Analisis Skenario; Lion (2016), Garth Davis
Film Lion merupakan sebuah film fiksi
yang berasal dari kisah nyata yang sukses disutradarai oleh Garth Davis. Film
ini berasal dari kisah nyata dari seorang laki-laki bernama Saroo Brierly.
Rilis pada tahun 2016 dan menjadi salah satu film yang wajib ditonton oleh sebagian
besar penonton film Hollywood. Selain mendapatkan beberapa penghargaan
bergengsi. Lion berhasil menyajikan cerita yang ramah, sederhana, namun tetap
kuat.
Lion berkisah tenatng seorang anak kecil
bernama Sarro yang tinggal dengan Ibu, Kakak, dan adik perempuan. Ibu Sarro
merupakan seorang pekerja pencari batu. Mereka tinggal di sebuah kota kecil
bernama Ganesh Talai, di pedalaman India. Pada suatu hari, Kakak saroo, Guddu,
berniat untuk melakukan suatu pekerjaan. Dia memerintahkan Saroo agar tidak
ikut membantunya bekerja. Tetapi Saroo memaksa dengan menunjukan bahwa dia
cukup kuat untuk membantu Kakkaknya menyelesaikan pekerjaan.
Guddu akhirnya luluh dengan tingkah
Sarro dan memutuskan untuk mengajaknya. Waktu semakin malam ketika kereta yang
Guddu dan Saroo tumpangi sampai di sebuah stasiun. Waktu yang cukup larut dan
jarak yang cukup jauh membuat Sarro kelelahan dan mengantuk. Guddu membangunkan
Saroo yang tertidur di peron, tetapi Sarro tetap meneruskan tidurnya. Akhirnya Guddu
meninggalkan Saroo di peron tersebut. Sebeum meninggalkan Saroo, Guddu
memastikan agar Sarro tidak meninggalkan peron tempat ia tertidur.
Pada saat Saroo terbangun dari
tidurnya, Saroo mencari kakakknya yang tak kunjung dia temui. Saroo mencari
mulai dari perton-peron hingga ke dalam gerbong kereta. Saroo merasa sedih
karena tidak dapat menemukan Guddu. Saroo yang kelelahan akhirnya tertidur, tak
lama tenggelam dalam tidurnya, Saroo menyadari bahwa kereta itu bergerak. Saroo
terjebak di kereta itu dan menuju sebuah kota di India yang asing baginya.
Saroo turun dari kereta dan terus
berusaha mencari pertolongan untuk pulang dengan menyebutkan nama kota tempat
tiggalnya. Sangat disayangkan, pada sebuah stasiun yang sanagt padat seperti
itu, tidak ada seorang pun yang peduli dengan keadaan Saroo.
Saroo mulai pasrah dan luntang-lantung
tidak tahu bagaimana caranya agar dia bisa kembali kekotanya. Saro melihat
sekumpuan tunawisma dan memutuskan untuk tidur bersama para tunawisma itu. Tak
lama kemudian, ara tunawisma dan Saroo dikejar oleh pemimpin gelandangan. Karena
panik dan tidak tahu keberadaannya, Saroo menyasar ke sebuah perkampungan kumuh
dan bertemu perempuan cantik yang mengajaknya ke apartemen kumuh miliknya.
Awalnya, Saroo berpikir bahwa peremuan
ini adalah orang baik yang dapat menolongnya. Ternyata, ia hendak menjual Saroo
kepada seorang pria. Mengetahui hal itu, Saro kabur dari apaertemen kumuh dan
memutuskan untuk menjadi pemulng di sebuah kota entah berantah. Saat asyik
memulung, Saroo bertemu dengan seorang pria yang sedang makan di sebuah
restaurant. Pria itu membawa Saroo ke kantor polisi untuk melakukan pemeriksaan
orang hilang. Dari kantor polisi, Saroo dibawa ke sebuah tempat penampungan untuk
diberi makan dan diajari beberapa pelajaran.
Seorang wanita di penampungan itu mengabari
Saroo bahawa ia tidak dapat menemukan keluarganya dan mengatakan bahwa ada sebuah
keluarga dari Australia yang ingin menampungnya. Saroo yang pasrah akhirnya
mengiyakan permintaan tersebut.
Sarso diterima sangat baik di keluarga
itu. Saroo diajari cara mengendari kapal, memancing, dan berbagai hal. Pada
tahun berikutnya, keluarga itu kembali mengangkat seorang anak dari panti yang
sama dengan Saroo – seorang anak yang nakal karena gila. Anak nakal itu selalu
menyusahkan kedua orang tua angkat Saroo. Tidak seperti Saroo yang pintar
hingga bisa bersekolah dan melanjutkan kuliah di sebuah universitas ternama.
Saat masuk universitas, Saroo bertemu
dengan seorang gadis dan jatuh cinta.Gadis itu membawa Saroo ke rumah temannya
yang merayakan kebudaayaan India. Saroo menemukan kue yang mengingatan masa
kecilnya di India. Ayangan itu membuat Saroo berkehendak menemui ibu kandungnya
di India. Teman-teman Saroo memberi saran yang akhirnya diikuti oleh Saroo
hingga membuatnya menjadi cukup stres.
Keajaiban terjadi dan Saroo membulatkan
tekad untuk datang ke India. Setibanya di kota kecil tempat dulu ia tinggal, ia
menemukan bahwa rumah masa kecilnya sudah menjadi kandang kambing. Saroo hampis
putus asa, beruntung seorang tetangga membantu Saroo agar berhasil bertemu dengan
ibu dan adiknya. Guddu ternyata telah meninggal ketika meninggalkan Saro di
peron stasiun pada malam itu.
Karakterisasi
Dalam film ini karakter protaginis
adalah Saroo. Seorang anak berusia 5 tahun yang tinggal di sebuah kota kecil di
India. Dia memiliki seorang ibu yang bekerja sebagai tukang batu. Bisa kita
pahami bahwa karakter protagonist yang dibangun adalah seorang anak tukang batu
– anak dari keluarga miskin – ditambah dia tidak memiliki sosok ayah. Ibunya
yang pekerja keras membuat Saroo yang sebagai laki-laki harus mampu lebih kuat
dari ibu dan adik perempuannya. Saroo bersifat sedemikian karena melihat sosok
kakaknya. Tidak adanya peran ayah dalam keluarga membuat Guddu menjadi
satu-satunya panutan Saroo sebagai sosok pahlawan dan kawan yang memahami
Saroo. Saroo juga digambarkan sebagai sosok yang cerdas, dapat memecahkan
masalah karena sering menemukan masalah dala kehidupan sehari-hari. Sebagai
anak yang tinggal di kota terpencil, tentunya tidak banyak hal yang dapat Saroo
ketahui, apa lagi usianya yang baru 5 tahun, menampilkan kesan polos pada diri
protagonis.
Film ini memiliki banyak hambatan bagi
si protagonist, sehingga sedikit sulit untuk menemukan siapakah sesungguhnya
antagonis dari film ini. Setelah saya perhatikan, karakter antagonis dalam film
ini adalah orang-orang disekeliling Saroo yang dia cintai, atau bisa juga saya
katakana bahwa karakter antagonisnya adalah cinta (tanggung jawab) yang baru.
Cinta di sini adalah cinta Saroo kepada orang tua barunya, Saroo mendapatkan
sedikit kesulitan untuk meninggalkan orang tua barunya, perasaan cinta dan
tanggung jawab Saroo menjadi penghambat Saroo utnuk bertemu dengan ibu
kandungnya, hingga akhirnya Saroo dapat mengutarakan perasaannya kepada sang
ibu untuk menemui ibu kandungnya. Karakter antagonis di sini, dibuat semakin
kuat karena kehadiaran kakak angkat Saroo yang gila dan menyusahkan, hal yang
semakin membebankan Saroo untuk mengatakan keinginannya kepada orang tua
angkatnya.
Karakter di sini juga semakin beragam
dengan kehadiran karakter romance dan
karakter refleksi. Sudah sangat jelas dan sangat klise bahwa karakter romance di sini merupakan seorang gadis
cantik nan pintar, ditambah gadis Australia ini menyukai budaya India. Hal ini
yang menjadi alasan kuat bagi protagonist untuk menyukai karkater romance-nya.
Beruntung bahwa kehadiran karakter
refleksi memberikan alur yang mudah untuk turning
poin awal film ini. Karakter refleksi di sini tentu saja teman-teman yang
menyelenggarakan kebudayaan India. Bukan salah seorang dari mereka, namun semua
teman-temannya memiliki posisi sebagai karakter refleksi. Karakter refleksi
diketahui merupakan karakter yang sama dengan protagonist, atau karkater yang
bijak, atau karakter yang mampu dengan baik memahami karkater protagonist.
Maka, dengan adanya diskusi yang melibatkan seluruh teman-teman yang memberi
saran dan menyukai kebudayaan India, karkater refleksi adlaah mereka semua.
Seperti pada film kebanyakan yang
memberikan porsi pada karakter sekunder untuk kebutuhan realitas. Lion dengan
begitu apik tidak au ketinggalan memanfaatkan karkater sekunder itu. Mulai dari
pengendara motor yang menabraknya, pria yang memarahinya, pria yang
mengejarnya, perempuan yang pura-pura baik, dan sebagainya hingga tetangga yang
membantunya menemukan sang ibu kandung.
Suara:
Efek suara pada film memberikan
kebutuhan realita yang lebih besar. Selain itu keberadaan efek suara juga bisa
membangun karakterisasi, membangun emosi, mensuplay informasi, hingga
memberikan penekanan pada bagian-bagian tertentu.
Untuk film Lion, saya sudah membahas
karakterisasi, jadi ada baiknya saya tidak terlalu berfokus pada efek suara
yang membangun karakterisasi, terkecuali ketika saya membahas saudara angkat
Saroo di keluarga Australia. Beberapa kali saudara angkat Saroo menamakan emosi
yang menjadi karakternya, dia emosi sehingga napasnya terengah-engah. Dari
sini, saya sebagai penonton dapat memahami apa yang dirasakan dan betapa
besarnya emosi dalam diri saudara angkat Saroo walaupun kamera tidak
memperlihatkan ekspresi wajahnya ketika berinteraksi dengan orang lain.
Kebutuhan realita ada di banyak bagian
di film ini, seperti ketika kereta bergerak saat Saroo sedang tidur di dalam
gerbongnya, suara batu ketika Saroo berjalan menemui ibunya, suara motor yang
menghantam tubuh Saroo dan sebagainya. Di sisi lain, keberadaan realita efek
suara juga mensuplay informasi tentang aktifitas atau aksi yang sedang terjadi
dalam film Lion.
Musik:
Seperti
kebanyakan film India pada umumnya yang menggunakan music untuk mengekspresikan
perasaan pada aksi. Music yang juga dapat memberikan informasi pada film,
digunakan dengan baik pada film ini. Music pada film ini telah menjadi tanda
atau tema film Lion. Music India dimulai dari langah kaki ketika Saroo
mengikuti sang perempuan. Dengan halusnya, langkah kaki menjadi beat untuk
masuk pada aksi dan pengekspresian rasa senang. Pemilihan music ala India pada
scene ini memberikan informasi lengkap tentang apa yang akan terjadi
setelahnya. Seperti halnya saya yang mulai mengidentifikasi bahwa sang
perempuan menyukai music atau tradisi India. Benar saja, si perempuan ini
mengajak Saroo ke rumah yang menyuguhkan nuansa India.
Dialog:
Dialog
adalah percakapan lisan antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Dialog
yang telah dipergunakan secara luas sejak unsur suara berhasil
disinkronisasikan dengan unsur gambar tentu akan memberikan tambahan informasi
dan koneksi antara karakter yang saling berinteraksi. Seperti pada anyak film,
dialog yang digunakan pada film Lion berfungsi untuk menyampaikan informasi,
terjadi pada dialog ketika Saroo memanggil ibunya, penggunaan kata Ibu
merupakan informasi singkat yang sangat penting dan lebih padat untuk diberikan
kepada penonton dari pada harus menyulam beberapa adegan yang membuat penonton
bisa menerima – mempercayai – bahwa dia adalah ibu dari Saroo.
Setiap
karakter memiliki ciri khasnya masing-masing, di sini, penggunaan dialog juga
sangat berperan penting. Ketika muncul dialog orang-orang di stasiun di mana
Saroo tersasar itu berbeda dengan dialog di tempat tinggal Saroo. Ini jelas
menunjukan bahwa Saroo benar-benar berada di tempat asing.
Pengekspresian
emosi juga bisa dengan mudah dilontarkan melalui dialog. Pada film Lion, kita
bisa mendengar perkataan ibu angkat Saroo yang merasa kecewa terhadap saudara
angkat Saroo di meja makan. Sang ibu menekan beberapa kata untuk mempertegas
emosi yang sedang ia tahan.
Fungsi
lain dialog adalah menggerakan plot itu sendiri. Saya menyukai part pada bagian
ini, ketika fungsi dialog sepenuhnya menjadi penggerak. Scene ketika diadakan
pesta dan perempuan mencoba mengajak Saroo hingga memaksa untuk menciumnya,
namun Saroo menolak. Saroo mengatakan bahwa mereka bisa melakukannya di rumah.
Sementara sang erempuan menjelaskan bahwa mereka sudah tidak pernah melakukan
hal itu. Jelas-jelas menunjukan bahwa Saroo telah lama hilang dari pikiran
sadarnya, karena Saroo ingin segera pulang ke India.
Dialog di sini kebanyakan menggunakan tipe
non-formal karena disesuaikan dengan kenuthuhan cerita terkecuali pada saat
protagonist berada di univesitas dan dosen sedang berbicara. Dialog itipe ini
jiga dipilih karena karakterisasi dan unsur film sudah tampak normal saja.
Sehingga dialog bisa dibebaskan dengan tidak formal tanpa menghapus esensi dari
kebutuhan pengadeganan.
Penonton:
Identifikasi yang dijelaskan pada film
Lion cukup mudah namun tidak membutuhkan waktu lama untuk disadari. Seperti
perempuan baik yang ternyata jahat. Setiap karakter mampu mengidentifikasi
karakter lain dengan sikap dan caranya yang kuat namun tetap lembut, sehingga
penonton tidak perlu repot-repot atau kaget terhadap perubahan karakter yang
teridentifikasi.
Antisipasi yang dilakukan oleh
penonton ketika menonton film ini juga tidak dibuat untuk terlalu lama
menunggu. Penuis tidak menjejalkan struktur antisipasi yang bertele-tele.
Penonton yang ragu dan baru bersiap untuk mengantisipasi dengan mudah
mendapatkan jawaban tanpa merasa kecewa dengan ekspektasinya.
Surprise pada film ini justru sangat
terasa ketika orang tua angkat Saroo mengangkat anak kedua. Saya piker, ada
sesuatu yang terjadi atau akan terjadi dengan Saroo. Ternyata, anak yang
diangkat merupakan anak gila dari panti. Hal ini membuat saya melupakan ekspektasi
pertama saya dan tertarik mengikuti alur selanjutnya.
Struktur Dramatik:
Seperti pada film umumya yang
mengunakan struktur Hollywood Classic, film ini juga menerapkan struktur itu,
yaitu lebih mudah ditelaah dengan menggunakan nama “struktur tiga babak”. Struktur tiga babak terdiri dari Beginning, Middle, dan End. Melihat dari awal film ini – turning point awal – ditandai dengan
pengenalan dan kesukaran yang terjadi pada Saroo. Turning point kedua adalah ketika Saroo berhasil menemukan tempat tinggal
lamanya di Google Maps. Klimaks terjadi ketika Saroo sampai di rumahnya dan
rumahnay menjadi kendang kambing sehingga dia bertanya dengan sang tetangga dan
bertemu ibunya. Antiklimaks terjadi ketika setelah itu, Saroo memperkenalkan
ibu angakatnya dengan ibu kandungnya dan berjanji untuk mencintai keduanya
sebagai ibu.
Namun, strktur tiga babak tidaklah
semudah itu. Ada begitu banyak tension –
release – momentum yang dapat dimainkan sehingga struktur tiga babak itu terus
menanjak tanpa membuat penonton dengan terlalu mudah mengidentifikasi
strukturnya. Contoh tension pada film ini adalah ketika Saroo berusaha membujuk
Guddu agar diajak, release pada saat Guddu mengiyakan, dan momentum besar
terjadi saat Saroo terpisah dari Guddu. Jika memperhatikan dengan baik, tension – release – momentum dalam
film ini bisa saja tidak terus menanjak dari scene satu ke scene selanjutnya,
contohnya ketika scene Saroo kabur dari wanita di apartemen dan menjadi
gelandangan. Kejadian yang terjadi di
apartemen terasa sedikit lebih mengerikan dari pada menjadi gelandangan.
Hebatnya, penulis film ini berhasil secara konsisten menaikan ketegangan pada
struktur secara garis besar.

Comments
Post a Comment