Teknik Editing Battleship Potenkim, Citizen Kane, Rome Open City



Battleship Potenkim


Soemarjo
1.      Fungsional; proses editing harus memiliki fungsi dalam sebuah film.
2.      Structural; editing yang dilakukan bukan hanya untuk memperbaiki structure namun juga harus dapat mempermudah alur cerita yang disampaikan.
3.      Proposional; proses editing juga harus tersusun secara seimbang sesuai dengan porsi penceritaan dan maksud dari film.

David Brodwell
Dimensi editing (grafis, ritmis, ruang, waktu)
Dimensi grafis
1.      Graphical continuity; kontinuitas sudah sangat baik sehingga cerita yang disampaikan mudah dimengerti.
2.      Graphical match; kecocokan grafik sangat baik menurut saya, pengambilan gambar sangat peka dengan keadaan sekitar, ada banyak frame dalam frame yang dibuat dari berbagai benda dalam screen.
3.      Graphical contrast; karena film ini masih hitam putih dan pencahayaan yang beraturan maka kontras grafik sudah sangat baik.
Dimensi ritmis
1.      Ritme internal (dikaitkan dengan frame/ukuran besar gambar, gerak, suara/dialog)
2.      Ritme external menggunakan 3 tipe ritme konstan, dipercepat, dan tak beraturan.
Dimensi ruang
1.      Spatial (berdampingan)
2.      Temporal hanya menggunakan 2 tipe yaitu time ellipsis/diperpendek dan overlapping/diulang.
Metode penyambungan
1.      Cut to cut
a.      Match cut; belum ada dalam film ini
b.      Cut way; pria yang sedang tidur dipecut dan menengadah ke atas.
2.      Oplical effect
a.      Fade in/out; setiap pergantian frame ke narasi tertulis
b.      Dissolve; belum ada dalam film ini
c.       Wipe; ombak dari berbagai angle yang berbeda

Teori film editing
Soemardjono
1.      Kesinambungan azasi (mise en scene/elemen visual)
Semua shot dalam film ini sudah memenuhi kontinuitas element visual.
2.      Kesinambungan pictorial (matching look/arah pandang, position/kiri-kanan, movement)
Kesinambungan pictorial dipilih secara hati-hati dan sangat memenuhi kebutuhan setiap adegan hingga keseluruhan film.

David Brodwell
1.      Spatial continuity/ruang
a.      kaidah 180 derajat; pria yang berpidato menggebu-gebu di kamar dengan ranjang gantung.
b.      eyeline match; kapten bertanya daging kepada salah satu awak kapal.
c.       reverse shot/angle; awak melihat mercusuar di depannya.
d.      screen direction; kapten berpidato di depan para awak.
4hal tsb membuat match on action

2.      temporal continuity/waktu
a.      temporal order/urutan waktu; pada film ini, urutan waktu yang digunakan adalah linear.
b.      temporal duration/durasi;
-          story duration: berkisar 1-3tahun
-          plot duration: saat memasak sekitar 3jam menjadi 3menitan
-          screen duration: 1 jam 11 menit 37detik
c.       temporal frequency; orang yang melihat kereta bayi jatuh.

Alternative to continuity editing david brodwell
1.      Tidak dihunakanya 1/keseluruhan syarat
-          kaidah 180; ibu yang tertembak
-          eyeline match; pria yang tidur di gantungan menengok ke arah pria lain dan sebaliknya.
-          reverse shot; awak kapal yang makan sambil mengobrol.
-          screen direction; meriam mengarah ke kapal lain.
-          match on action; orang-orang berlarian saat dikejar pasukan bersenjata.
-          Temporal discontinuity;
a.      Jump cut: awak kapal yang tertidur.
b.      Non-dieggetic insert: taman yang tenang
2.      Kemungkinan grafis & ritmis; saya rasa untuk grafis dan ritmis sudah sangat baik, sutradara memang berfikir keras untuk menyajikan film sebaik ini.
3.      Kesinambungan ruang & waktu; ruang dan waktu yang sederhana namum meluas sangat menjelaskan maksud dari cerita yang ingin disampaikan.

Metoda & gaya editing
Metoda editing
Dasar:
1.      Intercut; ada orang yang siap menembak namun pastur mengetuk-ngetuk salib di tangannya.
2.      Pararel editing/cutting; awak lain tidur sedangkan yang lain bersiap-siap seperti menyiapkan lampu.
3.      Cross-cutting; awak berlarian sedangkan group lain mengambil senjata api dari tempat penyimpanan.
metode lain:
4.      Sequence shot; saya rasa saya belum memenuhi metoda ini dalam film Battleship Potenkim.
5.      Cutting to continuity; beberapa orang menolong pria yang tercebur di laut, namun tiba-tiba ada di tangga.
6.      Classical cutting; orang-orang yang berlarian di tangga dan ada yang di close up.
7.      Thematic montage/Multi Plot; close up ibu yang melihat tangan anaknya yang sudah meninggal diinjak.
8.      Abstract cutting; orang-orang yang berlarian.
9.      Continuity cutting; orang-orang yang melambai ke arah laut yang dipenuhi kapal-kapal.
10.  Dynamic cutting; patung di shot lalu gelap.
11.  Jump cut; saat kapten memberi intruksi padaawak, pasukan, dan kelompok yang ingin diceburi ke laut.
12.  Rapid cutting/fast cut; saat adegan berlarian.
13.  Non-diegetic insert; shot laut tenang dan shot taman dengan 2 pohon.
Gaya editing; saya belum bisa menentukan gaya editing yang diagamai oleh editor saya hanya mengira-ngira bahwa gaya yang digunakan adalah gaya editing dasar.

Prosedur tahapan editing
1.      Sinkronisasi (gambar dan suara terpisah)
2.      Screening rushes/preview materi (menonton)
3.      Selection shot (logging pencatatan materi, no good cutting pemisahan shot2 tak digunakan)
4.      Editing script (pembuatan naskah kembali utk documenter)
5.      Assembly (penyusunan berdasarkan no slate/clap, awal n akhir tail masih terlihat. Kl documenter pengumpulan shot)
6.      Rough cut (memotong sesuai presisi yg diinginkan)
7.      Fine cut (pemotongan lebih halus)
8.      Trimming (penajaman cutting point dari tiap potongan, yg panjang dipendekin, yg pendek dipanjangin)
9.      Final edit (picture-lock/off line)
10.  Reeling (penyerahan utk online)
11.  On line (menambahkan optical effect (dissolve, fade atau wipe)

Mengedit seperti bermain puzzle. Harus teliti!





Citizen Kane




Soemarjo
1.      Fungsional; proses editing harus memiliki fungsi dalam sebuah film.
2.      Structural; editing yang dilakukan bukan hanya untuk memperbaiki structure namun juga harus dapat mempermudah alur cerita yang disampaikan.
3.      Proposional; proses editing juga harus tersusun secara seimbang sesuai dengan porsi penceritaan dan maksud dari film.

David Brodwell
Dimensi editing (grafis, ritmis, ruang, waktu)
Dimensi grafis
1.      Graphical continuity; kontinuitas sudah sangat baik sehingga cerita yang disampaikan mudah dimengerti walaupun memenuhi 3 syarat yaitu linear, flash back, dan flash forward.
2.      Graphical match; kecocokan grafik sangat baik menurut saya, pengambilan gambar sangat peka dengan artistic yang ditampilkan dalam frame.
3.       Graphical contrast; karena film ini masih hitam putih dan pencahayaan yang beraturan maka kontras grafik sudah sangat baik.
Dimensi ritmis
1.      Ritme internal (dikaitkan dengan frame/ukuran besar gambar, gerak, suara/dialog)
2.      Ritme external (ritme konstan, dipercepat, diperlambat, tak beraturan)
Ritme pada film ini memenuhi kriteria di atas.
Dimensi ruang
1.      Spatial (berdampingan)
2.      Temporal hanya menggunakan 2 tipe yaitu time ellipsis/diperpendek dan overlapping/diulang.
Metode penyambungan
1.      Cut to cut
a.      Match cut; wanita yang menyanyi dipanggung.
b.      Cut way; Kane menonton wanita yang bernyanyi di panggung.
2.      Oplical effect
a.      Fade in/out; hampir tidak ada.
b.      Dissolve; hampir setiap perpindahan scene bahkan shot menggunakan effect ini, contohnya pagar kawat yang berganti menjadi pintu pagar, bahkan rumah besar.
c.       Wipe; dari shot sebelum lalu shot gedung.

Teori film editing
Soemardjono
1.      Kesinambungan azasi (mise en scene/elemen visual)
Semua shot dalam film ini sudah memenuhi kontinuitas element visual.
2.      Kesinambungan pictorial (matching look/arah pandang, position/kiri-kanan, movement)
Kesinambungan pictorial dipilih secara hati-hati dan sangat memenuhi kebutuhan setiap adegan hingga keseluruhan film.

David Brodwell
1.      Spatial continuity/ruang
a.      kaidah 180 derajat; pria berbicara dengan wanita di kamar.
b.      eyeline match; kakek berbicara dengan seorang pria.
c.       reverse shot/angle; anak kecil melempar salju ke papan nama.
d.      screen direction; orang-orang melihat dan melambai ke arah kereta kuda di bawah.
4hal tsb membuat match on action

2.      temporal continuity/waktu
a.      temporal order/urutan waktu; pada film ini, urutan waktu yang digunakan adalah campuran.
b.      temporal duration/durasi;
-          story duration: berkisar 60 tahunan.
-          plot duration: acara pelantikan sekitar 6jam namun hanya beberapa menit.
-          screen duration: 1 jam 59 menit 24 detik
c.       temporal frequency; saya belum dapat menemukannya.

Alternative to continuity editing david brodwell
1.      Tidak dihunakanya 1/keseluruhan syarat
-          kaidah 180; ibu dan anak saling berbicara di mobil.
-          eyeline match; pria bertopi berbicara dengan pria lain di restaurant.
-          reverse shot; kane melihat wanita bermain piano.
-          screen direction; ibu melihat anaknya bermain salju.
-          match on action; penjelasan tentang kehidupan dan karir kane.
-          Temporal discontinuity;
a.      Jump cut: shot koran-koran
b.      Non-dieggetic insert: saya belum dapat menemukannya dalam film ini.
2.      Kemungkinan grafis & ritmis; saya rasa untuk grafis dan ritmis sudah sangat baik.
3.      Kesinambungan ruang & waktu; ruang dan waktu yang cukup kompleks karena menggunakan tipe campuran antara flash forward dan flash back namum cukup jelas untuk dimengerti.

Metoda & gaya editing
Metoda editing
Dasar:
1.      Intercut; hampir tidak ada karena semua shot menceritakan tentang Kane dan benar-benar focus pada kane.
2.      Pararel editing/cutting; saya belum dapat menemukan pada film ini.
3.      Cross-cutting; wanita dan Kane saling berbicara di meja makan, karena bajunya berganti-ganti.
metode lain:
4.      Sequence shot; saat ibu menghampiri anaknya yang bermain di salju.
5.      Cutting to continuity; hampir tidak terlihat metode edit ini.
6.      Classical cutting; belum ada yang begitu significant untuk materi ini.
7.      Thematic montage/Multi Plot; saya tidak cukup jelas untuk menemui metode ini dalam film.
8.      Abstract cutting; acara makan-makan sambil berbicara dan tertawa.
9.      Continuity cutting; 3 pria menunjuk foto sebuah bergroup.
10.  Dynamic cutting; patung di shot lalu gelap.
11.  Jump cut; shot koran-koran.
12.  Rapid cutting/fast cut; saya rasa semua shot masih dalam kecepatan normal.
13.  Non-diegetic insert; shot masih saling berhubungan secara kuat.

Gaya editing; saya belum bisa menentukan gaya editing yang diagamai oleh editor saya hanya mengira-ngira bahwa gaya yang digunakan adalah gaya editing dissolve.

Prosedur tahapan editing
1.      Sinkronisasi (gambar dan suara terpisah)
2.      Screening rushes/preview materi (menonton)
3.      Selection shot (logging pencatatan materi, no good cutting pemisahan shot2 tak digunakan)
4.      Editing script (pembuatan naskah kembali utk documenter)
5.      Assembly (penyusunan berdasarkan no slate/clap, awal dan akhir tail masih terlihat. Kalau documenter pengumpulan shot)
6.      Rough cut (memotong sesuai presisi yang diinginkan)
7.      Fine cut (pemotongan sudah semakin halus)
8.      Trimming (penajaman cutting point dari tiap potongan, yang panjang diperpendek, yang pendek diperpanjang)
9.      Final edit (picture-lock/off line)
10.  Reeling (penyerahan utk online)
11.  On line (menambahkan optical effect (dissolve, fade atau wipe))

Mengedit seperti bermain puzzle. Harus teliti!





 Rome Open City




Soemarjo
1.      Fungsional; proses editing harus memiliki fungsi dalam sebuah film.
2.      Structural; editing yang dilakukan bukan hanya untuk memperbaiki structure namun juga harus dapat mempermudah alur cerita yang disampaikan.
3.      Proposional; proses editing juga harus tersusun secara seimbang sesuai dengan porsi penceritaan dan maksud dari film.

David Brodwell
Dimensi editing (grafis, ritmis, ruang, waktu)
Dimensi grafis
1.      Graphical continuity; kontinuitas sudah sangat baik cerita ini memiliki alur yang sama dengan Battleship Pontenkim yaitu alur maju/linear, grafik dalam film ini lebih simple dari Battleship karena film sudah seperti film masa sekarang.
2.      Graphical match; menurut saya kecocokan grafik sangat baik untuk film tahun 1940-an.
3.      Graphical contrast; karena film ini masih hitam putih dan pencahayaan yang beraturan maka kontras grafik sudah sangat baik dan sesuai dengan alur cerita yang ingin disampaikan.
Dimensi ritmis
1.      Ritme internal (dikaitkan dengan frame/ukuran besar gambar, gerak, suara/dialog)
2.      Ritme external juga menggunakan 3 tipe ritme konstan, dipercepat, dan diperlambat.
Dimensi ruang
1.      Spatial (berdampingan)
2.      Temporal kebetulan hanya menggukan 2 tipe time ellipsis/diperpendek dan overlapping/diulang.
Metode penyambungan
1.      Cut to cut
a.      Match cut; wanita masuk kamar dan berjalan ke meja rias, beberapa pakaian yang sebelumnya di shot kembali di shot dengan angle berbeda.
b.      Cut way; tentara di balkon lihat ke arah depan dan bawah balkon untuk cari pria yang kabur.
2.      Oplical effect
a.      Fade in/out; orang-orang berjalan kemudian layar mulai gelap muncul mobil.
b.      Dissolve saat seorang kapten yang berbicara dan berdiri di mejanya kemudian muncul orang-orang yang demo.
c.       Wipe; saat shot peta langsung shot pria yang mengobrol.

Teori film editing
Soemardjono
1.      Kesinambungan azasi (mise en scene/elemen visual)
2.      Kesinambungan pictorial (matching look/arah pandang, position/kiri-kanan, movement)

David Brodwell
1.      Spatial continuity/ruang
a.      kaidah 180 derajat; saat pastur dan anak kecil berpapasan dengan seorang pria yang membawa keranjang.
b.      eyeline match; seorang tentara yang bertanya pada seorang ibu.
c.       reverse shot/angle; penembak melihat pastur yang duduk di depannya.
d.      screen direction; ibu membuka pintu lalu melihat ke bawah, ada mobil yang di shot.
4hal tsb membuat match on action

2.      temporal continuity/waktu
a.      temporal order/urutan waktu; pada film ini, urutan waktu yang digunakan adalah linear.
b.      temporal duration/durasi;
-          story duration: sekitar 1 tahunan
-          plot duration: saat bermain bola 1 jam menjadi 5menit.
-          screen duration; 1 jam 42 menit 44 detik
c.       temporal frequency; wanita membuka lemari pakaian.

Alternative to continuity editing david brodwell
1.      Tidak dihunakanya 1/keseluruhan syarat
-          kaidah 180; wanita yang cantik menyapa wanita berpakaian bagus saat masuk kamar.
-          eyeline match; ibu yang memanggil anaknya di atap dan anaknya melihat ke bawah.
-          reverse shot; anak dan pastur berjalan, sedangkan ibu sedang berbicara dengan seorang pria sambil membuat minum.
-          screen direction; pria membuka pintu melihat bayi menangis.
-          match on action; wanita berdoa di gereja menunggu pastur.
-          Temporal discontinuity;
a.      Jump cut: saya belum menemukan metode ini dalam film.
b.      Non-dieggetic insert: saya rasa tidak ada metode ini.
2.      Kemungkinan grafis & ritmis; saya rasa untuk grafis dan ritmis sudah sangat baik, sutradara sudah baik dalam film ini.
3.       Kesinambungan ruang & waktu; ruang dan waktu yang kompleks namun dengan urutan yang memudahkan penonton menikmati film ini.

Metoda & gaya editing
Metoda editing
Dasar:
1.      Intercut; bayi buang air dan kakaknya mengobrol.
2.      Pararel editing/cutting; pastur dan anak kecil berjalan saat ibunya sedang berbicara dengan seorang pria.
3.      Cross-cutting; saya belum sempat menemukan dalam film ini.
metode lain:
4.      Sequence shot; shot anak-anak yang sedang mengoper bola.
5.      Cutting to continuity; hampir semua metode manggunakan editing jenis ini.
6.      Classical cutting; saya belum dapat menemukannya pada film ini.
7.      Thematic montage/Multi Plot; wanita yang membuka lemari lalu shot pria.
8.      Abstract cutting; wanita muda yang terdengar ketukan pintu tiba-tiba masuk ke kamar saat wanita sedang berbicara dengan seorang pria.
9.      Continuity cutting; shot wanita berjalan dan membuka pintu kemudian pintu terbuka dengan shot dari depan.
10.  Dynamic cutting; saat adegan tembak-tembaakan di lapangan kemudian layar hitam lama dan muncul mobil.
11.  Jump cut; saya belum menemukan metode ini.
12.  Rapid cutting/fast cut; menurut saya semuanya masih dalam kondisi normal bahkan saat pengejaran.
13.  Non-diegetic insert; saya belum menemukan metode ini dalam film.

Gaya editing; saya belum bisa menentukan gaya editing yang diagamai oleh editor saya hanya mengira-ngira bahwa gaya yang digunakan adalah gaya editing cutting to continuity.


Prosedur tahapan editing
1.      Sinkronisasi (gambar dan suara terpisah)
2.      Screening rushes/preview materi (menonton)
3.      Selection shot (logging pencatatan materi, no good cutting pemisahan shot2 tak digunakan)
4.      Editing script (pembuatan naskah kembali utk documenter)
5.      Assembly (penyusunan berdasarkan no slate/clap, awal n akhir tail masih terlihat. Kl documenter pengumpulan shot)
6.      Rough cut (memotong sesuai presisi yg diinginkan)
7.      Fine cut (pemotongan lebih halus)
8.      Trimming (penajaman cutting point dari tiap potongan, yg panjang dipendekin, yg pendek dipanjangin)
9.      Final edit (picture-lock/off line)
10.  Reeling (penyerahan utk online)
11.  On line (menambahkan optical effect (dissolve, fade atau wipe)

Mengedit spt bermain puzzle. Harus teliti.



Popular posts from this blog

Marselli Sumarno (Wawancara Singkat)

Sedekit PR untuk FFI