The Little Prince (2015), Mark Osborne

Berawal dari ketidak sengajaan kenal sama, (akh sudahlah, dia payah), tapi dia maksa-maksa gue nonton ini dan dia jelek-jelekin selera gue. Jirrr..

Awalnya gua meninggalkan dunia animasi yang membosankan, maklum aja, eaktu itu nggak ounya referansi yang bagus, gara-gara ini jadi kepikiran deh untuk ikutin terus si pembuatnya. Ceritanya sesederhana menggapai cita-cita (nggak yah?), sesederhana menggapai cinta deh kalau gitu (nggak juga yah?), ceritanya tentang anak kecil yang menggapai cita-cita dan menemukan cinta, namun sahabatlah yang menguatkan dia, sampai pada akhirnya, kamulah yang bertanggung jawab atas kebahagiaanmu sendiri.

Gua agak gak yakin sih aklau bocah bakalan ngerti nonton film kaya gini. Gua aja masih nebak-nebak. Untuk analoginya sih ngak susah, kaya bunga yang melambangkan wanita, rubah yang melambangkan sahabat, gitu-gitu, cuma yakin ini untuk anak kecil?

Kalau dari gambarnya, aku akui aku suka, karena serasa kamu bermimpi, maksudnya, warna dan bentuk di sini nggak yang ekstrim ngebingungin, dan bikin lo masuk ke dalam dunianya. Ini film dewasa. Mangembalikanmu manjadi seorang anak kecil. Iya, gue pengen kecil aja.

Apa yang gua dapat dari film ini?
1. Gua berjanji akan menjadi penggemar animasi, karena gua liat perjuangan adik gue tuh susah.
2. Banyak banget yang bisa lo dapat di sini, yah tentang itu, cita-cita, cinta, persahabatan dan diri sendiri, makanya nonton.


Comments

Popular posts from this blog

Marselli Sumarno (Wawancara Singkat)

Sedekit PR untuk FFI