Contoh Pembuatan Treatment dari Cerpen untuk Tugas Produksi 1 scene
Pembunuhan
di Ruang Belajar
Treatment :
1.
Rumah Detektif Harlan
Saat itu malam yang gelap dan
dilanda badai petir. Sambaran petir membelah langit di atas rumah Detektif
Harlan.
Harlan berfikir bahwa ia sangat beruntung tidak harus pergi. Ia menatap keluar jendela tebal, kabut dingin telah menelan seluruh area sekitar. Ketika sekitar rumahnya tenggelam dalam kabut yang tampak mengerikan, Harlan menduga mungkin suhu udara mencapai 5 derajat sekarang, suhu yang terlalu dingin untuk hal lain selain menikmati teh hangat dan membaca buku. Harlan meneguk tetes terakhir teh jasmin beraroma kuat, dan beranjak ke dapur untuk membuat teh lagi. Pikirannya mengembara saat ia menuang teh, namun sebuah jeritan keras mengejutkan Harlan dari lamunannya. Ia melompat kaget, menumpahkan air panas ke tangannya namun tidak menyadarinya. Pikirannya terpaku pada jeritan tadi. Ia menunggu, namun tak ada suara lagi. Dia berpikir bahwa tidak terjadi apa-apa sambil tertawa, dan kembali ke perapian, teh hangat dan bukunya. Sepuluh menit kemudian teleponnya berdering mengejutkannya lagi. Dari Mario, sersan di kepolisian. Dia meminta Harlan untuk menyelidiki kasus karena rumahnya yang dekat dengan lokasi kejadian. Harlan pun mengiyakan dan Mario berterimakasih padanya.
Harlan berfikir bahwa ia sangat beruntung tidak harus pergi. Ia menatap keluar jendela tebal, kabut dingin telah menelan seluruh area sekitar. Ketika sekitar rumahnya tenggelam dalam kabut yang tampak mengerikan, Harlan menduga mungkin suhu udara mencapai 5 derajat sekarang, suhu yang terlalu dingin untuk hal lain selain menikmati teh hangat dan membaca buku. Harlan meneguk tetes terakhir teh jasmin beraroma kuat, dan beranjak ke dapur untuk membuat teh lagi. Pikirannya mengembara saat ia menuang teh, namun sebuah jeritan keras mengejutkan Harlan dari lamunannya. Ia melompat kaget, menumpahkan air panas ke tangannya namun tidak menyadarinya. Pikirannya terpaku pada jeritan tadi. Ia menunggu, namun tak ada suara lagi. Dia berpikir bahwa tidak terjadi apa-apa sambil tertawa, dan kembali ke perapian, teh hangat dan bukunya. Sepuluh menit kemudian teleponnya berdering mengejutkannya lagi. Dari Mario, sersan di kepolisian. Dia meminta Harlan untuk menyelidiki kasus karena rumahnya yang dekat dengan lokasi kejadian. Harlan pun mengiyakan dan Mario berterimakasih padanya.
2. Jalanan
Jarak yang mesti ditempuh Harlan hanya sejauh satu
blok menuju rumah Salina Umar, pewaris perusahaan sukses Umar Snack & Food.
Ia mengambil rute yang lebih jauh, melewati beberapa rumah berjarak kira-kira
20 meter dari rumah yang ia tuju. Ia memarkir mobilnya di depan rumah besar dan
beranjak masuk.
3.
Ruang Belajar Salina
Harlan disambut oleh Gary, yang memimpinnya ke ruang
belajar dengan jendela besar, tepat di depan mobilnya terparkir di bawahnya.
Hanya sebuah lampu meja yang menyala, memberikan nuansa gelap menyeramkan. Di
dalam ruang belajar, Arifin, petugas lainnya, memegang kantong barang bukti
berisi senjata pembunuh, sebuah pisau pemotong daging besar. Tubuh Nona Umar
tergeletak di tengah ruang kerja ditutupi dengan selembar kain. Di sudut
ruangan duduk seorang wanita bergaun malam putih, dan seorang lelaki berpiyama,
pakaian mereka kusut dan bernoda darah. Harlan bertanya tentang hal yang
terjadi pada wanita itu. Dengan suara tersedak dan berurai air mata ia
menjelaskan bahwa namanya adalah Tesa seorang pelayan di rumah ini. Tesa
tinggal di rumah kecil samping rumah ini. Tesa mendengar jeritan ketika bersiap
tidur Tesa melihat seorang lelaki bertengkar dengan Salina Umar. Tesa berlari
ke rumah ini dan berusaha menyelamatkan nyawa Umar dengan mencabut pisaunya,
tetapi gagal. Kemudian, Tesa kembali menangis. Tesa juga menjelaskan bahwa
semua pelayan membenci lelaki itu karena berpacaran dengan nyonya rumah. Mereka
berpacaran namun putus sebulan lalu. Tesa menjelaskan bahwa lelaki ini bisa
berakting seperti tidak terjadi apa-apa tetapi lelaki ini pasti akan membalas
Salina Umar. Lelaki yang dimaskud berteriak dan berkata bahwa Tesa berbohong.
Harlan menenangkan dan meminta penjelasannya. Lelaki itu menjelaskan bahwa
namanya adalah Joni seorang kepala pelayan yang tinggal di rumah kecil di
belakang rumah ini. Joni mendengar Salina berteriak dan Joni langsung lari ke
pintu belakang. Ketika joni berada di ruang belajar, Joni melihat Tesa di
samping tubuh Salina. Joni bergegas menghampiri Salina dan mencoba mencabut
pisaunya berharap masih ada harapan tetapi Tesa menyerangnya. Joni menjelaskan
bahwa ia mencintai Salina dan tidak mungkin menyakitinya. Joni juga menjelaskan
bahwa Tesa mencuri perhiasan Salina dan akan dipecat dalam waktu dekat. Raut
wajah Joni langsung sedih. Tesa melompat dan berteriak bahwa Joni berbohong.
Arifin memegang tangan wanita itu dan mendudukannya. Gary bertanya pendapat
Harlan. Harlan berpikir sejenak dan akhirnya mengetahui siapa pembunuhnya.
Pembunuhan
Di Ruang Belajar
Saat itu malam yang gelap dan dilanda badai petir.
Sambaran petir membelah langit di atas rumah Detektif Harlan. "Untung aku
tidak harus pergi keluar malam ini," pikir Harlan. Ia menatap keluar
jendela tebal, kabut dingin telah menelan seluruh area sekitar.
Ketika sekitar rumahnya tenggelam dalam kabut yang tampak
mengerikan, Harlan menduga mungkin suhu udara mencapai 5 derajat sekarang, suhu
yang terlalu dingin untuk hal lain selain menikmati teh hangat dan membaca
buku.
Harlan meneguk tetes terakhir teh jasmin beraroma
kuat, dan beranjak ke dapur untuk membuat teh lagi. Pikirannya mengembara saat
ia menuang teh, namun sebuah jeritan keras mengejutkan Harlan dari lamunannya.
Ia melompat kaget, menumpahkan air panas ke tangannya namun tidak menyadarinya.
Pikirannya terpaku pada jeritan tadi. Ia menunggu,
namun tak ada suara lagi. "Bukan apa-apa," katanya sambil tertawa,
dan kembali ke perapian, teh hangat dan bukunya. 10 menit kemudian teleponnya
berdering mengejutkannya lagi. Dari Mario, sersan di kepolisian. "Harlan,
ada kasus pembunuhan di Jalan Apel nomor 127. Bisakah kau mengeceknya, karena
kau yang paling dekat dengan lokasi?"
"Tentu," balas sang detektif, terkejut
dengan kenyataan bahwa jeritan tadi ternyata sebuah kasus.
"Terima kasih," kata Mario. "Petugas
dari kantor terdekat sudah berada di TKP saat ini."
Jarak yang mesti ditempuh Harlan hanya sejauh satu
blok menuju rumah Salina Umar, pewaris perusahaan sukses Umar Snack & Food.
Ia mengambil rute yang lebih jauh, melewati beberapa rumah berjarak kira-kira
20 meter dari rumah yang ia tuju. Ia memarkir mobilnya di depan rumah besar dan
beranjak masuk. Ia disambut oleh Gary, yang memimpinnya ke ruang belajar dengan
jendela besar, tepat di depan mobilnya terparkir dibawahnya. Hanya sebuah lampu
meja yang menyala, memberikan nuansa gelap menyeramkan. Di dalam ruang belajar,
Arifin, petugas lainnya, memegang kantong barang bukti berisi senjata pembunuh,
sebuah pisau pemotong daging besar.
Tubuh Nona Umar tergeletak di tengah ruang kerja
ditutupi dengan selembar kain. Di sudut ruangan duduk seorang wanita bergaun
malam putih, dan seorang lelaki berpiyama, pakaian mereka kusut dan bernoda
darah.
"Apa yang sedang terjadi di sini?" tanya
Harlan pada wanita tadi.
Dengan suara tersedak dan berurai airmata ia berkata,
"Saya Tesa, pelayan di sini. Saya tinggal di rumah kecil di samping rumah
ini. Saat mendengar jeritan saya sedang bersiap tidur. Saya melihat dari
jendela ia sedang berkelahi dengan Nona Umar. Saya berlari ke sini untuk
menghentikannya, tapi Nona sudah terbaring di lantai." Ia lalu menangis lagi.
"Saya mencoba mencabut pisaunya, berharap masih bisa menyelamatkannya tapi
ia meyerang saya juga. Seluruh pegawai di sini tahu kalau ia membenci Nona.
Mereka berpacaran sampai sebulan yang lalu mereka putus. Lelaki ini tampak
baik-baik saja, namun kami semua tahu ia pasti akan membalas Nona."
Apa?!" teriak lelaki disebelahnya. "Dasar
pembohong!"
"Tenang pak," sahut Harlan. "Kenapa
tidak Anda ceritakan apa yang terjadi."
"Namaku Joni, kepala pelayan. Saya tinggal di
rumah kecil di belakang rumah ini. Saya mendengar ia berteriak dan aku lari ke
pintu belakang. Ketika saya berada di ruang belajar ini saya melihat Tesa
berdiri di samping tubuh Nona Umar. Saya bergegas menghampiri Salina, dan
mencoba mencabut pisaunya, mungkin masih ada harapan, tapi Tesa menyerangku.
Saya mencintai Salina, tidak mungkin aku mencelakai dia. Tapi Salina memergoki
Tessa mencuri perhiasannya. Tesa mengawasi jendela depan dan menunggu Salina
memasuki ruang belajar. Ketika Salina memasuki ruangan, Tesa masuk ke rumah dan
mencuri perhiasan. Ia akan dipecat Salina dalam waktu dekat," kata Joni
sedih.
"Bohong!" jerit Tesa, melompat pada kakinya.
Arifin memegang lengan wanita itu. "Anda harus
tenang, bu." Tesa duduk kembali sambil mengumpat.
"Bagaimana pendapat Anda, pak? Kedua sidik jarinya
pasti ada di pisau tersebut dan saya bingung dengan dua cerita bertentangan
ini," kata Gary.