About Elly (2009), Asghar Farhadi

Aku nggak lelah terima kasih sama kakak Juju. Lo harus kenalan sama dia sih.

Awalnya kami lagi ngalor ngidul lalu tercetuslah sebuah tanggapan kalau film ini punya bloking pemain dan pengadeganan yang bagus, sebut saja contoh yang bisa kalian pakai kalau mau buat film. Pemain di sini tuh banyak banget yah, banyak aja, kalau dari penokohan si karakter juga yah, nggak yang sebegitunya sih, normal aja pada kehidupan umumnya, karakter klise lah. Tapi mungkin karena lokingnya asik, semua karakter jadi bergerak bebas dan punya porsi yang tepat di frame. Karakter yang nggak menonjol itu ditambah pengadeganan bikin setiap frame hidup, penuh tapi tahu porsi jadi nggak bikin lu gumoh.

Kameramannya mau aku peluk. Ini mungkin 90% handheld yah atau lebih. Si abangnya nggak cape? Sini Bang, adek pijitun dulu. Ughh.. abang-abangan kamera tuh yah emang bikin... shot. Iya, mereka bikin shot yang nggak santai, hmm.. shotya tuh simpel, nggak ngasih framing2 cantik atau mengeksplor kecantikan di setting itu, tapi karena blokingnya asik, jadi kaya tek-toknya enak gitu. Mungkin si abang biasa sama sequence shot kali yah?

Dari sisi cerita, bosen gue, in a good way, gua kan orangnya capean yah kalau molor tapi nggak ngasih kejelasan, jadi kaya untuk menjelaskan suatu hal tuh lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Dari sini, kita bisa tahu sih budaya orang-orang di sana dalam memecahkan masalah. Ceritanya simpel aja, cuma ngeselin, yah karena lama. Konfliknya, standarlah (karena standar, kenapa bisa gua ikutin, ini nggak penting buat gua, tapi gua ngikutin, kan kesel, konflik sederhana tapi menarique), gua malah mikir, jangan-jangan kaya gone girl lagi, eh untung kaga.

Editingnya sekadar continuity editing kok, cuma gua sukak sekali sama pembukaan, jadi kaya si penonton ada dalam kotak surat lalu intelectual montage ke trowongan jalan. Sampai saat ini, gua bl paham maksud kotak surat.

Dari penataan artistik, hmm.. gua suka karena tampak natural yah, ini film tahun2009, gua nggak tau apa yang terjadi di Iran. Tapi kurang lebih sama atau lebih buruk yah dibanding di Indonesia? Justru artistiknya ngebantu sih, gua baru tahu ini film 2009, dan gua siapnya ini film 201*-an jadi gua ngeremehin info2 di sana, kaya pemilihan mobil, ponsel, dan tas LV KW. Yash. Maaf yah.

Suara pada film ini, baik, sesuai, dia nggak ngasih suara yang gimana-gimana kok, disesuaikan aja sama porsinya dan nyaman, paling dalam beberapa dialog di sesuaikan, kaya pas si cewe bilang dia nggak suka suara ombak, malah dikasih suara ombak. Great. Bikin trauma aja nih bapake.


Apa yang gue dapat dari film ini?
1. Nasi kuah, gua nonton ini di-pause karena kelaparan dan akhirnya bikin nasi pake bumbu nasi goreng dikuahin, rasanya kaya indomie, enak.
2. When it comes, let it. When it gone, just let it. Gausah sosoan mau menyelamatkan nasib cinta orang lah yah, setiap manusia punya kendali dama dirinya sendiri.
3. Nonton ajalah sana, mikir sendiri, bahahahaaa...


Comments

Popular posts from this blog

Marselli Sumarno (Wawancara Singkat)

Sedekit PR untuk FFI