Mencari Penonton Indonesia (FILARTC)
Pada
era 80an produksi film Indonesia mencapai 721 film. Bioskop menyediakan
sejumlah 3000 layar. Rasio film local dengan layar bioskop 1:4. Saat ini film
Indonesia rata-rata mencapai 90 judul dengan ketersediaan layar sejumlah 774.
Rasio perbandingan menjadi 1:9.
Ilustrasi
di atas menggambarkan di tahun 80an daya saing film local dengan impor sangat
ketat, walaupun tema di tahun 80an seputar horror, komedi, seks, atau gabungan
ketiganya. Saat ini masih terasa film local melemah daya saingnya disbanding
film impor. Dibutuhkan rumusan strategi untuk mengembalikan kepercayaan
penonton Indonesia di pasar local.
Branding
di dunia film merupakan salah satu pemacu investasi film yang diharapkan mamapu
mensosialisasikan produk tertentu. Masuknya merek-merek produk ke dalam film
mampu meningkatkan produksi film Indonesia.
Peranan
penonton berandil besar dalam menjamin keberlanjutan produksi film Indonesia. Keberhasilan
film Indonesia dalam meraih box office merupakan nilai lebih bagi investasi
film.
Namun
pada kenyataannya film yang memuat visi merek produk tertentu dapat menjadi
boomerang bagi produksi film berikutnya jika tidak mencapai target penonton
yang diharapkan. Dalam hal ini produksi film pada akhirnya semacam menghadapi
mitos dalam mencapai target penonton di bioskop local.
Produser
dan sutradara yang filmnya mencapai box office harus menerima kenyataan ketika
ternyata target penonton pada film selanjutnya tidak ememnuhi target yang
diharapkan. Indonesia belum memiliki profil penonton yang dapat menjadi acuan
tolak ukur produksi film yang dapat meraih penonton yang stabil kuantitasnya.
Peranan
penunjang investasi film yang kondusif:
Maka
sebagai investor sebaiknya memiliki focus untuk film yang akan mereka
percayakan sebagai investasi. Investor harus pandai memilah film mana yang
tidak hanya menguntungkan dalam segi penayangan dalam bioskop. Tetapi jangka
panjang yang dipengaruhi oleh film tersebut. Misalnya film yang mengankat
derajat suatu daerah tepencil yang menungkinkan para penonton bukan hanya
tertarik dalam menonton film namun memiliki keinginan untuk mengunjungi bahkan
membantu kemajuan dari daerah tersebut, atau film yang mengandung unsur
benda-benda bernilai sejarah yang menungkinkan para penonton bisa menikmati dan
sebagai edukasi jangka panjang untuk pemulihan/pajangan museum.
Sebagai
produser film yang memiliki tanggung jawab besar atas penayangan sebuah film.
Seorang produser harus mampu mempertanggung jawabkan dan tetap meluruskan film
apa saja yang lagi-lagi dapat memberikan investasi jangka panjang yang mempengaruhi psikologis dan motovasi
para penonton. Tentu saja jika produser harus terfokus pada kuantitas penonton,
namun bukan berarti semena-mena mengikuti keinginan pasar dengan film yang tidak
erkualitas. Bagaimana pun seorang produser harus mamapu memfokuskan jenis film.
Film apa dan target apa yang hendak dia capai. Tidak dapat dipungkiri jika
kualitas mampu menembus box office tentu saja kemungkinan besar penonton lebih
mempercayai karyanya. Namun juga, selera penonton Indonesia yang labil dan
terkadang (sebagain besar kurang baik karena tingkat pendidikan) menjadi
hambatan untuk film-film selanjutnya. Lalu, inisiatif produserlah untuk secara
berkala melakuakan research yang dapat mengembangkan dan mempertahankan kuantitas
penonton tanpa menurunkan standart yang memungkinkan untuk masuk kategori box
office.
Film
maker sebagai penanggung jawab hasil dari sebuah film juga harus mampu
mempertahaknakan gaya tetapi tidak pernah takut untuk berekperiment. Film yang
akan ditayangkan tidak hanya keegoisan pembuat film namun harus sesuai dengan
keinginan pasar. Bukan berarti juga pembuat film hanya mementingkan keinginan
pasar. Namun, bagaimana bekerja sama dengan produser dan investor untuk
memberikan tempat sesuai dengan gaya sang pembuat film. Tanpa perlu meleyapkan
gaya si pembuat film dan keinginan produser serta investor.
Penonton
yang memiliki andil sangat besar sebagai penunjang investasi film. Harus mampu
secara sadar memberikan kesempatan untuk para pekerja film. Film Indonesia yang
mungkin saja dikatakan buruk bukan karena kesengajaan para pembuat film. Tidak
dapat dipungkiri bahwa hal itu berdasarkan fakor eksternal yaitu penonton. Jadi
sebagai penonton yang cerdas harus mampu mendukung pembuat film dan turut serta
memberika edukasi pada penonton/calon penonton lain untuk memberikan apresiasi
yang besar. Dengan hal ini, dengan kepercayaan yang diberikan. Film maker akan
dengan sangat bangga membuat film-film dengan standarisasi sanagt baik yang
bisa memuaskan kehausan penonton film Indonesia yang telah lama menunggu titik
puncak kesuksesan film kebanggan Indonesia.
Comments
Post a Comment