Hujan Bulan Juni (Resensi Aliran Sastra)
Sinopsis:
Novel ini
bercerita tentang Sarwono, seorang Dosen Antropolog dari UI yang menjalani
hubungan dengan Pingkan, seorang Dosen Sastra Jepang. Mereka berdua berasal
dari Solo. Namun, Pingkan merupakan
keturunan Menado. Pingkan memiliki Ayah
Menado dan Ibu dari Makasar.
Awalnya,
Sarwono merupakan teman dari kakak Pingkan, Toar. Sarwono sering berkunjung ke
rumah Toar sehingga jatuh hati kepada adiknya. Begitu juga Pingkan, menurut
Pingkan, Sarwono adalah pria yang santun dan cerdas.
Sebuah
kebetulan, perginya Sarwono ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan juga merupakan
pilihan Pingkan untuk melanjutkan pendidikan. Mereka bertemu dan menjalani
hubungan di Jakarta. Seakan, semuanya tampak lancar dan baik-baik saja.
Setidaknya jika mereka tidak cukup egois.
Sarwono yang
merupakan orang Solo (Islam) tulen dan Pingkan yang Menado (Kristen) harus
menjalani perdebatan dalam diri mereka. Di sisi lain, mereka saling mencintai
dan berusaha terbuka. Namun, saat mereka berusaha terbuka. Tante Pingkan dari
Mendao, mencoba menjodohkan Pingkan dengan seornag lelaki Mendao yang sudah lama
naksir dengan Pingkan. Hal ini membuat Sarwono kesal.
Kepergian
Pingkan ke Jepang juga membuat Sarwono gelisah. Sejatinya, Pingkan akrab dengan
Katsuo. Dulu, Katsuo pernah melakukan pertukaran pelajar ke Indonesia. Pingkan
pergi ke Jepang juga karena panggilan tugas dari Fakultas Sastra Jepang.
Sarwono di
Indonesia dengan setia menunggu Pingkan. Walau terkadang, teman-teman Sarwono
mencoba menjodohkannya dengan salah satu rekan kerja wanitanya. Sarwono
menunggu Pingkan dengan mengerjakan kesibukannya. Tetapi, selalu ada ruang
untuk Pingkan di hatinya. Oleh karena itu, ia menulis 3 bait puisi yang ia
harap dapat di baca oleh Pingkan. Sebelum akhirnya sakit yang diderita Sarwono
semakin parah.
Menelaah unsur Intrinsik
a. Tema minor
Dua orang
yang sedang melanjutkan studinya di Jakarta
b. Protagonis
Sarwono : Lelaki Solo (Islam)
Protagonis Pingkan : Wanita keturunan Menado (Kristen)
Refleksi Toar : Kakak lelaki Pingkan yang setuju
dengan hubungan adik dan temannya
Refleksi : Ibu Pingkan yang berusaha menjodohkan
Pingkan dengan Sarwono
Antagonis : Tante Pingkan (karena tidak ingin
Pingkan menjadi Orang Jawa-Islam)
c. Latar tempat : UI,
Solo, Menado, Yogya, Jepang
Waktu : sekitar
2014-2015an
Sejarah : masa kini 2014-2015an
Suasana :
-
gelisah karena harus menunggu akhir kisah mereka
-
bahagia karena mereka mampu mencintai dengan sederhana
-
menyebalkan karena selalu ada hal yang mencoba
memisahkan mereka
-
mengharukan karena mereka mampu saling berjuang untuk
cinta dan masa depannya.
d. Alur : Campuran,
karena pada awal novel, diceritakan Sarwono yang sedang naik becak untuk
membeli Koran yang berisi puisinya
Plot :
-
Perkenalan siapa Sarwono dan apa yang dilakukannya
-
Konflik ketika Pingkan harus pergi ke Jepang
-
Klimaks ketika sakit Sarwono semakin parah, tante
Pingkan menjodohkannya
-
Antiklimaks karena Pingkan tetap setia pada Sarwono
-
Penyelesaian ketika Sarwono terbaring di rumah sakit
dan Pingkan kembali dari Jepang, seketika membaca puisi Sarwono.
e. Amanat : Cinta
itu kesederhanaan yang rumit, semudah berkomunikasi dengan Whatsapp, sesulit
mengejar mimpi dan cita-cita, semenyebalkan setiap hambatan. Cinta dan kasih
sayang hanya perlu saling menerima, mendukung, memahami, saling terbuka, dan
saling memberi penjelasan. Cinta dua orang insan harus mendapat restu dari
orang tua, jika kamu yakin dengan cintamu, kenalkanlah kepada orang tuamu,
karena mereka ingin memastikan hubungan kalian, sekuat apa kalian mampu saling
menjaga, setia, dan mempertanggungjawabkannya.
f.
Gaya penulisan :
penulisan masa kini, masa 2014-2015an.
Menentukan aliran :
Idealisme (romantisme) adalah karya
yang mengutamakan perasaan, sehingga objek yang dikemukakan tidak lagi asli,
tetapi telah ditambhakan unsur perasaan si pengarang.
Materialisme (impresionisme) adalah
aliran kesusastraan yang memusatkan perhatian pada apa yang terjadi dalam batin
tokoh utama. Lebih mengutamakan memberikan pengaruh kepada perasaan daripada
kenyataan atau keadaan sebenarnya.
Menentukan pandangan karya jika difilmkan :
Isu
perbedaan agama dalam percintaan selalu menjadi topik yang tak henti diunggah.
Entah karena faktor nilai-niali keagamaan, undang-undang pernikahan, dan
sebagainya. Ini selalu menjadi topik ringan yang sulit untuk diakhiri.
Bagaimana perasaan harus beradaptasi dengan kebudayaan. Semakin rumit jika
keluarga tidak mengizinkan atau menentang perbedaan yang ada. Yang pada
dasarnya, keluarga tidak mau kehilangan sang anak, sang anak yang mencintai
keluarganya, juga perasaan yang saling mencengkram.
Sudah cukup
banyak film yang mengangkat isu perbedaan agama. Indonesia merupakan Negara
multikultural yang seharusnya masalah ini bukanlah hal yang ruwet. Tapi,
seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Faktor tradisi keluarga dan hukum
perundang-undangan yang seakan mengecam perasaan tulus ini. Jika, novel ini
diangkat menjadi film, saya rasa akan memiliki cukup banyak peminat dengan
ending yang sulit ditebak.
Pemilihan
tema yang dekat dengan kehidupan tentang cinta beda budaya. Namun, novel ini
memberikan sisi yang cerdas. Di sini, kedua tokoh tetap fokus pada cita-citanya,
kedua tokoh juga fokus dengan keluarganya. Yang tentunya, mereka tidak mampu
saling membohongi diri. Mereka tetap menghormati sahabat-sahabatnya
masing-masing.
Latar tempat
dan waktu juga sangat kekinian. Gaya bahasa dan pemilihan setting mudah
diterima oleh orang-orang yang baru ingin mengenal sastra. Sayangnya, saya
sedikit pesimis jika karya ini diangkat menjadi film pada waktu ini. Seperti
film CIN(T)A yang sebenernya sangat mempermainkan perasaan penonton, tidak
mendapat respon yang cukup baik. Entah karena terlalu sederhana atau karena
pada dasarnya, penonton menengah ke bawah lebih menyukai film-film percintaan
yang tidak realistis. Sedangkan, mungkin penonton menengah ke atas di Indonesia
jarang ingin ikut campur masalah cinta-cintaan wanita dan pria. Mereka tidak
tertarik merasakan kedalaman suatu cerita yang sangat sederhana. Kesederhanaan
adalah kunci suatu pandangan tentang kekayaan. Karena sederhana adalah
kaekayaan itu sendiri.
Comments
Post a Comment