PROPOSAL FILM PENDEK DOKUMENTER

PROPOSAL FILM PENDEK DOKUMENTER

Globalisasi “Si
Doel”
Sebuah Film Dokumenter tentang Seorang Supir Mikrolet di Ibu Kota





Disusun Oleh:



PRODI S1
FAKULTAS FILM DAN TELEVISI
INSTITUT KESENIAN JAKARTA
2015
Judul:

Globalisasi "Si Doel"

Globalisasi: proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kemajuan infrastruktur transportasi dan sebagainya.

Si Doel: sinetron dengan judul asli "Si Doel Anak sekolahan" ini menjadi primadona pada tahun 1994an. Sinetron ini identik dengan kehidupan Jakarta dan penggunaan mikrolet.


Ide pokok:

Keuntungan menggunakan mikrolet.


Tema:

Penggunaan mikrolet yang berdampak positif bagi warga Ibu Kota.


Latar belakang:

Tujuan pemilihan topik ini adalah, untuk menelaah bagaimana kebijakan pemerintah dalam menanggulangi kemacetan di Ibu Kota, menggunakan moda transportasi umum.


HASIL RISET LAPANGAN

  1. Data Fisik Subjek:
  • Nama: Dusini Abdullah
  • Usia: 67 tahun
  • Jenis kelamin: Laki-laki
  • Postur tubuh: Sedang
  • Sifat pribadi: Energik, ceria,
  • Mimik: Bersemangat, Ramah
  • Cara bicara: tegas, penuh semangat
  • Kebiasaan pribadi: Menyupir angkot setiap hari, mengaji

2.                  Data Sosiologis:
  • Suku: Padang
  • Agama: Islam
  • Alamat Rumah: Kenari
  • Pendidikan: tamat SD
  • Profesi: Supir Angkutan Kota
  • Kondisi hidup: Tinggal di rumah bersama
  • Keluarga: Ayah dari 3 anak
  • Hobi: mengaji

3.                  Data Psikologis:
  • Ambisi pribadi: Hidup bahagia
  • Frustrasi: Memendam emosi, dan melampiaskannya melalui ekspresi (marah).
  • Sikap hidup (tujuan): Membahagiakan keluarga.
  • Kelemahan pribadi: Tidak memiliki cita-cita lain, selain membahagaiakan keluarga.
  • Intelegensi/bakat pribadi: Mengaji

4.                  Data Lain        :
  • Selalu membawa bekal yang ditaruh dalam plastic/kantong keresek


SINOPSIS
Jakarta adalah Ibukota Indonesia yang penuh dengan kesibukan setiap harinya. Mulai dari pekerja kantoran, pedagang, dan pejalar pada hari kerja, sampai yang berekreasi pada hari libur. Karena kesibukan itulah, Jakarta menjadi kota yang indentik dengan kemacetan. Berbagai cara telah dilakukan untuk menanggulanginya, tapi sampai sekarang hasilnya masih nihil. Kali ini, pemerintah DKI Jakarta menggencarkan pemakaian transportasi umum untuk mengatasi kemacetan di Jakarta yang semakin parah.
Pengaruh gaya hidup dan ekonomi masyarakat membuat kendaraan pribadi lebih mudah dimiliki. Mayoritas penduduk Jakarta  memilih untuk memakai kendaraan pribadi. Hal itu termasuk pemborosan karena kendaraan kapasitas besar (misalnya: mobil SUV), hanya diisi dengan orang yang sangat sedikit jumlahnya. Kita coba kembali pada Jakarta dahulu, pada masa di mana mikrolet adalah angkutan kota yang ramai. Selalu diandalkan untuk membawa penumpang kemanapun yang mereka mau. Mikrolet lebih efektif untuk mengurangi kemacetan karena satu mobil bisa mengangkut orang yang cukup banyak. 

TREATMENT
15 menit

Globalisasi “Si Doel”
Kisah Seorang Supir Mikrolet di Ibu Kota
Oleh Andreas, Sofia, Tamara, dan Welly

Jakarta adalah kota besar di mana masyarakat asik dengan kesibukannya. Sayangnya kesibukan kota Jakarta bukan hanay dari masyarakatnya. Tetapi juga lalu lintas yang semakin padat. yang dikumandangkan dari sebuah masjid. Matahari mulai terbenam, menandakan peralihan waktu dari sore menuju malam. Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, yang dipanggil Selo sedang berwudhu di kamar mandi rumahnya. Selo berjalan menuju kamarnya dan menunaikan ibadah shalat.

Selo bersepeda menuju tempat ia biasa bermain bersama teman-teman sebayanya. Selo bermain bola dengan bersemangat. Selo bercerita kalau teman-temannya banyak yang sudah khitan. Ia mengaku kalau keinginan untuk khitan muncul dari diri sendiri dan bukan dorongan dari orang tuanya. Selain itu Selo juga bercerita kalau ibunya percaya bahwa kalau bayi dikhitan akan menyebabkan si anak kelak sulit tumbuh tinggi, sehingga ia tidak dikhitan sejak balita.

Orang tua Selo menghubungi kerabat yang lain untuk datang ke acara syukuran khitan Selo yang nanti akan diadakan pada hari Minggu. Selo dan orang tuanya menghabiskan malam bersama. Kedua orang tua Selo menonton televisi di kamar, sedangkan Selo melakukan hobinya menggambar anime. Orang tua Selo menyarankan untuk segera tidur karena besok akan dikhitan. Sebelum beranjak ke tempat tidur, Selo memberi makan ikan cupangnya.

Suasana Jumat pagi, terlihat beberapa aktivitas warga di sekitar rumah Selo. Di dalam rumah Selo sendiri, kakak Selo menggoda adiknya mengenai kesiapannya dalam menghadapi khitan. Ibu Selo dibantu asisten rumah tangga mempersiapkan masakan untuk acara tahlilan. Selo beserta keluarganya masuk ke dalam mobil hendak bergegas menuju klinik.

Suasana perjalanan menuju klinik, mobil melaju dengan kecepatan sedang melalui gang-gang yang berliku dan cukup ramai. Mereka pun tiba di klinik. Orang tua Selo mengurus registrasi, sementara Selo didampingi kakaknya menunggu di depan ruang bedah. Selo menyatakan kalau ia berani menghadapi proses khitan dengan senyum malu.

Proses khitan pun akan dimulai, dan dokter menanyakan kesiapan Selo. Selo merebahkan dirinya di atas meja operasi dengan memakai sarung. Dokter menyuntikan obat bius di sekitar alat kelaminnya. Selo menahan rasa sakit. Setelah obat bius dianggap bereaksi, dokter melanjutkan proses operasi khitan dengan menggunting kulit luar penisnya. Setelah selesai, bekas khitan diberi pelindung dengan benda menyerupai selongsong peluru. Selo turun perlahan dari meja operasi. Keluarganya tersenyum lega dan memberikan pujian atas keberanian Selo.

Selo beserta keluarga kembali ke rumah. Keluarga dan tetangga berkumpul di rumah Selo untuk membacakan doa dipimpin oleh ustad. Selo dianjurkan oleh orang tuanya untuk istirahat.

Pagi hari Selo dibangunkan oleh Ayahnya untuk bersiap siap mandi. Selo yang masih mengantuk pun masih bermalas-malasan diatas kasunya. Melihat Selo yang masih bermalas-malasan, ayah Selo memaksa Selo untuk cepat bangun dan mandi agar bisa membersihkan bekas khitannya. Saat mandi Selo pun berhati hati agar penisnya tidak terkena dengan air. Di siang hari Selo bercerita mengenai pengalaman dan perasaannya setelah khitan. Selo meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk keluar bermain futsal bersama teman-temannya.

Pagi hari yang sibuk, ibu Selo terlihat repot menyiapkan makanan dan ruangan dibantu oleh kakak selo untuk acara syukuran di siang hari. Ayah Selo pun berbicara dengan tetangga sebelah rumah untuk tidak lupa hadir di acara syukuran siang hari nanti. Terlihat Selo sedang mengobrol dengan kakeknya dan dia minta kado kepada si kakek untuk khitannya.

Keadaan rumah Selo pun mulai ramai dengan tamu tamu undangan, dan Selo pun mulai menyiapkan diri dengan berpakaian adat menggunakan blangkon. Proses syukuran dilaksanakan dengan membaca doa terlebih dahulu. Para tamu undangan makan-makan dan bercengkerama. Selo terlihat senang karena mendapatkan banyak amplop berisi uang untuk membeli handphone baru.





JADWAL PRODUKSI

NO
DATE
PRA PRODUKSI
1
10 Oktober 2015
Riset (observasi, studi literatur, wawancara)
2
20 Oktober 2015
Penganggaran budgeting
3
20 Oktober 2015 – 25 Oktober 2015
Breakdown Naskah (shot list , narasi)
4
10 Oktober 2015
Pencarian narasumber
5
10 Oktober 2015
Pencarian subjek
NO
DATE
PRODUKSI
1
9 November 2015
Syuting kegiatan subjek
2
7 November 2015
Syuting subjek (video wawancara)
3
10 & 11 November 2015
Syuting establish
NO
DATE
PASCA PRODUKSI
1
15 November 2015
EDL (Edit Decision List), Assembly
2
19 November 2015
Selection of shot, rought cut
3
23 November 2015
Fine cut, Picture Lock
4
25 November 2015
Color Gradding , color corection, text
5
28 November 2015
Audio Mixing, Mastering Quality,


BIAYA PRODUKSI

NO
DESCRIPTION
PRICE
UNIT
COST
TOTAL
PRA PRODUKSI
2
Print Proposal + jilid
Rp 15.000
1
Rp 15.000

3
Print shot list + schedule
Rp 3.000
1
Rp 3.000

4
Transportasi dan makan (riset)
-
1
-

5
Kamera (milik pribadi)
-
1
-

6
Biaya tak terduga
Rp 100.000

Rp 100.000

Sub Total
Rp. 128.000
PRODUKSI
1
Transportasi (bensin)
Rp 200.000

Rp 200.000

2
Makan dan snack
Rp 50.000
4
Rp 200.000

3
Kamera & recorder (milik pribadi)
-
1
-

5
Honor (Narasumber, subjek)
Rp 100.000
2
Rp 200.000

6
Biaya tak terduga
Rp 150.000

Rp 150.000

Sub Total
Rp 780.000
PASCA PRODUKSI
1
DVD
Rp 10.000
2
Rp 20.000

2
Cover DVD
Rp 5.000
2
Rp 10.000

Sub Total
Rp 30.000
Total
Rp 938.000


Comments

Popular posts from this blog

Marselli Sumarno (Wawancara Singkat)

Sedekit PR untuk FFI