Resensi: Last Year at Marienbed
Secara
harfiah, film ini hanya mengisahkan kisah cinta perempuan bersuami yang
berselingkuh dengan laki-laki lain. Jika melihat lebih dalam, Last Year at
Marienbad bercerita tentang benarkah kejadian yang ada dalam film merupakan
kejadian nyata pada
tahun lalu di Marienbad, atau sosok pria selingkuhan
hanyalah khayalan yang muncul menjadi tokoh nyata dari novel yang dibaca si
tokoh perempuan, atau bahkan pria dalam novellah yang menjadi narator dalam film
ini—jika hal itu terbukti, maka kita menonton kenyataan dari sudut pandang
khayalan—bisa juga diartikan bahwa karakter novella yang jatuh cinta pada
pembacanya.
Film besutan sutradara Alain Resnais pada tahun 1961
ini memberikan visual yang menurut saya cerdas. Film ini membuat objek yang
bergerak dengan cara diam, dengan kata lain, film ini memiliki pola/warna yang
diumpamakan seperti kita menyusun kursi A, B, C, D, dan E, kemudian kita
menggeser kursi itu menjadi A, C, D, E, B kesannya tidak bergerak namun ketidak
bergerakan itu adalah gerakan itu sendiri. Contoh dalam film ini, ketika
orang-orang berdiri di taman, orang-orang memiliki bayangan tapi tidak ada
bayangan pohon di sekitarnya padahal masuk dalam area dengan arah matahari yang
seharusnya sama dengan yang menerangi orang-orang di taman, atau bisa juga pada
permulaan film ketika orang-orang menonton teater dan semuanya tidak bergerak
sehingga justru menciptakan gerakan.
Secara pengadeganan, keintiman tokoh
perempuan, suami, dan laki-laki selingkuhan tampak sangat intim-berjarak.
Terdapat perasaan (ikatan) yang ada di dalam setiap tokoh ketika saling
berhubungan satu sama lain, di sisi yang sama, seperti ada kaca yang membatasi
keintiman mereka. Jika saya gambarkan, seperti saling menatap di tempat yang
sama namun berada dalam dimensi yang berbeda.
Membahas suara dalam film Last Year
at Marienbad menjadi sangat penting karena banyak yang tidak sinkron hingga
sangat mengganggu visualnya. Seperti yang saya sebutkan di atas, siapakah
sebenarnya narator dalam film ini bahkan siapakah sebenarnya para karakter
dalam film ini. Contohnya, terdapat visual laki-laki yang berbicara seakan narator,
ternyata bukan laki-laki itu yang berbicara melainkan narator yang mungkin saja
karakter novel, atau mungkin kenyataan. Pada umumnya, film memiliki atmosfir,
nyatanya film ini tidak memberikan hal itu, seperti pada bagain berdansa yang
seharusnya ramai, di taman yang seharusnya ada angin atau kicauan burung, dan
lainnya. Atmosfir malah diganti dengan musik yang terdengar memaksakan dan
membuat telinga tidak nyaman. Suara dalam film ini terbatas pada objek yang
bersentuhan dengan subjek—suara sepatu menyentuh tangga ketika tokoh perempuan
naik tangga, laci yang si perempuan buka, tembakan ketika perempuan ditembak,
gelas yang pecah dan lain sebagainya—secara langsung yang seakan mengajak
penonton untuk mengabaikan hal lain selain aksi dan reaksi ketiga tokoh
tersebut.

Comments
Post a Comment