Tokoh Sejarah Aliran Sastra


No
Aliran
Sejarah
Tokoh
A
Periode Sastra Modern



1
Balai Pustaka (Angkatan 20)
Nama badan yang didirikan oleh Pemerintah Belanda (1908). Merupakan penjelmaan dari Commissie voor De Volkslecyuur (Komisi Bacaan Rakyat), 14 April 1903

Perkembangan sastra dibidang prosa, puisi, dan drama. Peristiwa social, kehidupan adat-istiadat, agama, ataupun peristiwa kehidupan masyarakat.
Merari Siregar (Azab dan Sengsara, 1920)
Marah Roesli (Siti Nurbaya, 1922)
Muhammad Yamin (Tanah Air, 1922)
Nur Sutan Iskandar (Salah Pilih, 1028)
Tulis Sutan Sati (Tak Disangka, 1923)
Djamaluddin Adinegoro (Darah Muda, 1927)
2
Pujangga Baru (Angkatan 33)
Angkatan Tiga Puluh
(1933-1942, Masa Penjajahan Jepang)
Diambil dari sebuah nama majalah sastra yang terbit tahun 1933, “Pujangga Baroe”.

Mulai memancarkan jiwa yang dinamis, individualistis, dan tidak terikat dengan tradisi, serta seni berorientasi pada kepentingan masyarakat. Di samping itu, kebudayaan yang dianut adalah kebudayaan dinamis. Merupakan gabungan dari kebudayaan barat dan timur sehingga sifat kebudayaan Indonesia menjadi universal.
Dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, Sanusi Pane, dan Armijn Pane.
3
Angkatan 45 (Angkatan Chairil Anwar atau Angkatan Kemerdekaan)
Ciri khas; bebas, individualistis, universalistik, realistik, futuristik.

Karya sastra pada masa ini adalah Deru Campur Debu (kumpulan puisi, 1949), Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Luput (kumpulan puisi, 1949), Tiga Menguak Takdir (kumpulan puisi, 1950)
Puisi: Chairil Anwar
Prosa: Idrus (Corat-Coret di Bawah Tanah)
4
Angkatan 66
Muncul di tengah-tengah keadaan politik bangsa Indonesai yang sedang kacau. Kekacauan politik itu terjadi karena adanya terror PKI. Akibat kekacauan politik itu, membuat keadaan bangsa Indonesia akcau dalm bidang kesenian dan kesusastraan. Akibatnya kelompok lekra di bawah PKI bersaing dengan kelompok Manikebu yang memegang sendi-sendi kesenian, kedamaian, dan pembangunan bangsa dan Pancasila.

Ciri-ciri; tema protes social dan politik, bercorak realisme, mementingkan isi, dan memperhatikan nilai estetis.
Karya;
- Tirani (Kumpulan Puisi)
- Pahlawan Tak Dikenal (Kumpulan Puisi)
- Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan Puisi)
- Malam Jahanam (Drama)
- Kapai-Kapai (Drama)
- Perjalanan Penganten (Kisah)
- Seks Sastra Kita (Essai)
- Pagar kawat Berduri (Roman)
- Pelabuhan Hati (Roman)
- Pulang (Novel)
Dsb.
H. B. Jassin
Taufik Ismail
Toto Sudarto Bachtiar
W. S. Rendra
Motinggo Busye
Arifin C. Noer
Ajip Rosidi
Hartoyo Andang Jaya
Toha Mohtar
Titis Basino
B
Aliran dalam Karya Sastra


1
Realisme
Muncul abad ke-18, berkembang pada abad ke-19 dan awal abad ke-20
Melukiskan suatu keadaan atau kenyataan secara sesungguhnya. Aliran ini berusaha menggambarkan kehidupan dengan kejujuran yang sempurna dan objektif.

Analoginya, seperti cermin yang memantulkan realitas kehidupan sesungguhnya.

Kaum realis menentang romantisme yang dianggap cengeng dan berlebihan
Gustave Flaubert (1821-1819), Prancis
2
Impresionisme            
Berasal dari dunia seni lukis abad ke-19
Pelahiran kembali kesan-kesan yang dirasakan oleh pengarang terhdap sesuatu yang dilihat atau dirasakannya.

Menurut Suparman Natawidjaja, impresionisme adalah rentang alur cerita atau persajakan berdasarkan kesan benda yang dilihat, kemudian diolah dalam sukma dan keluar dalam bentuk baru yang mengandung arti konotatif dan benda yang dilihat tadi.
Prancis
Awalnya dikutip dari lukisan Claude Monet “Imprsesion, Sunrise”
3
Naturalisme
Berkembang pada akhir abad ke-19
Cenderung melukiskan kenyataan-kenyataan yang buruk, kejelekan-kejelekan atau kekurangn-kekurangan tetang keadaan masyarakatatau sifat manusia.

Tokoh-tokoh naturalism menguangkapkan aspek-aspek alam semesta yang bersifat fatalistis dan mekanis. H. B. Jassin mengatakan bahwa naturalism berdasarkan filsafat materialism adalah pikiran bahwa apa yang bisa diraba dengan pancaindera itulah kebenaran.

Pengarang naturalis dengan tenangnya menulis tentang skandal para penguasa atau siapapun, dengan bahasa yang bebas dan tajam. Pornografi, karya mereka jatuh menjadi picisan, bukan tabu bagi mereka. Biasanya, hal ini benar-benar mereka sadari, bahkan mereka pun sempat membanggakan naturalisme ini sebagai gaya mereka.
Honore de Balzac (La Comedie Humaine dan Le Pere)

F. Rahadi
Rendra
4
Ekspresionisme
Awal abad ke-20
Aliran yang lebih mengungkapkan perasaan dan gejolak jiwa pengarangnya. Kaum ekspresionis ingin mengekspresikan inti dari kenyataan yang terlihat.
Gustave Flaubert, Prancis
Franz Kafka, Ernest Toller, George Kaisar, dan Fritz von Unruth.
5
Romantisme
Mengutamakan perasaan. Romantisme timbul sebagai reaksi terhadap rasionalisme yang menganggap segala rahasia alam bisa diselidiki dan diterangkan oleh akal manusia.

Mementingkan penggunaan Bahasa yang indah, mengawang kea lam mimpi. Pengalaman romantisme adalah pengalaman yang hanya terjadi dalam angan-angan, seperti lamunan muda-mudi dengan kekasihnya.

Dalam pengolahan pengalaman yang dewasa, muncullah karya;
-          Romeo dan Yuliet (William Shakespeare)
-          Les Miserables (Victor Hugo)
-          Siti Nurbaya (Marah Rusli)
-          Hilanglah si Anak Hilang (Nasjah Djamin)
-          Dewi Rimba (Nur Sutan Iskandar)
Amir Hamzah
6
Simbolisme
Akhir abad ke-19
Menekankan pada symbol atau lambing dalam karya sastra, terutama puisi. Muncul sebagai reaksi terhadap realisme yang dianggap berlebih-lebihan.

Dasar pemikiran simbiolisme adalah dunia objektif yang fana ini bukanlah kenyataan sejati, melainkan hanya bayangan dari kebenaran yang tak kelihatan. Kaum simbolis yakin bahwa kebenaran abadi hanya dapat dirasakan, tetapi tidak dapat dilukiskan.

Banyak menggunakan kata-kata kias, lambang-lambang, kata-kata yang bermakna simbolik untuk melukiskan sesuatu. Sesungguhnya, semua fabel (misalnya “Serial Kancil”, “Hikayat Kalilah dan Daminah”)
Charles Baudelaire, Stephane Mallarme, Paul Verlaine, dan Arthur Rimbaud.

Maria Amin
Fariduddin Attar
Sutardji Q. B.
Y. B. Mangunwijaya
Ayip Rosidi
7
Absurdisme
Menonjolkan hal-hal yang di luar jalur logika, satu kehidupan dan bentang peristiwa imajinatif, dari alam bawah sadar. Kesan mengada-ada, sengaja menympang dari konvensi kehidupan dan pola penulisan, tetapi Nampak kuat dengan kejeniusan penulisnya.

absurdisme sudah memancar dan mendarah daging pada karya-karya Iwan Simatupang di dasawarsa 60 an, baik dalam dramanya “ Petang di Sebuah Taman “, dan “ RT 0 RW 0 “, cerpen-cerpennya yang terakit dalam “ Tegak Lurus dengan Langit “, maupun dalam empat novel monumentalnya : “ Kering “, “ Merahnya Merah “, “ Ziarah “, “ Koooong “. Ternyata, kehidupan yang serba mungkin dan dirias renda-renda absurditas ini banyak mengilhami lahirnya sastra absurd, sebagai bisa diciptakan oleh penyair Sutarji Calzoum Bachri dalam “ O  Amuk  Kapak “, “ Yudhistira Ardi Noegraha dalam “ Omong Kosong “, dan “ Sajak Sikat Gigi “, dsb.
Putu Wijaya, N. Riantiarno, Arifin C. Noer
8
Psikologisme
Mengutamakan pembahasan masalah kejiwaan dalam kaitannya dengan berbagai peristiwa dalam cerita. Dalam novel, suasana jiwa dan konflik batin para pelaku disoroti dengan tajam, detail dan mendalam.
Armijn Pane (Belenggu)
Achdiat Kartamiharja (Atheis)
N. H. Dini
Titie Said
La Rose
Ike Supomo
Marga T.
Ashadi Siregaar
Ahmad Tohari
9
Eksistensialisme
Liaw Yock,  dalam bukunya “Ikhtisar Kritik Sastra” menyatakan bahwa Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang kemudian menjdai landasan suatu aliran sastra.

manusia adalah apa yang diciptakannya sendiri. Manusia tidak ditakdirkan oleh Tuhan. Jika ia menolak memilih atau membiarkan dirinya dipengaruhi oleh kekuatan luar, itu adalah kesalahannya sendiri. Karena itu, karya sastra eksistensialisme sangat mementingkan perbuatan –termasuk perbuatan kemauan- sebagai unsur-unsur yang menentukan. Unsur-unsur dasar dari manusia seperti irrasionalitas, ketidak sadaran dan kebawahsadaran juga dipentingkan. Kehidupan dipandang sebagai sesuatu yang dinamis, yang terus mengalir sedangkan kehidupan manusia adalah rentetan saat-saat yang berurutan.

Fuad Hasan dalam bukunya “Berkenalan dengan Eksistensialisme” mencoba memprkenalkan suatu alam pikiran yang dewasa ini dikenal dengan nama eksistensialisme, dengan membutiri pendapat filsuf eksistensialis melalui hasil-hasil karya sastranya. Beberapa pikiran tokoh eksistensialisme itu dikutipkan berikut ini :
Manusia adalah pengambil keputusan dalam eksistensinya. Apapun keputusan yang diambilnya tak pernah ia mantap sempurna (Kiergaard).

Manusia akan terus menerus dihadapkan pada pilihan-pilihan (Kiergaard).

Dalam hidup ini yang kuatlah yang akan menang, maka kebajikan utama dalam kehidupan adalah kekuatan, apa yang baik, harus kuat; sebaliknya segala yang lemah adalah buruk dan salah (Niezseche).

Dalam pergaulan antara manusia maka yang harus ditumbuhkan dalam manusia-manusia agung yaitu manusia yang oleh kekuatan tak bisa mengatasi kumpulan manusia-manusia dalam massa (Nietzseche).
Sapardi Djokodamono
10
Filsafatisme
Mengedapankan hadirnya nilai-nilai filsafati, suatu pemikiran mendalam makna hidup, yang biasanya berangkat dari penghayatan personal. Para pengarang dan penyair yang karya-karyanya kental berkadar filsafat disebut pujangga. Tidak sedikit di antara mereka sekaligus filsuf.


R.A. Kartini
R. Ng. Ronggowarsito
Muhammad Iqbal
Kahlil Gibran
Frans Kafka
Iwan Simatupang
Subagio Sastrowardoyo
Putu Wijaya
Emha Ainun Najib
11
Spiritualisme
aliran yang mementingkan nilai-nilai ruhani, kehidupan batiniah, yang menuju kebajikan dan kesempurnaan. Spiritualisme berbeda dengan psikologisme, karena spiritualisme sudah mengacu ke moral luhur, sedang psikologisme membahas kehidupan dari segi jiwanya, lepas dari masalah atau tanpa keharusan penyampaian-penyampaian nilai-nilai dan akhlak mulia.

Sanjak-sanjak ruhani bisa merupakan bagian dari filsafatisme, di samping ia sendiri merupakan perwujudan spiritualisme.

Filsafatisme bisa berangkat dari pikiran, bisa pula diilhami wahyu atau mewujudkan renungan hati nurani. Contoh-contoh di bawah ini bisa dimasukkan ke dalam filsafatisme, tetapi juga benar untuk dimasukkan ke dalam spritualisme.
R.A. Kartini
R. Ng. Ronggowarsito
Muhammad Iqbal
Kahlil Gibran
Frans Kafka
Iwan Simatupang
Subagio Sastrowardoyo
Putu Wijaya
Emha Ainun Najib
12
Melankholisme
Aliran dengan karya-karya penuh warna muram, sendu, kehidupan yang getir dan tragis, sarat ratapan dan rintihan. Kisah cinta klasik, drama-drama dalam film India, cerita-cerita dengan tema kemiskinan, kemalangan hidup dan penderitaan termasuk melankholisme.

“ Di dalam Lembah Kehidupan “, “ Tenggelamnya Kapal Van der Wijk “, “ Di bawah Lindungan Ka’bah “ karya Hamka,    “ Buku Harian Seorang Penganggur “ dan cerpen-cerpen serta drama-drama Muhammad Ali, puisi-puisi Amir Hamzah dalam “ Buah Rindu “.
Leon Agusta
Rinto Harahap
Charles Hutagalung
Benny Panjaitan
A. Riyanto
13
Ironisme
Aliran yang mementingkan nada mengejek, kadang terus terang, kadang melalui sindiran-sindiran. Bisa juga, karya itu sebenarnya merupakan kritik tajam terhadap kondisi sosial atau perilaku tokoh tertentu.
Amal Hamzah
Idrus
Hamsad Rangkuti
F. Rahardi
14
Nihilisme
Aliran yang mengekspos peristiwa atau pemikiran-pemikiran, bisa saja sampai tingkat filsafat, tanpa landasan moral kemanusiaan, apalagi Keilahian. Cerita-cerita yang ateistik, komunistik, sekuleristik, chauvinistik bisa dimasukkan ke dalam fiksi nihilis. Ada memang, cerita yang menghadirkan paham-paham penafian Tuhan, pemasabodohan agama dan penghalalan segala cara untuk mencapai tujuan, misalnya “ Atheis “ nya Achdiat Kartamihardja, tetapi karena tenden pengarang tidak ke sana sebagai justru terlihat dalam sikap Achdiat yang mengkritik tokoh-tokoh ceritanya itu, maka karangan tersebut tidak bisa digolongkan ke dalam nihilisme.

15
Determinisme
Istilah determinisme berasal dari doktrin filsafat yang menyatakan bahwa setiap kejadian atau peristiwa itu ada penyebabnya. Dalam sastra, determinisme mencoba menggambarkan tokoh-tokoh cerita dikuasai oleh nasibnya, sehingga tokoh tersebut tidak sanggup dan tidak mampu lagi ke luar dari takdir yang telah jatuh pada dirinya.
Takdir yang dimaksudkan di sini bukanlah takdir dari Tuhan sesuai dengan konsepsi yang berlaku pada agama langit, melainkan takdir yang lebih tepat dikatakan sebagai akibat yang tak dapat dielakkan karena peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya, berupa faktor-faktor biologis, lingkungan dan sosial.
H.B. Jassin menyatakan bahwa nasib itu “ ditentukan oleh keadaan masyarakat sekitar, kemiskinan, penyakit, darah keturunan, dalam hubungan sebab akibat. Menurut ilmu keturunan, ayah atau ibu yang jahat akan menurunkan sifat-sifat jahatnya pada anaknya atau cucu-cucunya, biarpun keturunannya itu bermaksud baik, mau memperbaiki dirinya……….Apabila si orang tua jahat, maka itu bukan pula karena sudah ditakdirkan Tuhan demikian, tetapi karena keadaan masyarakat yang serba bobrok, orang hidup dalam kemiskinan yang sangat, pembagian harta kekayaan antara manusia tidak adil “.
Hamka
Sophokles
Linus Suryadi A. G.
Iwan Simatupang
Putu Wijaya
Arifin C. Noer
16
Idealisme
Mengungkapkan hal-hal yang ideal, pengarangnya penuh perasaan dan cita-cita. Mereka berpendapat, sastra punya peran untuk suatu perubahan sosial ke arah yang positif. Sastra bertenden, sebutan untuk karya-karya pengarang idealis, diharapkan mampu mengubah sikap hidup masyarakat atau pembaca dari yang kurang baik menjadi baik, dari yang statis menjadi dinamis, dari yang malas menjadi rajin, dan seterusnya.
R. A. Kartini
Sutan Takdir Alisjahbana
Muhammad Diponegoro
Muhammad Fudoli Zaini
17
Heroisme
Aliran yang mencuatkan nilai-nilai kepahlawanan, kecintaan terhadap tanah air dan figur teladan bangsa, serta semangat membela tanah air. “Bende Mataram“ karya Muhammad Yamin, “Diponegoro“ karya Chairil Anwar,  “Monginsidi“ karya Subagio Sastrowadojo, “Tanah Tumpah Darah“ karya Sitor Situmorang, “Stasiun Tugu“ karya  Taufik Ismail, “Ode bagi Proklamator“ karya  Leon Agusta, dan tentu saja lagu kebangsaan “Indonesia Raya“ dan lagu-lagu nasional “Ibu Kita Kartini“, “Satu Nusa Bangsa“, “Padamu Negeri“, “Rayuan Pulau Kelapa“, juga lagu-lagu “Sepasang Mata Bola“, “Melati Tapal Batas“,  “Pantang Mundur“, merupakan contoh-contoh heroisme ini. “Percikan Revolusi“ dan “Cerita-cerita dari Blora“ karya Pramudya serta cerpen-cerpen revolusi Trisno Yuwono “Di Medan Perang“ dan “Laki-laki dan Mesiu“ bisa dimasukkan ke sini. Heroisme pun kita temukan pada lagu-lagu tertentu ciptaan Leo Kristi dan Gombloh almarhum.
Muhammad Yamin
Cahiril Anwar
Subagio Sastrowadojo
Sitor Situmorang
Taufik Ismail
Leon Agusta
Leo Kristi
Gombloh
18
Religiusisme
Mementingkan nilai-nilai keagamaan atau renungan tentang Tuhan dan manusia di hadapan-Nya. Sastra religius dimiliki oleh setiap agama, juga oleh sastrawan yang punya penghayatan personal terhadap Tuhan.

“Aisyah Adinda Kita“ karya Taufik Ismail, “99 untuk Tuhanku“ karya Emha Ainun Najib, “Nyanyian Ibadah” karya Korrie Layun Rampan, cerpen “Di dalam Kereta Api Perjalanan Hidup“ karya Riyono Pratikto, novel “Rindu Ibu adalah Rinduku“ dan “Perempuan-perempuan Impian“ karya Motenggo Boesye, “Wirid“ karya Ikranegara, novel “Ibuku Sayang“ karya Teguh Esha
Rabindranath Tagore
Y. E. Tatengkeng
Rendra
Taufik Ismail
Emha Ainun Najib
Korrie Layun Rampan
Riyono Pratikto
Motenggo Boesye
Ikarnegara
Teguh Esha
19
Transendentalisme
Mengetengahkan nilai-nilai transendental, renungan-renungan hidup yang mendalam, yang metafisis (di atas hal-hal yang fisik/nampak). Kalau sastra sufi merupakan katarsisme, maka sastra aliran ini kebanyakan bersifat kontemplatif. Sanjak-sanjak Afrizal Malna dalam “Abad yang Berlari”,

“Isyarat“ dan “Suluk Awang-uwung“ karya Kuntowijoyo, cerpen-cerpen Danarto dan Hamid Jabbar, serta Ahmad Tohari, sanjak-sanjak Umbu Langgu Peranggi dan Goenawan Mohamad, juga “Sejuta Milyar Satu“ karya Eka Budianta
Afrizal Malna
Kuntowijoyo
Danarto
Hamid Jabbar
Ahmad Tohari
Umbu Langgu Peranggi
Goenawan Mohamad
Eka Budianta
20
Komedialisme
Penuh suasana ceria, kocak, menganggap hidup penuh optimisme dan rasa humor, berbeda dengan determinisme dan melankolisme yang pessimistis. Tetapi ia tidak identik dengan lawak. Gaya bahasa Y.B. Mangunwijaya dalam “Puntung-puntung Rara Mendut“ mengacu ke sini. Drama “Tuan Kondektur“, “Pinangan“, “Orang-orang Kasar“ karya  Anton Chekov, “Kejarlah Daku kau Kutangkap“ karya Asrul Sani, novel “Dari Hari ke Hari“ karya Mahbub Junaidi, “Arjuna Mencari Cinta“ dan “Yudhistira Duda“ oleh Yudhistira Ardi Noegraha.
Mahbub Junaidi
Slamet Suseno


Comments

Popular posts from this blog

Marselli Sumarno (Wawancara Singkat)

Sedekit PR untuk FFI