak dapat diubah atau ditarik lagi. Hasilnya adalah dipersonalisasi tokoh-tokoh (watak-watak0. Bila ciri waktak individual itu dibuang maka para aktor akan menjadi stereotype-stereotipe dari jenis spesies.
                Semua unsur verbal dilakukan; celotehan-celotehan anak-anak hingga kekutipan oratoris yang paling canggih. Ada juga keluhan tidak jelas, suara binatang, lagu rakyat, lagu liturgis, dialek-dialek, deklamasi puisi yang semuanya ada di sana. Semua dicampur pada Menara Bible baru.
                Pencampuran unsur yang bertentangan tersebut digabungkan lagi dengan penyatuan bahasa, menghasilkan refleks-refleks yang sanagt elementer. Pelataran ungkapan (means of expression) yang diartikan secara “biologis” dihubungkan dengan komposisi yang konvensional. Acropolis kemanusiaan dipaksa lewat suatu saringan yang sanagt halus: susunannya (texture) muncul dengan lebih halus lagi (refind)

Apa hubungannya dengan film?
Dewasa ini, hiburan diambil ahli oleh film dan TV. Maka muncul pertanyaan apakah teater itu perlu? Tetapi banyak yang hanya menjawab: ya, memang diperlukan karena teater adalah seni yang selalu muda dan selalu diperlukan. Penjualan pertunjukan selalu dilakukan dengan skala yang besar-besaran. Dan sebaliknya belum ada yang merlakukan hal serupa untuk Film dan TV. Karena hal itu, jika gedung teater tutup, tentu orang akan lama untuk menyadarinya, terkecuali ketika gedung bioskop atau stasiun TV, maka orang-orang akan berkoar.

                Banayk pekerja teater yang menyadari hal tersebut tetapi mengajukan pemecahan yang salah: sejak gedung bioskop “mengalahkan” gedung teater dari sudut yang bersifat teknis, kenapa tidak membuat teater itu lebih teknikal lagi? Teater harus mengetahui keterbatasannya. Kalau tater tidak bisa semegah TV maka biarkan teater itu asketik. Kalau teater tidak bisa menarik secara teknis makan biarkan teknis membuang semua teknik luarnya. Jadi, tinggalkan dengan seorang “holy actor” pada teater miskin.

Comments

Popular posts from this blog

Marselli Sumarno (Wawancara Singkat)

Sedekit PR untuk FFI