mise en scene The Cabinet of Dr. Caligari & Metropolis
The Cabinet Of Dr. Caligari (1920)
Robert Wiene
1.
Definisi
Menurut sudut
pandang penonton : segala sesuatu yang terlihat
kasat mata dilayar
Menurut sudut
pandang pembuat film : sebuah tindakan meletakan sesuatu
di dalam peristiwa yang dibuat. Biasanya pembuat film pembuat film melakukan
pendekatan terhadap keseharian dan perilaku logis manusia yang ada dalam
filmnya (realisme).
Saya akan mencoba menelaah ke dua definisi
ini. Sebagai sudut pandang orang awam dan sudut pandang pembuat film yang masih
baru (amatir).
2.
Unsur-unsur Mise En Scene
a.
Setting
Exterior : kebetulan pada film ini, setting
yang di ambil tidak menggunakan exterior.
Interior : bisa dikatakan bahwa semua scene
yang ada dalam fil ini adalh interior. Walaupun pada adegan di taman bermain.
Di mana dijelaskan bahwa di suasana di sana adalah di luar ruangan. Namun tetap
saja para aktor tidak keluar dari tempat yang di sediakan, yang menandakan
tetap dalam lingkup interior.
b.
Fungsi setting:
-
Menunjukan ruang: ruang yang
dibangun adalah di sebuah kota (katakanlah seperti itu) karena da adegan gang,
rumah-rumah (di lihat dari letak jendela saat sang aktor berjalan), di sebuah
kamar (karena ada ranjang), di sebuah tempat bermain (seperti dufan).
-
Menunjukan waktu: contoh waktu
malam adalah saat addegan pria yang menculik wanita yang sedang tidur dan waktu
siang saat orang-orang berkunjung ke tempat bermain.
-
Menunjukan status sosial: dari
beberapa scene, walaupun menurut saya agak rancu karena pakaian yang dikenakan
tampak memiliki warna dan model yang sama semua bagi pria. Namun, dari adegan
lain, seperti ruang tamu dan cara bergerak, para aktor di film ini kebanyakan
adalah kelas menengah ke atas. Sedangkan untuk perempuan, terutama wanita yang
di culik. Dia ada pada kalangan atas, karena tempat tidur dan pakainnya mewah.
-
Menunjukan kondisi tertentu:
setting di sini menunjukan kondisi disetiap adegan. Misalnya pada adegan orang
yang tidur di peti, yang menunjukan kalau dia adalah orang aneh.
-
Membangun suasana (mood): mood
yang terbentuk membuat penonton penasaran karena cerita yang berlibat. Namun,
tetap menegangkan. Saya merasa bahwa film ini mengandung unsur menakutkan. Dari
make up para pemain yang seram. Wanita yang pertama kali ada di scene pertama
dan berjalan juga seperti hantu.
-
Pendukung aktif adegan: seluruh
unsur di film ini sangat memperkuat untuk orang-orang memahami pesan apa yang
ingin di sampaikan. Peti mati, tangga miring yang justru terkesan horror, gang
sempit, jendela yang terbuka.
c.
Jenis-jenis setting:
-
Shot on studio: semua adegan
dilakukan di dalam studio. Jelas sekali semua barang, tembok, peletakan kursi,
bentuk tangga, bentuk kamar, semuanya telah di persiapkan di dalam studio.
Tampak seperti menonton opera yang di rekam.
-
Shot on location: kebetulan,
shot pada seluruh adegan film ini hanya dalam lokasi.
-
Virtual setting: saya rasa
belum ada adegan yang menggunakan setting secara virtual.
d.
Costum and make up
-
Costum
o
Informasi ruang waktu: kostum
yang digunakan menunjukan setting waktu sebelum tahun 1920-an. Saya
menyimpulkan ini karena melihat referensi dari google yang menunjukan gaya
pakaian orang pada tahun 1920-an, wanita mengenakan dress dengan rok sebetis
(ukuran 7/8).
o
Informasi status sosial:
menurut gambar-gambar di google. Pada tahun 1900-an, wanita yang mengenakan
pakaian besar berasal dari kalangan atas. Sedangkan wantita yang menganakan
pakaian simple dan celemek, tentu saja berasal dari kalangan bawah. Dalam film
ini, para pria di gambarkan berstatus sosial tinggi karena mengenakan jas yang
rapih dan lebar. Aktor yang di tangkap polisi mengenakan jas buluk, menunjukan
status sosial yang rendah.
o
Image, kepribadian, simbol:
wanita yang mengenakan pakaian heboh adalah kalangan atas dan feminine, wanita
dengan pakaian kucel berasal dari kalangan bawah dan tergambar tegar menghadapi
hidup, pria yang memakai jas lebar terlihat berwibawa, polosi yang mengenakan
jas simple menunjukan ketegasan dan tidak repot, pria yang mengenakan jas buluk
terlihat kasar dan kejam.
o
Motif penggerak cerita: cerita
ini tentu saja semakin kuat dengan adanya unsur kostum. Misalnya kostum seram
yang dipakai sang aktor.
-
Make up
o
Natural make up: para wanita,
polisi, dan bangsawan biasa menggunakan natural make up.
o
Character make up: di gunakan
oleh orang aneh di dalam peti dan dr. caligari yang sudah tua.
o
Fungsi make up
§ Informasi usia: umur dr. caligari yang berkisar 50-60an
§ Informasi ketidak laziman: pria yang dalam peti yang hanya bisa
diperintah oleh dr. Caligari.
e.
Pencahayaan
-
Kualitas cahaya
o
Hard light: saat penculik naik
ke atas genting.
o
Soft light: setiap adegan yang
di dalam kamar atau adegan aktor yang sedang berbicara satu sama lain di sebuah
ruangan dengan kesan natural.
-
Arah cahaya
o
Top light: saat penculik
mencengkram wajah wanita.
o
Under light: saat dokter
memperkenalkan pria dalam peti.
o
Frontal light: saat mata orang
dalam peti terbuka dan setiap adegan close up.
o
Back light: saat adegan
pembunuhan yang hanya memunculkan bayangan.
o
Side light: saat penculik
bersembunyi di tembok sambil membawa wanita.
-
Warna cahaya
o
Daylight (putih kebiruan/cahaya
matahari)
o
Tungsten (kuning/warna
muda/lampu pijar)
o
Karena film ini masih hitam
putih, saya belum mampu mengidentifikasi dengan detail. Saya hanya tau bahwa
saat siang cahaya lebih terang, gambar lebih putih, sedangkan saat malam,
cahaya agak redup.
-
Sumber cahaya
o
Utama (key ight): walaupun
cahaya yang digambarkan adalah cahaya matahari. Tetapi, dengan di gunakannya
studio. Maka saya menyimpulkan bahwa key light tetap menggunakan lampu.
o
Tambahan (fill light): biasanya
tercipta saat adegan yang kompleks, seperti saat menjelaskan ekspresi aktor
ataupun saat aktor berkumpul di jalanan sambil berbicara.
-
Pendekatan penataan cahaya
o
Hight key/low contrast: saya
rasa tidak ada.
o
Low key/high contras: hampir
semua menggunakan aspek ini.
o
Graduated tonality: saat
penyorotan tangga/jalanan menurun si penculik memebawa wanita.
-
Penataan cahaya ala Hollywood:
-
f.
Gerak dan akting
-
Gerak
o
Walk away: contohnya saat
pertama si penculik membawa wanita dan saat orang-orang menghampiri dr.
caligari.
o
Walk in: contohnya saat
penculik menaruh wanita di jalanan dan tahanan yang di bawa oleh polisi.
-
Akting
o
Overact: banyak overact
dilakukan oleh para wanita. Jika melihat pria dalam peti yang over act, saya
rasa itu masih wajar karena karakternya yang memang aneh.
o
Formal: adengan formal saat
pria sedang berbicara dengan wanita di kamar dan saat polisi mengitrogasi pria
berpakaian lusuh.
o
Natural: saya rasa adegan
natural di sini saat berjalan.
g.
Jenis figur
-
Figur manusia: semua figur di
film ini manusia.
-
Figur non-manusia: walau
terkesan aneh, saya rasa pria dalam peti juga masih manusia.
-
Figur non-fisik: -
h.
Akting diadopsi dari seni drama
teater: itu kenapa, mungkin ada kesan seperti menonton teater yang divideokan.
3.
Penggunaan Mise En Scene
Tidak hanya digunakan
secara pasif namun harus selalu menjadi pusat perhatian penonton. Maka, harus
pandai mengolah kekontrasan pada frame. Saya rasa, film ini cukup memberikan
sensai yang tinggi. Walaupun masih hitam putih.
4.
Pendekatan dalam Mise En Scene
a.
Realisme: semua tokoh dan
beberapa setting seperti kamar, pakaian, dan pekerjaan yang masuk akal.
b.
Imajinatif: tokoh pria dalam
peti, pekerjaan dr. caligari, dan tempat pertunjukan.
c.
Hollywood spectacular: belum,
walau sudah menggunakan banyak orang sebagai penonton.
Metropolis 1927
Fritz Lang
1.
Definisi
Menurut sudut
pandang penonton : segala sesuatu yang terlihat
kasat mata dilayar
Menurut sudut
pandang pembuat film : sebuah tindakan meletakan sesuatu
di dalam peristiwa yang dibuat. Biasanya pembuat film pembuat film melakukan
pendekatan terhadap keseharian dan perilaku logis manusia yang ada dalam
filmnya (realisme).
Saya akan mencoba menelaah ke dua definisi
ini. Sebagai sudut pandang orang awam dan sudut pandang pembuat film yang masih
baru (amatir).
2.
Unsur-unsur Mise En Scene
a.
Setting
Exterior : sama seperti
film The Cabinet Of Dr. Caligari. Pengambilan gambar hanya menggunakan unsur
interior.
Interior : pengambilan
adegan tiap scene menggunakan unsur Interior. Walupun cerita ini menciratakn
unsur exterior seperti bangunan kota.
b.
Fungsi setting:
-
Menunjukan ruang: karena agak
aneh, ada pesawat-pesaat dan sebaginya maka ruang yang ingin dibangun adalah di sebuah kota.
-
Menunjukan waktu: waktu dalam
film ini jelas menunjukan masa yang akan datang. Karena adanya robot.
-
Menunjukan status sosial:
orang-orang yang berada di kota atas adalah orang-orang dengan status sosial
tinggi. Di lihat dari pakaian dan tatanan setting kota yang tampak megah.
Sedangkan di kota bawah hanyalah para pekerja rendahan yang hidup secara
monotone.
-
Menunjukan kondisi tertentu:
kondisi dimana orang-orang berada dalam masa depan. Saat adanya robot dan
ekspresi fashion yang aneh.
-
Membangun suasana (mood): mood
yang saya dapat saat menonton film ini adalah bergairah. Dalam artian, ini
benar-benar film yang membangun dunia perfilman sekarang. Dengan teknik yang
saya yakini minim. Naum, sang pembuat film bisa memiliki pemikiran yang sangat
jauh. Teknik yang digunakan bisa dikatakan sangat baik dengan segala kekurangan
teknologi yang ada pada masa itu.
-
Pendukung aktif adegan: segala
macam mesin-mesin yang tentu saja terlihat modern dan bentuk kota yang
digambarkan, di tambah lagi saat mesin rusak yang malah menjadi tempat aneh
seperti kepala robot yang menelan para pekerja.
c.
Jenis-jenis setting:
-
Shot on studio: shot yang
diambil semuanya berada dalam studio. Sama seperti film The Cabinet Of Dr.
Caligari. Walaupun pesan yang ingin disampaikan adalah di sebuah kota. Tetap
saja, jelas sekali kalau iniada di dalam studio.
-
Shot on location: lokasi di
dalam studio dan membutuhkan banyak penataan artistik.
-
Virtual setting: ada bagian di
mana pergerakan mesin-mesin yang gambarnya menyatu dan memisah dipembukaan
film. Ada juga saat robot yang ada aliran listrik.
d.
Costum and make up
-
Costum
o
Informasi ruang waktu: karena
kostum yang digunakan aneh dan memang menggambarkan fashion di masa yang akan
datang. Entah kapan. Mungkin tahun 2000an lebih.
o
Informasi status sosial: tentu
saja pakaian yang dipakai pria protagonis menunjukan kelas atas. Sedangkan
Maria dengan pakaian sederhananya hanyalah kalangan menengah yang lugu.
o
Image, kepribadian, simbol:
image yang ditunjukan oleh dokter gila yang membuat robot, memang berkesan
gila. Kepribadian tokoh ayah terkesan berwibawa namun egois. Pakaian pekerja
yang monoton dan tampak bodoh.
o
Motif penggerak cerita: kostum
aneh di sini menggerakan cerita semakin aneh. Bukan jelek, justru sangat bagus
sekali. Bahwa pada nanatinya manusia memang aneh.
-
Make up
o
Natural make up: sangat jelas
pada karakter Maria dan protagonis, beserta keluarga tokoh protagonis.
o
Character make up: robot,
dokter pembuat robot yang gila, wanita-wanita yang di goda oleh tokoh
protagonis di taman yang juga aneh.
o
Fungsi make up
§ Informasi usia: usia sang ayah sekitar 50an, usia anak yang sekitar
20an, begitu juga Maria yang 20an, dokter gila yang berusia 50an.
§ Informasi ketidak laziman: robot yang dibuat menunjukan bahwa
karakter yang dibangun tidaklah lazim.
e.
Pencahayaan
-
Kualitas cahaya
o
Hard light: saat menyorot
aktifitas kota di siang hari.
o
Soft light: pada setiap adegan
di dalam ruangan; kantor ayah.
-
Arah cahaya
o
Top light: saat menyorot
protagonis yang sedang berlari.
o
Under light: saat menyorot
megah dan besarnya sebuah gedung.
o
Frontal light: senter menyorot
wajah Maria, saat perotagonis memutar jam.
o
Back light: menyorot wanita
dengan pakaian aneh seperti jubah yang trasparan sedang berdiri.
o
Side light: saat dokter
menjelaskan dan mempperkenalkan robot pada ayah.
-
Warna cahaya
o
Daylight (putih kebiruan/cahaya
matahari)
o
Tungsten (kuning/warna
muda/lampu pijar)
o
Karena film ini masih hitam
putih, maka saya rasa kita dapat melewatkan pendeskripsian bagian ini.
-
Sumber cahaya
o
Utama (key ight): lagi-lagi
sama seperti di film sebelumnya (The Cabinet Of Dr. Caligari). Bahwa, cahaya
yang di gunakan berasal dari lampu.
o
Tambahan (fill light): pada
beberapa adegan memang menggunakan cahaya tambahan. Misalnya pada adegan robot
yang perlahan-lahan di close up.
-
Pendekatan penataan cahaya
o
Hight key/low contrast: ada
saat Maria palsu menari-menari dipanggung.
o
Low key/high contras: banyak
adegan yang menggunakan pencahayaan macam ini karena tema film.
o
Graduated tonality: saat
kesalahan terjadi yang menyebabkkan para pekerja tertelan.
-
Penataan cahaya ala Hollywood:
-
f.
Gerak dan akting
-
Gerak
o
Walk away: saat pekerja
berganti sift, protagonis berlari, Maria berlari.
o
Walk in: pekerja berganti sift,
protagonis berlari seperti mengejar kamera, robot muai berjalan.
-
Akting
o
Overact: adegan saat berciuman
yang sangat berlebihan, adegan saat Maria dikejar, saat Maria palsu bergerak.
o
Formal: saat ayah protagonis
berbicara atau bergerak.
o
Natural: saat aktor berjalan
atau sekedar berbicara.
Jenis figur
-
Figur manusia: banyak aktor di
film ini memang manusia di zaman yang akan datang.
-
Figur non-manusia: robot yang
ada.
-
Figur non-fisik: -
Akting diadopsi dari seni drama teater
Setelah membandingkan dengan film sebelumnya. Film ini lebih baik
karena, kiat tidak sungguh-sungguh dijadikan penonton dari video drama. Tapi
kita bisa merasakan perpindahan setting yang signifikan.
3.
Penggunaan Mise En Scene
Tidak hanya digunakan secara pasif namun harus selalu menjadi pusat
perhatian penonton. Maka, harus pandai mengolah kekontrasan pada frame. Saya rasa,
film ini cukup memberikan sensai yang tinggi dengan adanya robot, gedung yang
sangat tinggi, pakaian yang kontras, segala teknologi. Walaupun masih hitam
putih.
4.
Pendekatan dalam Mise En Scene
-
Realisme: masih ada unsur
realisme dengan adanya figur manusia dan sifat yang utuh.
-
Imajinatif: aspek pembuatan
robot dan kota yang berada di atas dan di bawah. Yang mungkin merupakan
sindiran bagi para pekerja.
-
Hollywood spectacular: mungkin
efek aliran listrik masuk dalam hollywood spectacular.
Comments
Post a Comment