Bagaimana cara menjadi sutradara yang ideal?
Seorang
sutradara adalah seorang nah
koda. Sedangkan kru-krunya adalah anak buah kapal.
Jika saya mendeskripsikan sebagai berikut. Film adalah sebuah tujuan dari
pelayaran itu sendiri. Jadi, sebagai sutradara yang membuat film. Dia harus
mampu, sangat mampu untuk membawa suasana dalam proses pembuatan film. Mulai
dari awal hingga akhir film itu tayang.
Saya
beberapa kali melihat dan merasakan bagaimana bekerja sama dengan sutradara
bahkan pernah menjadi sutradara. Saya tahu sekali, bahwa bukanlah pekerjaan
yang mudah untuk membuat sebuah film. Otomatis, pekerjaan menjadi sutradara
juga bukan hal yang bisa sembarangan atau main-main.
Pada
umumnya atau selama saya kuliah di sini. Sutradara yang bekerja sama dengan
saya bukanlah sutradara professional—belum menjadi sutradara profesional.
Oleh karena itu, masih banyak dari mereka yang mungkin belum memahami menjadi
sutradara yang baik dan benar.
Saya
sendiri masih belum terlalu mengetahui bagaimana menjadi sutradara yang baik
dan benar. Tetapi, jika hasil film itu baik dan para kru mau bekerja dengan
baik. Saya rasa itu adalah ukuran sutradara yag baik.
Selama
ini, sutradara terlalu egois jika ingin membuat film. Sebenarnya keegoisan
memang harus dibutuhkan agar setiap penonton dapat merasakan film yang
disutradarai itu berbeda dengan film-film lainnya. Masalahnya, kebanyakan dari
sutradara benar-benar menutup telinganya untuk mendapat masukan dari kru lain.
Misalnya
dari produser, mungkin benar produser sering kali memangkas keinginan sutradara
untuk alasan budget. Tapi, jika sutradara mampu mempertanggung jawabkan hasil
filmnya, saya rasa tidak akan jadi kendala bagi produser. Sutradara seharusnya
mampu dengan sangat bijak memakai dana yang diberikan. Sutradara dipakai bukan
hanya untuk memvisualkan hasratnya tetapi sutradara butuh penonton, karena
penontonlah yang akan selalu mendukung karya-karyanya. Jika hanya berfikir
tentang dirinya sendiri. Bagaimana sebuah film dapat dinikmati.
Dari
mata Director of Photography (Cameraman). Sutradara harus paham bagaimana
shot-shot akan diambil atau ditampilkan. Sutradara harus mampu bekerja sama
dengan DOP untuk membuat shot list. Sutradara juga harus mendengarkan dan
mempertimbangkan saran-saran dari DOP. Karena hasil gambar ini akan menentukan
hasil selanjutnya.
Dari
mata artistic desainer. Sutradara harus mempertimbangkan konsep apa yang ingin
dia bentuk di dalamnya. Sutradara berniat untuk merealisasikan apa yang ada
dalam pikirannya menjadi visual yang dapat dinikmati para penonton film. Untuk
merealisasikan hal itu, artistic desainer harus mengetahui dengan pasti apa isi
kepala sutradara tentang konsepnya. Maka sutradara harus menjelaskan secara
detail tentang itu semua.
Dari
mata sound desainer. Sama seperti kru lain, sound desainer sama pentingnya
seperti kamera karena pada saat penayangan visual. Gambar dan suara merupaka
satu kesatuan yang dapat menghidupkan suasana film itu.
Kerja
sama dengan kru lain. Sutradara memang perancang tertinggi dalam film. Mungkin
bisa juga dikatakan sebagai raja di film itu. Sebagai raja yang baik,
seharusnya buakn hanya mementingkan orang-orang yang berada tidak jauh darinya
tetapi juga orang-orang yang menjalankan profesi terendah. Jangan anggap remeh
profesi-profesi rendah karena mereka semua adalah nyawa dari film itu juga.
Sutradara
memang harus berkonsentrasi dengan baik untukfilm yang dia buat. Sutradara
harus sanagt paham tentang kru dan alat-alat yang akan sanagt membantunya.
Tetapi, sutradara tidak boleh manaj dalam hal kru dan alat. Tidak bisa
seenaknya sutradara menentukan kru tanpa paham apa yang ia inginkan dalam film.
Misalnya dia akan mengutamakan film bergendre drama tetapi menggunakan kru-kru
bergendre action karena banyak penghargaan, filmnya kan terasa seperti film
action. Atau misalnya sutradara menginginkan alat-alat pendukung yang aneh-aneh
yang sebenarnya keluar dari konsepnya. Itu hanya membuat film menjadi rancu,
terkecuali film itu memnag dikonsepkan untuk membuat penonton rancu.
Comments
Post a Comment