Resensi Film Dokumenter " BARAKA "
Baraka merupakan film documenter yang mengesankan.
Dilatarbelakangi oleh sutradara yang berasal dari Sinematografer (Ron Fricke).
Ron benar-benar membuktikan
kemampuan profesional sinematografernya. Baraka
memang memiliki label "non-narrative documentary", tapi bukan berarti
film ini tidak bertutur tentang apapun.
Unsur suara
dalam film Baraka menjadi benang merah dalam film ini. Sepanjang film, kita
disajikan musik-musik yang mengalur sesuai dengan ruang lingkup dalam frame.
Misalnya saja pada awal film, alur gambar yang disajikan terkesan lambat dengan
alunan musik yang menyesuaikan. Dari situ kita dapat memahami bahwa pada
awalnya, bumi ini tenang. Kemudian film ini mulai mempercepat temponya,
misalnya tentang jalur di Tokyo.
Berbeda
dengan film documenter pada umumnya, yang sering kali menampilkan unsur dialog
naratif untuk menjalankan cerita. Dengan alur sederhana, Baraka mampu menyulap
penontonnya dengan keindahan-keindahan yang ditampilkan. Kita disajikan
pemandangan-pemandangan indah, kehidupan manusia, dan aktivitas alam yang
menakjubkan. Ron sangat memahami setiap detail yang disajikan dalam frame.
Jika kita
mau memfokuskan, melakukan observasi lebih dalam, maka semua gambarnya bukan
hanya bagus tapi mengandung makna-makna tersirat yang dalam. Ron awalnya
mengajak penonton mengamati keindahan alam di berbagai penjuru dunia. Dengan
mayoritas dikemas secara slow-motion, kita diajak merasakan cantiknya semesta
ini. Tapi semesta tidak berdiri sendiri. Sebagai penguat keindahan Bumi ada
umat manusia. Mereka berdoa, berkesenian, melakukan upacara adat. Manusia hidup
dalam harmoni dengan alam. Tapi segala kekhidmatan tersebut perlahan berganti.
Industri
mengambil alih, terjadi ledakan populasi, kemiskinan merajalela, bahkan pohon
ditebangi secara liar. Keindahan yang menyejukkan berganti dengan kesan kumuh.
Keramaian kota New York, padatnya aktifitas di berbagai pabrik, teknologi
mendominasi, dan manusia pun semakin menjauh dari harmonisasi dengan semesta.
Circle of
life mendominasi film ini. Selain hubungan manusia dengan alam, tentu saja
perputaran roda kehidupan individu sendiri turut hadir. Berkesan religius, saat
kita akhirnya sampai pada momen penuh nuansa kematian. Bukan memperlihatkan
orang mati, melainkan berbagai makam atau monumen untuk arwah leluhur. Semuanya
memperlihatkan bagaimana lingkaran hidup manusia. Tidak peduli apa yang mereka
hadapi atau dapatkan, pada akhirnya kematian pasti menjemput. Adegan penutup
yang kuat kesan mistis tanpa terasa mengerikan melainkan puitis.
Comments
Post a Comment