Form and Style Bicycle Thief
1. Story;
Seorang
ayah yang berasal dari keluarga miskin baru saja diterima kerja. Namun, ayah
harus membeli sepedah untuk mendukung pekerjaannya. Jika tidak maka pekerjaan
tersebut akan diberikan kepada orang lain. Dengan ekonomi yang sangat pas-pasan
sang ibu (istri) menjual sprei untuk membeli sepeda.
Saat
baru saja ayah menikmati pekerjaannya dengan sepada. Ada 2 orang yang mencuri
sepedanya, satunya mengambil sedangkan yang lain mengecoh. Sekarang ayah merasa
sangat frustasi. Ayah meminta bantuan ke temannya yang berada di teater
gorong-gorong.
Ayah
berusaha mencari sepedanya dengan melapor ke kantor polisi namun polisi
setempat mengabaikannya. Jadi ayah dan anak mencari sepeda dengan bantuan teman
ayah. Mereka mencari ke tempat sepeda bekas. Namun, tetap saja hasilnya
sia-sia.
Perjalanan
semakin panjang. Bertemu dengan sang pencuri dan seorang kakek miskin yang
semakin menyusahkannya. Di usir oleh orang gereja, masuk kekawasan pencuri dan
malah dituduh pencemaran nama baik, dan sebagainya. Sempat berkelahi dengan
anaknya. Walau sempat makn dan berbaikan di restaurant.
Akhir
cerita, ayah memutuskan untuk mencuri salah satu sepeda yang terparkir. Cukup
lama untuk memutuskan mencuri sampai akhirnya ayah memiliki keberanian untuk
mencuri. Namun naas nasib ayah, karena dia kejar dan dipukuli warga sampai sang
anak menangis. Mereka pun memberikan sepeda itu kepada pemiliknya dan pulang.
2. Segmentasi Plot
Plot cerita berbentuk
naratif karena sebab akibatnya jelas.
3. Subjek (Utama & Pendamping)
Subjek utama (ayah), pendamping (anak)
4. Konsep Ruang
- Story Space;
Italia
- Plot
Space; kamar karena ada lemari dan tempat tidur, gereja karena ada kursi
gereja, took sepeda bekas karena banyak sepeda using, kantor polisi karena
banyak barang-barang yang memiliki sangkut paut dengan kepolisian,
gorong-gorong karena arsitekturnya, perkampunagn kumuh dengan segala
artistiknya, dan sebagainya.
- Screen
Space: kama, gereja, tempat kumuh, kantor polisi, pasar sepeda bekas,
restaurant, dan sebagainya.
5. Konsep Waktu
- Temporal
Order; linear
- Temporal
Duration;
a. screen
duration: 1 jam 30 menit 40 detik
b. story
duration: sekitar 1 minggu/7hari.
c. plot duration: nunggu panggilan kerja 2 jam, beli sepeda 1
jam, di kantor polisi 1 jam, makan di restaurant 1 jam, di gereja 3 jam, di
perkampungan maling 3 jam.
- Temporal
Frequency; sedang asik bekerja munculah 2 orang maling dan suami harus mencari
sepedanya namun sulit sekali menemukan sepeda walau sudah minta bantuan polisi,
teman, dan menjelajahi tempat-tempat baru bersama anak lelakinya.
6. Pola Penceritaan
- Opening;
baru saja di terima kerja namun harus memiliki sepeda.
- Closing;
sad ending, dia tidak menemukan sepedanya tapi malah di pukuli warga ketika
mencoba mencuri sepeda. Tetapi bias juga open ending jika saja akan dibuat
kelanjutan pencarian tetapi sepertinya ayah sudah lelah.
- Pola
perkembangan penceritaan; niat ingin membahagiakan keluarga dengan pekerjaan
dan sepeda baru malah sepedanya di curi dan mendapatkan perlakuan tidak baik
dari sekitar.
7. Struktur Dramatik
Art Cinema. Paling jelas terlihat
bahwa bukan happy ending.
KONSEP GAYA
FILM
Konsep Mise
en Scene
1. Setting & Properti
- Elemen-elemen
setting dan property: kawasan kumuh, gereja, sepeda, sprei bekas.
- Fungsi :
Informasi Ruang (kawasan kumuh, gereja, tempat penukaran barang, pasar sepeda
bekas, restaurant, hujan), Informasi Waktu (pagi hari menerima surat, siang
hari membeli sepeda, pagi hari membersihkan sepeda), Status Sosial (pakaian dan
penataan atristik), kondisi tertentu (ayah merasa kesal saat dia mencuri sepeda
dan dihajar warga), mood (sedih saat kenyataan tidak sesuai ekspektasi),
pendukung aktif adegan (seluruh property dan setting menghidupkan cerita ini
dengan baik)
- Kontribusi
untuk cerita; saat sepeda yang harus ayah punya (karena sepeda merupakan barang
yang cukup mahal dan banyak digunakan orang-orang pada umumnya pada masa itu)
- Motivasi; karena
ini bercerita tentang keluarga menengah ke bawah maka, sepeda cukup membuat
kesan walaupun bias didapatkan termasuk kategori barang yang mewah.
2. Kostum
- Elemen-elemen
Kostum; topi, baju, sepatu, tas, kaus kaki, celana.
- Fungsi :
Informasi Ruang (pakaian orang-orang yang sederhana), Informasi Waktu(sesuai
pada masa 1948), Status Sosial (pakaiannya kumuh dan simple),
image/kepribadian/symbol (wanita yang memakai dress sederhana dan sepatu
pantopel yang menunjukan karakter wanita feminine yang sederhana), motif
penggerak cerita (pemilihan kostum pemain yang sederhana dan termasuk kumuh
membuat cerita semakin menampilkan unsur yang kuat)
- Kontribusi
untuk cerita; kostum-kostum yang dipilih seperti baju ayah yang kumuh namun
dengan topi baru dari kantor yang sangat baik sebagai penggerak cerita.
- Motivasi;
memperkuat pengadeganan bahwa pekerjaan adalah hal yang wah.
3. Make up & Hair-do
- Jenis
make-up (natural / karakter); natural
- Fungsi
make-up (informasi usia /informasi ketaklaziman); usia sesuai dengan peran yang
dimainkan, semuanya masih dalam batas lazim sebagai keluarga yang bisa
dikatakan miskin.
- Kontribusi
untuk cerita; make up natural yang cenderung kumuh.
- Motivasi;
semakin memperkuat cerita bahwa bukan saja sulit untuk makan dan lainya, bahkan
untuk membersihkan diri saja sangat sulit, ditambah adanya adegan mengambil air
secara antri.
4. Ekspresi & Gerak Figur
- Gerak figur
(bloking); contoh adegan yang walk away saat ayah mengambil surat, walk in saat
ibu-ibu menggendong anaknya masuk ke gereja.
- Ekspresi figure;
natural.
- Motivasi;
segala ekspresi dan gerak disesuaikan dengan kebutuhan pengadeganan.
5. Pendekatan Mise en Scene
- Realisme, Imajinatif
atau Hollywood Spectacular; menurut saya realisme karena hal-hal yang terjadi
dalam film ini bias saja dan memang akan terjadi sekiranya dialami oleh
penonton.
- Motivasi;
menunjukan bahwa film ini sederhana tentang kehidupan sehari-hari salah satu
keluarga yang kekurangan dan tertimpa musibah.
Konsep
Sinematografi / Videografi
I.
Pencapaian
Mood (Suasana): suasana kota besar pada tahun 1940an.
II.
Pencapaian
Look: keluarga miskin di pinggiran kota.
1. Framing
- Aspect
Ratio; academy standart 1.33:1 (4:3)
- Type Shot;
a. Extreme
long shot: saya belum menemukannya.
b.
Long shot: pria hendak berlari
menghampiri Richie. (Richie cukup jauh dari tempat pengumuman, mungkin Richie
putus asa namanya tidak dipanggil)
c.
Full shot: jembatan. (ayah dan anak
melewati perjalanan yang jauh)
d.
Medium long shot: pria duduk di
ranjang dan wanita berdiri dekat jendela. (kamar yg cukup kecil namun harus
memuat kaeadaan/suasana)
e.
Medium shot: pria bertopi menawarkan
bell sepeda pada anak. (agar meja tempat barang dagangan terlihat jelas dan
ekspresi cukup jelas)
f.
Close up: anak kecil menangis setelah
ditampak ayah. (focus keekspresi kesedihan si anak)
g.
Medium close up: ayah berbicara
sambil duduk di meja restaurant. (selain focus pada pengadeganan, focus juga
pada makanan yang ada di meja)
h.
Close shot: kakek memberikan teropong
untuk dijual. (focus pada benda yg dijual)
i.
Two shot: suami istri berbicara di
kamar. (pendalaman pembicaraan)
j.
Three shot: ayah, anak, melihat
wanita mencuci piring. (ayah dan anak melihat keadaan sebelum menghampiri
tujuannya)
k.
Four shot; ayah berbicaar dengan
wanita dukun. (pria berbicara dengan wanita yang sangat dihormati dan memiliki
asisten)
l.
Group shot: orang-orang di tempat
tinggal pencuri menghakimi ayah. (tentang keramaian kota pinggiran)
m.
Over shoulder shot: ayah dan anak
berada dalam mobil seseorang. (sudut pandang dari bangku belakang dan keadaan hujan
deras)
Posisi kamera angle;
a.
Eye level: ayah berbicara dengan
temannya di lorong. (tingkat ayah dan temannya sama)
b.
High angle: ayah naik ke jalan dari
tepi sungai. (jalan itu cukup tinggi)
c.
Top angle/bird eye view: saya belum
menemukannya.
d.
Low angle: bapak pemberi kabar
berbicara dengan orang-orang di bawahnya. (dia berada di atas beberapa
anaktangga)
e.
Frog eye view: anak membetangkan
jaketnya. (dia ada di tepi tangga)
f.
Canted angle/crazy angle/dutch angle:
saya lihat belum ada.
Mobile framing (gerak kamera/lensa);
a.
Pan (panoramic): ayah dan anak
bingung lalu lari kearah berlawanan. (memperluas gerak dan tempat tujuan mereka
berlari)
b.
Tilt: kedua wanita yang berlutut
berdoa di gereja bangkit berdiri. (shot gambar pergerakan kedua wanita jelas)
c.
Track: saya belum melihat adanya
pergerakan ini.
d.
Crane: belum ada.
e.
Jimmy jib: bentuk baru dari crane,
mungkin belum ada.
f.
Hand held: kemungkinan hampir
keseluruhan adegan menggunakan hand held.
g.
Steadycam: gambar masih shake,
mungkin belum menggunakan teknik ini.
h.
Zooming: foto-foto wanita dalam
majalah. (kejelasan gambar pada majalah)
i.
Freeze frame: belum ada.
Komposisi visual;
a.
Simplicity: aayh memasang poster.
(kenyataannya orang yang memasang poster memang seperti itu)
b.
Rule of thirds: ayah membonceng
anaknya dengan sepeda yang baru dibeli. (menjelaskan bahwa adanya kegiatan lain
disebelah kirinya, misalnya mobil yang berjalan dan sebagainya)
c.
Memanfaatkan garis: shot rel kereta
yang di kota. (banyaknya jalan di kota yang membingungkan pencarian sepeda)
d.
Balance composition: wanita menyeret
ayah diantara meja makan. (si wanita tua mempermalukan ayah di depan banayk
orang yang sedang makan, menunjukan bahwa si ayah sangat menggangu)
e.
Geometric shape: ayah berbicara pada
wanita dukun (triangle shap).
f.
Frame di dalam frame: ayah mengunngu
sepeda di balik jendela loket. (memperkuat bahwa untuk membeli sepeda bekas
saja hal yg mewah sehingga harus diambilakn)
g.
Overlapping elements (elemen tumpang
tindih): wanita dukun berbicara di kamarnya, terlalu banayk di kanan karena di
kirinya kasur. (bahwa sekumpulan orang-orang sangat antusias menemuinya)
h.
Bentuk/posisi: ayah berdiri sedangkan
para lelaki tua duduk di kursi gereja. (ayah hendak beradegan/menghampiri
pria-pria tua yang sedang duduk)
i.
Cahaya: yang terbentuk tergantung
konsep penceritaan tiap adegan, seperti saat ayah bersiap pergi kerja, maka
cahaya timbul dari celah-celah jendela. (penunjuk waktu bahwa matahari berada pada
titik rendah, bisa pagi)
j.
Warna: hitam putih. (belum mampu
membuat film berwarna)
k.
Ruang dalam framing: on screen space
dan off screen space terasa saat pergerakan kamera di restaurant. (shot ayah
dan anak bersebrangan dengan keadaan meja sebelahnya)
l.
Durasi shot: short take banyak
digunakan, contoh long take dibanyak tempat terutama saat berjalan. (mengikuti
objek dan memberi sensasi bahwa kita sedang berjalan)
2. Lighting
- Gaya
penataan cahaya; tampak sederhana namun saya yakin bukan hal sederhana dalam
penataan cahaya, karena cahaya factor kuat dalam pembentuk suasana.
- Pendekatan
teknis (available light /artificial light); keduanya ada. Beberapa shot yang
memiliki efek cahaya mempuni bias menggunakan available light namun beberapa
adegan terutaman dalam ruangan pasti membutuhkan artificial light.
3. Tonalitas
- Brightness
a.
Brightness tinggi: adegan di luar
ruangan.
b.
Berghtness rendah: adegan dalam
ruangan.
- Kontras
a.
Contras tinggi: adegan dalam ruangan.
b.
Contras rendah: adegan di luar
ruangan.
Untuk brightness dan contrast saya agak bingung karena
film ini masih hitam putih, tentu saja kedua aspek ini digarap untuk menandakan
tempat dan waktu.
- Warna; warna
dingin. (karena bercerita tentang petualangan ayah dan anak yang mencari sepeda
yang dicuri)
Konsep
Editing
1. Hubungan Antar Shot
- Dimensi
Grafis
- Graphical continuity; kontinuitas sudah sangat baik cerita ini memiliki alur maju/linear, grafik dalam film ini simple karena film sudah seperti film masa sekarang.
- Graphical match; menurut saya kecocokan grafik sangat baik untuk film tahun 1940-an.
- Graphical contrast; karena film ini masih hitam putih dan pencahayaan yang beraturan maka kontras grafik sudah sangat baik dan sesuai dengan alur cerita yang ingin disampaikan.
- Dimensi
Ritmis
- Ritme internal (frame memiliki ukuran yang sama, gerak normal, suara/dialog sesuai)
- Ritme external juga menggunakan 3 tipe ritme konstan, dipercepat, dan diperlambat dan film ini sudah memiliki seluruhnya.
- Dimensi
Spatial (berdampingan, saat berbicara dimobil)
- Dimensi
Temporal menggukan 2 tipe time ellipsis/diperpendek saat
adegan menyetir dan overlapping/diulang (kebetulan saya belum menemukannya
dalam film ini).
2. Metode Penyambungan
- Cut to cut
(Match Cut & Cut Away); wanita naik ke ranjang dan berbicara.
- Optical
Effect (Fade [dari adegan ayah ibu turun tangga, kemudian anak membersihkan
roda sepeda], Dissolve [ayah sedang berbayang dan muncul shot lain] & Wipe
[tidak ada])
3. Konsepsi Editing
- Spatial
Continuity
* Kaidah 1800/3600; ayah berbicara dengan kakek tua digereja.
* Eyeline match; ayah berbicaar dengan temannya.
* Screen Direction; ayah melihat si pencuri dan si pencuri
melihatnya.
* Shot/Reverse Shot; ayah melihat-lihat sepeda yang mungkin
sepedanya ditempat pengumpul sepeda.
* Match on Action; keseluruhan spatial continuity membuat
match on action.
- Temporal
Continuity
* Temporal Order; Linear
* Temporal Duration
-
story duration: sekitar 1 mingguan.
-
plot duration: makan di restaurant 1
jam, berdebat dengan istri di kamar 1 jam, mencari sepeda di toko sepeda 2 jam.
-
screen duration; 1 jam 30 menit 40
detik
* Temporal Frequency; sejujurnya saya belum terlalu memahami
ini.
4. Gaya & Teknik / Metode Editing
Dasar:
- Intercut; ayah dan anak berbicara sambil bersandar di tepi tembok sungai. (berada dalam waktu dan tempat yang sama)
- Pararel editing/cutting; saya belum menemukannya.
- Cross-cutting; tidak ada.
metode lain:
- Sequence shot; tidak ada.
- Cutting to continuity; hampir semua metode manggunakan editing jenis ini.
- Classical cutting; saya belum dapat menemukannya pada film ini.
- Thematic montage/Multi Plot; tidak ada.
- Abstract cutting; perjalanan saat di mobil. (terlalu lama jika shot jalan secara terus menerus)
- Continuity cutting; selesai menunggu hujan, ayah dan anak melanjutkan pencarian, sekarang shot dari tempat berbeda namun berurutan. (sudut pandang penonton di tempat berbeda)
- Dynamic cutting; setelah fade in. (mempersingkat waktu penceritaan/penghemat shot)
- Jump cut; saya belum menemukan metode ini.
- Rapid cutting/fast cut; menurut saya semuanya masih dalam kondisi normal bahkan saat pengejaran.
- Non-diegetic insert; saya belum menemukan metode ini dalam film.
Konsep Suara
1. Unsur Suara
a.
Dialogue; banyak percakapan.
(meminimalisir shot)
b.
Monologue; tidak ada.
c.
Direct address; tidak ada.
d.
Narasi; kebetulan film ini tidak
menggunakan narasi.
e.
Voice over; tidak ada.
f.
Interior monologue; suara rebut
orang-orang saat polisi membantu ayah melihat sepeda. (keadaan itu memang di
pasar)
2. Dimensi Suara
- Dimensi
Ritmis; butuh ketelitian lebih untuk mengetahui ritme tetapi
menurut saya ritmenya sudah berjalan dengan baik.
- Dimensi
Fidelity; sudah sangat sesuai pada setiap adegannya, semua unsur
suara bisa menjelaskan maksud dan memperkuat pengadeganan.
- Dimensi
Temporal
* Synchronous Sound / Asynchronous Sound ; Keselarasan
yang sangat presisi.
* Simultaneous Sound / Non-Simultaneous Sound ; antara
gambar orang yang sedang diwawancara dengan pembicaraannya.
- Dimensi Spatial
* Diegetic On-Screen; suara hujan. (suara atmosphere)
* Diegetic Off-Screen; shot anak sedang minum dan ada musik.
(kejelasan lingkungan, apa saja dan siapa saja yang ada dalam ruangan tersebut)
* Non-Diegetic; suara music saat ayah hendak mencuri sepeda.
(mempertegas pengadeganan yang terlarang/secara diam-diam/tanpa persetujuan
orang lain)