La Grande Bellezza: 7 Kecantikan Atma
Abstrak:
Film disebut-sebut sebagai seni ke-7
atau menduduki urutan ke-7 dalam seni yang diakui di dunia. Setiap film
memiliki setiap unsur dari ketujuh seni yang diakui. Dalm seni-seni yang indah,
film memiliki atma tersendiri yang tidak kalah cantik dari seni-seni yang
murni. The Great Beauty merupakan
film yang akan saya bahas secara sederhana
untuk membuktikan keajaiban dari ketujuh atma seni.
Keyword:
tari, musik, lukis, teater, arsitektur, sastra
Pendahuluan:
The Great Beauty atau pada judul
aslinya bernama La Grade Bellezza merupakan film karya sutradara dari Itali
bernama Paolo Sorrentino. Paolo juga merupakan penulis dan pencetuh ide dari
film yang tayang pada tanggal 21 Mei 2013. Film ini memiliki 2 versi, yaitu
yang berdurasi 142 menit dan 182 menit untuk durasi extended.
Festival Film Cannes merupakan
tempat Perdana untuk pemutaran film ini. Film yang bercerita tentang kehidupan
mewah seorang penulis novel laki-laki bernama Jep Gambardella. Jep merayakan
ulang tahunnya yang ke 65 secara mewah samapi suatu saat ia tersadar bahwa
kehidupannya masih terrasa hampa dan suram dengan kemewahan yang ia miliki.
Secara ide, menurut saya sangat
sederhana, bahkan nyatanya saya meringkas synopsis film ini dengan cukup kejam. Dari keseluruhan cerita, tata
kamera, pencahayaan, unsur artistic, penyuntingan gambar, dan suara sangat
nyaman untuk penonton. Namun secara garis besar, film ini hanya membahas
seorang laki-laki tua yang memanggil kehiduan masa lalunya. Kehidupan masa lalu
yang dia yakini adalah sebuah kesalahan yang ingin dia balas. Pada akhirnya dia
hanya memerukan keikhlasan dan trik dalam menjalani hidup untuk menulis
novelnya.
Pembahasan:
Dalam pembahasan di sini saya akan
membaginya dalam 6 bagian, setiap bagian merupakan unsur-unsur seni murni yang
dihadirkan dalam film berdurasi lebih dari 2 jam ini.
1. Hubungan
film dengan Tari
Tari adalah
gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk
keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud, dan pikiran. Bunyi-bunyian
yang disebut musik pengiring tari mengatur gerakan penari dan
memperkuat maksud yang ingin disampaikan.
Seperti
yang sudah saya sampaikan bahwa film merupakan gabungan dari unsur-unsur seni.
Contoh pertama adalah tari. Menurut pengertian tari, tari difungsikan untk
keperluan pergaulan, mengungkapkan perasan, mengungkapkan makusd, dan/atau mengungkapkan
pikiran. Dalam film selalu ada gerakan untuk mengungkapkan pikiran, itulah
persamaan film dengan tari.
Jika
ingin mengambil contoh lebih mudah; dalam setiap film selalu ada pergerakan
yang dilakukan dalam pengadeganan, seperti kesamaan ritme dalam setiap gerakan
pemain dengan atmosfer atau suara-suara yang ditimbulkan. Dalam banyak film
yang beredar, sebut saja film yang menyangkutkan unsur gerakan kaki melangkah
kemudian tangan melambai bahkan gerakan yang diciptakan oleh objek mati seperti
daun atau rerumputan. Hal-hal tersebut masuk dalam tarian, karena pada
dasarnya, tarian sendiri mengambil dari setiap pergerkan alam. Contohnya pada
beberapa tari yang ada di Indonesia. Tarian tersebut ada yang mengmabil dari
unsur tumbuhan seperti Tari Kancet Ledo/Tari Gong, Dayak Kenyah. Walau tarian
ini berarti kelemah lembutan seorang gadis, namun symbol dan pengambilan gerakan
dari tari ini didasari oleh greakan tanaman padi.
Jika
kita ingin langsung mengambil contoh dalm film The Great Beauty, ada banyak
tarian yang tertampil secaa eksplisit dan implisit. Contoh mudahnya adalah
tarian yang tertampilkan secara eksplisit adalah pada menit ke 05:48. Pada
menit ini, scene menampilkan kerumunan orang-orang yang menari pada sebuah
pesta, mereka menari secara liar layaknya pesta meriah pada umumnya. Di sini,
unsur tari dimaksudkan untuk kebutuhan pengadeganan. Scene sebelumnya merupakan
ketenangan pada musik sendu yang mewah nan misterius, hingga seorang wanita
teriak dan dimualilah tarian di sini.
Tarian
pada scene ini memulai penceritaan yang lebih hingar-bingar, terlepas dari scene
awal yang saya pikir merupakan adegan yang tenang, hingga lama-kelamaan si
penyanyi menaikan tempo dan sampailah pada titik si perempuan berteriak dan
berganti scene. Ini adalah dramatis yang dituturkan dengan gerakan.
Bahkan
tarian atau gerakan dalam film sebenarnya tidak melulu bergerak. Ada saat di
mana tarian dalam film adalah gerak kamera bahkan gerakan objek seperti air
yang mengalir. Jika saya menyebutkan gerakan (tarian) tidaklah harus bergerak,
maka sah saja jika dalm film tarian itu berarti berhenti sepenuhya. Seperti
gerakan orang yang diam saja, gerakan jatuhnya bayangan, bahakn gerakan yang
hanya berupa getaran bias masuk ke dalam tarian.
Keluesan
maksud dari tari dalam film yang bukan hanya melibatkan gerakan dipakai secara
baik oleh seluruh aspek dalam film. Contohnya dalam film yang sedang saya bahas
ini, The Great Beauty, ada getaran dalam nada penyanyi yang beriringan dengan
air. Saya mungkin bisa mengartikannya sebagai tarian, tarian objek, tarian yang
memberikan pengertian lebih dari sekadar air dan suara. Air dan getaran suara
yang seakin lama semakin bergulat menaikan ritme dari film yang menyambungkan
dengan scene getaran dari teriakan wanita mengawali tarian pada pesta.
Selanjutnya
merupakan scene eksplisit tentang tarian, yaitu scene di mana penari striptease
yang mengenakan baju angsa hitam (bulu-bulu angsa berwarna tiham). Pada scene
ini, si penari sama sekali tidak memasukan unsur musik di dalam menggerakan
tarian. Namun, dia menari bagaikan mengeluarkan apa yang ada dalm dirinya.
Angsa digamabrkan sebagai binatang dan identic dengan cinta, cinta yang
merupaka hasrat terdalam manusia atau bisa juga sebagai lambang dari hasrat
seksual. Hal ini semakin jelas ketika perlahan-lahan si penari striptease
menaggalakn pakaiannya dan hanya menyisakan beberapa bulu masih menempel dpada
tubuhnya.
2. Hubungan film dengan Musik
Musik
adalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan
keharmonisan terutama dari suara yang dihasilkan dari alat-alat yang dapat
menghasilkan irama Walaupun musik adalah sejenis fenomena intuisi, untuk
mencipta, memperbaiki dan mempersembahkannya adalah suatu bentuk seni.
Membaca
dari pengertian tentang musik, music berasal (tersusun) dari suara yang
mengandung irama sehingga menghasilkan keharmonisan. Jika saya simpulkan, maka
unsur music dalam film bukan hanya music yang berasal dari nyanyian atau
instrument. Lebih dari itu atmosfir yang ditimbulkan, gema, bahkan narasi dan
dialog bisa saja saya masukan ke dalam unsur music pada film.
Seperti
pada jaman di mana film belum memilik suara, maka para pembuat film memasukan
suara yang berasal dari instrument yang dimainkan oleh composer di belakang
layer. Pada masa kini, sutradara asal Indonesia, Garin Nugroho, berhasil
membuat ‘Setan Jawa’. Sayang sekali saya belum berkesempatan untuk menonton
film tersebut, namun menurut kabar yang beredar, Garin membebaskan pemusik
untuk memeriahkan filmnya sesuai dengan tempat film tersebut diputar. Hal ini
bukan hanya menambah antusias masyarakat yang merindukan atau penasaran dengan
film pada era belum ada suara, namun juga para pemusik dari setiap daerah yang
terlibat di dalamnya.
Melihat
unsur music pada film ini, banyak sekali music (suara) yang justru menjadi
aratif film, bukan hanya penambah dimensi atau rasa dari film ini. Sebut saja
pada permulaan film di mana terdengar suara “ha..ha..ha..” dan gambar terus
bergeraj seirama dengan tempo suara tersebut. Hingga pada akirnya kita
menyadari bahwa suara itu berasa dari sekumpulan perempuan yang sedang
memberikan pertunjukan kepada wisatawa asal Jepang.
Pada
saat penampilan itu, kita bisa saja berpikir bahwa itu hanyalah kebtuhan
realitas, nyatanya, irama “ha..ha..ha..” yang semakin lama semakin menguat
ditambah dengan nyanyian solo seorang wanit yang tentu saja bukan ditunjukan kepada
pengunjung dari Jepang. Solo performance dari si wanita itu justru berbicara
kepada penonton tentang apa yang akan terjaid selanjutnya, mungkin saja dia mengisyaratkan
bahwa ini merupaka film yang klasik, dewasa, indah, dan misterius. Klasik
Karena si perempuan menyanykan lagu klasik, dewasa di mana pada awal film
selalu dimunculkan orag-orang yang berusia di atas 30-an, indah Karena suara
merdu itu selalu disandingkan dengan visual yang mengunggah mata, misterius
merupakan tatapan yang diberikan oleh para penyanyi yang diam tanpa ekspresi.
Hal tersebut membuat film ini mengarah pada keterbukaan ending dari cerita.
Lebih
dari sekadar suara pada penyanyi, suara yang dihasilkan oleh air, angina, dan
hal-hal lain dalam film ini juga memberikan arti bahwa film ini memberkan
kedekatan kepada penontonnya. Sama seperti sebagian besar film yang mendekatkan
penontonnya dengan menyuguhkan suara dari sekitar sehingga penonton dipastikan
terikat di dalam film.
Music
selanjutnya yang diberikan secara terang-terangan adalah pada scene pesta. Di
sana terdapat music yang dihasilkan oleh DJ yang memeriahkan pesta. Music di
sini berfungsi sama dengan suara air ketika kita melihat air, sama-sama
memberikan kesan realitas.
Keunikan
yang terjadi pada scene pesta yang hingar binger adalah munculnya suara lonceng
yang mempertegas pengenalan karakter dalam film ini. Lonceng itu memecah focus
pada saat penonton terbuai oleh music dari DJ. Setiap kali lonceng berbunyi,
ada seseorang yang memperlihatkan wajahnya, walaupun tidak mengarah ke kamera,
namun membuat penonton jelas dalam melihat wajah dan karakternya.
Saat
pola mulai terbentuk, film ini kembali menyeleneh dengan kemunculan pemusik
tradisional yang menggunting semua kesan hingar-bingar pesta ala DJ dan pola
pengenalan karakter berdasarkan dentingan. Kehadiran pemusik tradisional ini
beberapa kali muncul tidak terduga dan membaerikan ruang untuk penonton agar
tidak menebak siapa karakter berikutnya yang ingin diperkenalkan. Mungkin
pemusik tradisional ini bukan cuma pengecoh agar penonton tidak menebak, namun
sebagai penegas bahwa ini merupakan film Italia yangmenampilkan unsur kalsik,
jadi sebagaimana modernnya film ini, kesan klasik ala Italia akan tertap
menjadi focus dalam film ini.
3. Hubungan Film dengan Lukisan
Lukisan
adalah karya seni yang proses pembuatannya dilakukan dengan memulaskan cat
dengan alat kuas lukis, pisau palet atau peralatan lain, yaitu memulaskan
berbagai warna dan nuansa gradasi warna, dengan kedalaman warna tertentu juga
komposisi warna tertentu dari bahan warna pigmen warna dalam pelarut (atau
medium) dan gen pengikat (lem) untuk pengencer air, gen pegikat berupa minyak
linen untuk cat minyak dengan pengencer terpenthin, pada permukaan (penyangga)
seperti kertas, kanvas, atau dinding. Ini dilakukan oleh seorang pelukis;
dengan kedalaman warna dan cita rasa pelukis, definisi ini digunakan terutama
jika ia merupakan pencipta suatu karya lukisan.
Jauh
sebelum lahirnya film atau gambar yang bergerak. Orang-orang terlebih dahulu
mengenal lukisan atau gambar yang hanya memiliki 1 frame. Seperti pada awalnya
di mana lukisan ditemuka di dalma goa untuk memudahkan orang untuk melakukan
komunikasi dengan sesame bahkan keturunannya.
Seiring
berjalannya waktu, orang-orang menggunakan lukisan bukan hanya untuk komunikasi
namun juga karya seni. Media untuk menggoreskan lukisan pun menjadi
bermacam-macam, hingga muncullah ide melukis dengan cahaya.
Pada
awalnya melukis dengan cahaya hanya dilakukan agar lukisan tersebut lebih cepat
selesai dan dengan mudah menyerupai objek asinya. Pada awalnya seorang pelukis
akan masuk ke dalam kotak besar dan lubang kecil pada kotak tersebut
memantulkan gambar secara terbalik. Gambar yang terbalik itu kemudian dilukis
ulang sehingga menjadi potret.
Seiring
dengan berjalannya waktu dan minat para seniman, teciptalah kamera luabng jarum
yang didasari ide tentang pembuatan lukisan. Mekanisme pembuatan gambar
berkembang dengan pesat hingga orang-orang mulai menciptakan hiburan dengan
menggabungkan banyak frame hingga menciptakan gambar yang bergerak.
Gambar-gambar
yang bergerak itu semakin memiliki peminat hingga tercetuslah sebuah ide untuk
membuat kamera yang mampu menangkap frame secara banyak hingga memunculkan
gambar yang bergerak. Keadaan ini terus berkembang hingga memunculkan komunitas-komunitas
yang menjajakan pertunjukan teater yang direkam untuk kalangan menegah ke
bawah. Pada saat itu, teater hanyalah untuk orang yang mempu atau khalangan
bangsawan.
Dari
pernyataan yang saya utarakn di atas, tentu saja lukisan mengarah bukan hanya
dengan memunculkan lukisan dalam film. Lebih dari sekadar lukisan sebagai
penambah desain artistik pada suatu ruang visual, namun juga lukisan merupakan
dasar ide dari penempatan mise en scene dalam frame.
Sangat
diuntungkan bahwa dalam film ini, bukan hanya peletakan implisit yang tersaji.
Namun juga secara terang-terangan, lukisan ditampilakn dan menjadi salah satu
subjek menakjubkan dari film ini.
Seperti
ketika mereka berada di galeri dengan begitu banyak lukisan yang melambangkan
kemewahan, keindahan yang dilambangkan oleh lukisan perempuan, kepolosan dari
lukisan perempuan yang telanjang, hingga pada puncaknya adalah si pelukis
perempuan. Pelukis perempuan si gadis kecil yang mengamuk Karena tidak boleh
bermain malah membuat karya yang bagus dari amarahnya.
Jika
saya kulik sedikit, maka makssud dari munculnya pelukis kecil ini adalah
ungkapan dari kejujuran emosi yang dimiliki setiap manusia, anak kecil
dilabangkan dengan kepolosan yang berarti kejujuran atau pengungkapan alam
bawah sadar. Di sini si gadis kecil melukis sambal marah dan menangis, intinya,
jika kita mampu memlepaskan ketersiksaan diri kita pada tempatnya, maka hasil
dari pelampiasan itu adalah hal yang baik.
4. Hubungan Film dengan Teater
Teater
adalah istilah lain dari drama, tetapi dalam pengertian yang lebih luas, teater
adalah proses pemilihan teks atau naskah, penafisran, penggarapan, penyajian
atau pementasan dan proses pemahaman atau penikmatan dari public atau audience
(bisa pembaca, pendengar, penonton, pengamat, kritikus atau peneliti).
Sehubungan
dengan fungsi teater dalam film, film pada awalnya merupakan dokumentasi dari
kegiatan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Maka teater pada mulanya
juga pengadeganan yang didasarkan dari kehidupan sehari-hari.
Dalam
sejarah film, kita mengetahui bahwa film yang ditayangkan bagi oran-orang kelas
menengah ke bawah merupakan dokumentasi dari teater yang disajikan pada sebuah
teaterikal spektakuler bagi kalangan menengah ke atas. Maka tentu saja, film
hingga kini akan sangat lekat kaitannya dengan teater.
Jika
dalam pengertian teater disebutkan memiliki proses pemilihan teks atau naskah,
penafsiran, hingga penggarapan. Maka film juga melakukan hal yang hamper sama.
Film (terutama film fiksi) berasal dari sebuah naskah yang diinterpretasikan
untuk digarap dan dipertontonkan kepada khalayak. Bukan hanya film fiksi, film
dokumenter juga didasari oleh naskah yang bersifat terbuka.
Film
fiksi The Great Beauty menampilkan keduanya, teater sebagai teater dan juga
teater yang masuk dalam garapan film itu sendiri. Apa yang saya maksud dengan
teater dalam teater? Maksudnya adalah, jika film pada umumnya memasukan unsur
teater dalam pengadeganan pemain, film The Great Beauty memasukan unsur teater
dalam hal terpisah yang membuat penonton sadar bahwa sedang menonton
pertunjukan teater.
Selain
secara jelas bahwa pembicaraan mengenai teater dimunculkan dalam dialog pada
menit ke 19:43. Teater sebagai teater terihat jelas pada menit ke 26:04. Saat
orang-orang sedang berkumpul dan berbicara, tiba-tiba muncullah 3 orang di atas
balkon seperti menghadap para penonton. Kemudian perempuan yang berdiri di
antara 2 lelaki mencium salah seorang lelaki bagaikan akhir dari pertunjukan
teater yang mengisyaratkan siapa yang mendapati hati perempuan itu. Sontak
saja, obrolan yang tadinya menyenangkan harus rehat sejenak untuk menyaksikan
interupsi yang aneh (tidak umum) semacam itu.
5. Hubungan Film dengan Arsitektur
Arsitektur
adalah seni yang dilakukan oleh setiap individual untuk berimajinasikan diri
mereka dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas,
arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan,
mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan,
arsitektur lanskap, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain perabot
dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses
perancangan tersebut.
Sama
dengan unsur lukisan dalam pemuatan konsep artistik, maka arsitektur akan
mengambil peran utama dalam pembangunan sebuah konsep. Arsitektur dalam film
bukan hanya melibatkan bangunan seperti rumah atau tempat, namun juga pemilihan
partisi-partisi kecil seperti patung, kursi, gelas, hingga bentuk pohon.
Pengertian
arsitektur sendiri telah menjelaskan bahwa arsitektur ini bisa berfungsi untuk
mengimajinasikan (mengkaraterisasi) apa yang ada dalam sebuah film. Contohnya
saja film The Grand Budapest Hotel yang memberikan penampilan unik nan nyentrik
ala tahun 1930-an atau sebut saja film Harry Potter yang membangun kesan magic
pada tahun yang tidak jelas.
Film
The Great Beauty menampilkan arsitektur yang sepertinya tidak perlu terlalu
banyak saya jelaskan. Seperti yang kita lihat pada awal film, film ini
menyajikan kesan klasik pada bangunan Italia dan bergeser kea rah modern dengan
menampilkan bus pada masa kini. Sepertinya sutradara tidak terlalu ambil pusing
untuk meminta penonton menebak-nebak film tahun berapakah ini. Sutradara telah
berkali-kali menjelaskan bahwa ini adalah film modern yang tetap kalsik tanpa
kehilangan kemewahannya.
Kekayaan
arsitektur ala Italy tidak pernah luput dari film yang memang mengambil lokasi
di Roma, Italia ini. Setiap aspek arsitek mulai dari gedung, patung, hingga
transportasi sangat menampilkan kesan Italy. Tidak lupa juga perhatian modern
dengan menampilkan arsitektur minimalis dan alat-alat pendukung seperti kunci
otomatis yang justru melambangkan kemewahan dari film ini.
Satu
arsitektur yang mengunggah ikiran saya adalah bentuk tangga yang sangat mirip
dengan mata. Tangga itu melingkar dan lingkaran tangga itu bukan menjadi bentuk
yang membulat tai seperti sebuah mata yang kosong. Mata ini membawa saya justru
untuk terjun ke dalam fokus yang dibicarakan Jep dan suami pacarnya.
6. Hubungan Film dengan Sastra
Sastra
merupakan pembahasan terakhir dalam film ini yang mungkin akan menjadi cukup
rumit bagi saya dan bahsannya akan cukup panjang.
Sastra
(Sanskerta: शास्त्र, shastra) merupakan kata serapan dari
bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung
instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti
"instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini
biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis
tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.
Yang
agak bias adalah pemakaian istilah sastra dan sastrawi. Segmentasi sastra lebih
mengacu sesuai defenisinya sebagai sekadar teks. Sedang sastrawi lebih mengarah
pada sastra yang kental nuansa puitis atau abstraknya. Istilah sastrawan adalah
salah satu contohnya, diartikan sebagai orang yang menggeluti sastrawi, bukan
sastra.
Selain
itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau
sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan
tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan
pengalaman atau pemikiran tertentu.
Jika
saya mengambil kata sastra dan mengaloksikannya dengan film, maka film yang
bersangutan dengan sastra hanyalah sebuah teks. Sayangnya, saya sendiri
meyakini bahwa sastra dalam film memiliki penertian lebih dari sekdar teks
pembantu.
Dalam
banyak film bahkan dalam penulisan naskah itu sendiri, tentulah tercetus narasi
atau dialog yang diutarakn oleh subjek-subjek di dalamnya. Bakhan, pengutaraan
itu bukan saja dai segi dialog yang ditampilakn keluar dari mulut.
Sastra
akan tampil pada konsep pergerakan pemain yang masuk dalam penyutradaraan
pemain. Konsep penyutradaraan didasari oleh interpretasi yang ada pada naskah
yang ditulis.
Kemudian
sastra juga akan muncul pada konsep penataan artistik. Konsep ini memberikan trauma
(gambar yang mengidentifikasi) mise en scene dari gaya film itu sendiri.
Artistik dan shot sangat mempengaruhi pengarahan visual yang harus sampai
kepada penonton yang melihatnya. Dengan gambar yang sesingkat-singkatnya,
penonton harus mampu mengidentifikasi atau setidaknya mengupayakan agar
memahami ke arah manakah film ini menampilkan imaji.
Selanjutnya,
sastra juga akan muncul pada konsep suara, musik. Sebelum masuk dalam film,
sastra dan music telah bekerja sama dengan baik. Diketahui banyaknya karya
sastra yang dimusikalisasi, atau music yang diciptakan memang untuk sebuah
karya sastra.
Kemunculan
musik pada film menambah unsur keindahan pada karya sastra. Sastra pada
dasarnya digunakan sebagai pengungkapan pengalman dan pemikiran tertentu.
Seperti setiap karya seni yang berjujuan untuk mengekspresikan pemikiran,
sastra dan musik telah melebur dan menyatu dengan film itu sendiri.
Contoh
peleuran music dan karya sastra adalah ketika music menggerakan plot di mana
plot itu ditulis berdasarkan naskah. Berbeda dengan arsitektur yang menggerakan
plot hanya pada suatu scene atau bisa juga berada pada scene yang berbeda namun
masih bisa kita merasakan pemisah dari scene itu. Suara (music) pada film bisa
bersatu dalam scene yang berbeda untuk menciptakan waktu dan ruang.
Penggabungan
scene yang berasal dari pergerakan music masuk dalam konsep editing
(penyuntingan gambar). Kosep editing memiliki emansipasi untuk penafsiran yang
lebih luas dalam menggerakan film. Ketika naskah hanya memberikan satu dimensi
untuk menggerakan plot, penyuntingan gambar yang berkolaborasi dengan masuknya
efek suara dan music mengambil bangian penting untuk keberlangsungan film itu
sendiri. Tidak menutup kemungkianan bahwa penyuntingan gambar juga bisa manjadi
naskah dkedua untuk menciptakan plot dalam film.
Membahas
tentang konsep film dan sastra. Saya cukup berterima kasih kepada Paulo. Film
garapannya yang sedang saya bahas ini, La grande bellezza, meluapkan
seluk-beluk sastra dan kesusastraan.
Contoh
pertama pada menit ke 09:00 di mana secara terang-terangan orang-orang ini
sedang membicarakan tentang penulis dan sastra yang juga menyinggung tentang
teater. Teater merupakan perluasan interpretasi dari naskah yang merupakan
sastra.
Selanjutnya
kita membahas pada menit ke 34:33 ketika Jep sedang berjalan di pinggir sungai.
Apa yang ingin saya katakana tentang sastra bukan sebatas monolog Jep dan suara
yang beriringan bersamanya. Saya ingin mengatakan bahwa apa yang diungkapkan
Jep adalah masa lalunya, cerita tentang dirinya, yang sebenarnya Jep mengajak
para penonton untuk membayangkan kejadian sebelumnya yang tidak tervisualkan
pada scene ini.
Kita
sepakat bahwa film adalah visual. Bahkan teknologi kamera yang sedemikian rupa
mengalahkan unsur suara dalam film, semata-mata untuk memperkaya visual itu
sendiri. Jika begitu, saya mempertanyakan, untuk apa saya membaca dan
membayangkan kembali sebuah visual yang tidak hadir di dalam film? Saya bisa
saja membaca novel dan diam seharian membiarkan pikiran saya merangkai film
yang hanya bisa saya tonton sendiri.
Film
ini membuktikan bahwa narasi, sastra, atau lebih mudah disebut teks justru
memaksa penonton untuk kembali membayangkan visual dalam visual yang ternyata
didak tervisual. Bagaimana nasib dan perlakuan seorang bernama Jep dalam meniti
karir hingga sekarang bagaimana masa lalu terus mnegikuti Jep, bagaimana Jep
melakukan kekejaman terhadap orang sekitar dan berpengeruh pada dirinya
sendiri.
Setelah
saya dibuat cukup pusing oleh Jep. Saya kembali berterima kasih untuk waktu ke
1:33:12 dengan adegan pembacaan puisi. Kesannya, adegan ini adalah akhir dari
usahanya yang berlatih puisi. Sayangnya, penonton harus kembali berandai-andai
membayangkan visual sesuai dengan puisi yang si laki-laki itu bacakan.
Melihat
scene ini, saya kembali pada beberapa paragraph di atas tentang musikalisasi
puisi. Musikalisasi puisi yang menyangkut pada sastra. Sesuai dengan pernyataan
saya bahwa music dan sastra telah bekerja sama dengan baik. Kini semuanya
menjadi lengkap karena film ini mengkombinasikan ketiga unsur itu secara
eksplisit.
Kesimpulan:
Dari
penjelasan di atas, dapat saya simpulkan bahwa sebelumnya seni sendiri tidak
mutlak berasal dari seni itu sendiri. Seni merupakan adaptasi dari kehidupan.
Seni memberikan ruang tersendiri bagi manusia untuk melepaskan bahkan menangkap
dirinya sendiri, seni adalah alam bawah sadar yang paling sadar atas hal-hal
yang terjadi pada diri manusia, seni adalah sebuah kejujuran yang menyimpan
rahasia terdalam untuk menikmati dirinya sendiri.
Saya
setuju jika film dimasukan sebagai seni ketujuh, karena film memadukan seluruh
aspek yang ada di seni. Dalam film, kita bisa mengambil ‘rasa’ dalam seni lain
maupun langsung mengambil seni itu sendiri. ‘Rasa’ dalam seni misalnya lukisan
yang menjadi ide untuk framing, arsitektur sebagai ide yang membangun ruang dan
citra dalam film, dan sebagainya.

Comments
Post a Comment