Don't Be Good, Be Evil
Saya sudah
lama memikirkan hal ini. Kira-kira beberapa hari setelah diskusi ‘besar-besaran’
dengan
salah satu klub-sejenis
komunitas atau organisai-atau hanya
sekadar manusia-manusia yang berkumpul menyatukan (mencari) persamaan
idealismenya. Aku belum memiliki deskripsi tentang perkumpulan ini atau mungkin
hanya manusia-manusia yang kebetulan bertemu, untuk memudahkan, anggap saja Klub.
Dalam
pertemuan ini, hal yang dibahas tentu saja menyangkut filsafat, politik, atau
agama, atau apapun yang dekat hubungannya dengan diri si penyampai pesan si
pendengar. Pada dasarnya, intinya hanya 1, tidak
ada kebenaran hakiki.
Ini menjadi
masalah besar karena sebagai manusia, kita dituntut menjadi orang baik. Ketakutan
paling kecil adalah neraka dan ketakutan besar adalah penjara atau sebenarnya
kehilangan kepercayaan dari orang yang sangat diharapkan.
Ada sedikit
peretas semenjak aku kecil-sekitar
keals 4 atau 5 SD-yang kurasa cukup berbahaya
ketika kusadari sekarang. Aku selalu tidur larut bahkan ketika waktu beranjak
pagi, salah satu yang paling aku takutkan adalah suatu ketika, aku melihat
tanganku berubah menjadi tengkorak, aku sangat takut hantu waktu itu, menurutku
tengkorak itu hantu. Takut sekali. Aku merasa aku akan mati dan menjadi sangat
jelek.
Semenjak imaji
itu membuncah, aku memutuskan untuk masuk salah satu komunitas keagamaan. Sayangnya,
aku sering bermasalah di sana. Hal yang pernah aku ingat, pertama kali aku
masuk, ada seorang anak perempuan yang sangat baik terhadapku, ternyata saat
itu dia dimusuhi oleh segerombolan teman-teman di komunitas itu. Permusuhan itu
menyebabkan kakiku disandungkan hingga jatuh, di depan mimbar doa.
Ada banyak
hal yang aku tidak pahami, kenapa ada surga, neraka, ada ini, ada itu, persetan dengan semuanya. Kenapa manusia-manusia
itu tidak menjelaskan bahwa dongeng-dongeng itu hanyalah sebuah karangan
manusia yang memiliki pengalaman mempuni dan kecerdasan di atas rata-rata, lalu
menulis berdasarkan ilmu filsafat? Bodohnya aku. Nggak mungkin, mana mau agama
berabad-abad lalu di samakan dengan filsuf lulusan universitas ternama beberapa
ratus tahun lalu. Ilmu filsafat juga baru-baru saja ditemukan, kan? (Politik?)
Masalah
politik, kemarin, aku sempat berdebat dengan seorang petugas kecamatan karena
aku ingin menghapus agama di KTP-ku. Lalu, aku juga dimarahi oleh mama.
Alasannya, hanya ada satu agama yang di data di Indonesia ketika kamu
memutuskan untuk menghapus agama di KTP-mu, sayangnya pada saat ini dunia sedang
bermasalah dengan hal itu. Jadilah anak baik, Nak.
Baik? Aku gak bisa jadi orang baik. Contohnya begini.
Aku tumbuh
di lingkungan yang tak pernah bisa menerima keberadaanku. Aku serba salah
dengan apa yang (kebanyakan) aku lakukan. Aku mengklaim bahwa mereka berada
jauh di atasku, seharusnya mereka tidak perlu mengusik hidupku, karena aku
tidak ada gunanya di mata mereka. Tapi apa? Aku bahkan pernah berusaha untuk
membenci diriku sendiri demi mereka. Tidak ada habisnya mereka mengusikku.
Aku lelah
berpikir baik jika keadaan tidak membantuku untuk menjadi baik. Apa guna dan
keuntungannya untukku? Masuk surga? Maksudmu, salah satu dunia karangan seorang
penulis bijaksana berwawasan luas yang dibukukan dan ditenarkan-dipromosikan besar-besaran-menjadi kitab? Menurutku, surga itu ada. Aku membuktikannya di
dunia ini, maka jika aku berpikir untuk masuk surga nanti, untuk apa? Aku
menemukan surga di sini. Setiap saat.
Beberapa
orang berkeluh kesah tentang perlakuan orang lain terhadapnya. Makanya
muncullah komunitas-komunitas yang-setidaknya--membantu
(meringankan) mereka. Mereka berkumpul atas landasan sakit hati. Komunitas
juga terkumpul atas dasar tekanan atas nama kebaikan yang sebenarnya
membuat seseorang merasa tertekan. Untuk apa? Kebebasan, surga, kebahagiaan.
Aku bingung
kenapa orang-orang membedakan dirinya? Membuat kasta namun menghancurkan kasta
itu sendiri. Contohnya kerabatku;
·
Dia menganggap orang-orang yang ngongkrong di trotoar
itu seperti A, kemudian kerabatku merasa lebih nyaman menjadi B.
·
Sama juga seperti orang trotoar yang menganggap
kerabatku seperti B sedangkan mereka hanyalah B yang tidak tahu bagaimana
menjadi B.
·
Di sisi lain, A adalah seornag yang bermimpi menjadi A
dari B.
Lalu,
bukankah kita semua sama? Mudah bilang sama, semua kampanye menyerukan hal itu,
tapi tetap saja pendukung kampanye itu memiliki idealisme yang berbeda-beda.
Sama seperti klubku.
Aku lelah
harus memilih menjadi baik atau buruk. Aku manusia biasa yang tidak bisa
menjadi baik atau buruk sepenuhnya. Bahkan, nabi pun tidak selalu baik di mata
muridnya dan begitu seterusnya. Tapi, aku butuh ketenangan dalam diriku. Aku
lelah dengan perangkap yang memasung pikirannku sehingga merasa tidak bebas.
Aku marah pada setiap orang yang berusaha memasukannku dalam perangkapnya.
Mereka berpikir mereka memilikiku hanya karena mereka membentukku, meafkahiku,
menyentuhku, atau sekadar berpapasan denganku. Aku tidak tahu mengapa mereka
merasa begitu superior atas apa yang mereka lakukan padaku.
Mungkin
sekarang aku mulai mengetahui jawababnya, mereka tumbuh di antara orang-orang
yang rela mereka miliki. Dan aku merupakan aset ketika mereka mampu memiliku
sepenuhnya. Sejujurnya, aku pun sesekali merasa ingin dimiliki. Tapi, bagaimana
bisa ketika aku, pikirannku, tubuhku, bukanlah miliku sendiri? Bagaimana bisa
mereka merasa memiliki sesuatu yang utuh ketika apa yang ingin mereka miliki
bukanlah suatu keutuhan?
Untuk
menjadi hidup sebagai manusia normal, beradap, diterima oleh masyarakat. Aku
harus memakai topeng yang kubenci. Aku pernah marah atas apa yang aku lakukan
terhadap diriku, namun dengan sangat manis lelaki itu berkata, “Kita harus menjadi munafik karena tidak
setiap rang di dunia ini bisa kita perlakukan sama”. Aku kembali mengingat
masa kecilku, semua pikiran dan ketakutanku selama bertahun-tahun. Aku justru
memakai rasa takutku untuk memberanikan diriku.
Ada banyak asalan kenapa kamu harus berpikir kejam
jika tidak mampu berpikir baik. Orang-orang hanya mau melihat orang lain sesuai dengan
apa yang mau mereka lihat. Mereka tidak peduli dengan apa yang sebenarnya kamu
pikirkan atau yang sebenarnya terjadi pada dirimu. Maka, jika kamu ingin
membunuh seseorang karena rasa kesalmu, hindari itu, hentikan… sesaat.
Kenapa?
Dalam kehidupan, kamu mungkin akan
menemukan banyak bajingan seperti seorang yang sangat kamu benci dan sangat ini
kamu bunuh. Misalnya saja, ketika kamu membunuh seseorang itu lalu kamu
ketahuan, kamu dipenjara beberapa tahun, anggap minimal 10 tahun, atau mungkin
kamu akan dihukum mati. Betapa sia-sia dan kotor tanganmu karena satu bajingan itu.
Bila aku akumulasikan, waktumu 10
tahun yang di penjara, bisa kamu gunakan untuk memetakan orang-orang biadab
yang kamu temui selama ini. Kamu bisa membuat bom atau racun massal atau apapun
agar kamu tidak menyianyiakan waktumu yang 10 tahun itu, hanya karena satu
orang tidak berguna. Kamu bisa menggunakan waktu itu untuk melenyapkan puluhan
bahkan ratusan orang. Jika kamu tertangkap dan dihukum mati. Kamu pasti akan
lebih bangga dengan prestasi kejammu itu. Jadi..
Yah,
Seirinng berjalannya waktu.
Luka-luka dihatimu akan membentuk
sistem baru
Seiring berjalannya waktu
Kamu akan menamukan orang-orang yang
membantumu menyembukan luka itu
Seiring berjalannya waktu
Kamu akan belajar betapa tersiksanya
memiliki pikiran sekeji itu
Seiring berjalannya waktu
Kamu akan melihat betapa
menyedihkannya para bajingan
Seiring berjalannya waktu
Kamu akan sembuh sepenuhnya
Karena..
Aku pun pernah

Comments
Post a Comment