Nganu
Judulnya sengaja
kupinjam (kurampas) dari salah satu film pendek praktika terbaik yang nantinya
akan muncul di timeline sosial media kalian. Tunggu saja yah. J
Alkisah pada
suatu malam, aku menulis tentang rasa terima kasihku pada orang-orang yang
tiba-tiba menghilang. Aku harap mereka diculik UFO atau kepalanya dipenggal
untuk dijadikan konstruksi jembatan layang atau lebih kerennya dijadikan
prostitusi illegal. Sayangnya aku tidak (belum) seberuntung itu. Sama seperti
sebagian besar orang. Aku ditinggalkan oleh kakek-nenekku atau saudaraku yang
meninggal karena usia tau maupun sakit. Biasa sekali. Aku juga ditinggalkan
oleh kerabatku yang tak kunjung aku ketahui keberadaannya. Aku juga kehilangan mantan-mantan
pacar yang sekarang menjadi sahabat (Iya
kan kita sahabatan, kan? Masih berteman, kan? Gak usah berlebihan donk. Life
must go on).
Bukan itu yang sebenarnya
ingin aku bahas.
Jadi hari itu,
aku bertemu dengan seseorang di sebuah tempat yang tidak bisa aku sebutkan
namanya. Di sebuah tempat asing yang membuatku nyaman. Awalnya bukan karena
dia, awalnya karena aku yang memperjuangkan untuk pergi ke tempat itu.
Aku sengaja
tidak membahas bagaimana kami saling mengenal, apa saja yang kami lakukan saat
itu, bahkan bagaimana cara kami berpisah. Yang aku tegaskan, ketika kami saling
melambaikan tangan, kami tersenyum, dan aku tahu segalanya telah berakhir. Aku bahagia,
karena saat itu kami sangat berbahagia. Sering kali saat ini, aku berharap
dapat kembali bertemu dengannya dan kembali menjalani beberapa waktu
bersamanya, tetapi aku percaya ada banyak orang yang akan saling kami temui. Aku
ingin orang-orang itu menyadari betapa hebat laki-laki itu. Aku juga ingin
memberi kesempatan pada diriku bahwa betapa hebat orang-orang yang selanjutnya
aku temui. Jadi, ya. Aku menikmati kehilangan ini.
Yang sedang
berlangsung..
Hidupku biasa
saja, menyenangkan, juga menyedihkan seperti hidup kalian. Benar. Bohong deng. Hidup gua kerenlah! Lo punya gak
orang tua yang selalu mendukung dan bisa diajak diskusi? Lo punya gak
sahabat-sahabat yang selalu ada di saat yang tepat? Punya gak lo, orang-orang
inspiratif yang menginspirasi lo, bahkan ada yang bisa lo ajak ngobrol, bahkan
ada yang jadi rival lo? Ada gak
lak-laki yang sayang banget sama lo, sampai lo bingung apa yang pernah lo
lakuin kedia, karena dia segitunya sama lo tanpa lo merasa terkekang dan
terbebani? Ada gak? Udah gak perlu membandingkan hidup lo sama hidup gue, walau
gue membandingkan hidup gue sama hidup lo yang menyedihkan. Bhak.
Sombong banget
yah gue? Okay sebenarnya begini.
Gua cuma mengubah
pola pikir gue dan nggak lagi berekspektasi sih. Contohnya orang tua, kan
sering ngeselin yah, suka ketakutan berlebihan yang sebenarnya nggak usah. Yah
udah, gua coba jelaskan baik-baik, dan karena gua yakin yang gua lakukan adalah
hal positif, maka jika dilarang bakal tetap gua lakukan. Dengan cacatan gua
sangat bertanggung jawab atas pilihan gua.
Sahabat, manusia
itu kan cuma datang saat butuh. Itu benar, dan itu hal yang patut disyukuri. Misalnya
gini, lo lagi sedih maka lo datang ke sahabat lo atau sebaliknya, nah saat ada
sesuatu yang nggak tampak pada umumnya, sebagai sahabat pasti lo butuh tau kan
tentang keadaan sahabat lo? Itulah mengapa lo peka. Bayangkan aja lo kaya
rex*na yang nempel terus, kan ketek baju lo bisa jadi kuning. Muncullah pada
saat yang tepat.
Masalah inspirator yang jadi rival.
Gua mengambil tema di kampus aja yah soalnaya SD, SMP, SMA sudah berlalu. Ada yang
lucu, ada yang, yaudahlah yah sekarepmu ae. Gua tuh merasa bodoh gitu, di
kampus juga orang rata-ratalah, atau berada diurutan bawah, pokoknya sama
sekali nggak keren. Pastinya orang-orang kaya gue mendambakan bisa ngobrol sama
orang-orang cerdas, keren, sejenis itulah biar dapat ilmu. Lalu gue berusaha
seperti mereka dan yang ada gue malah jadi orang lain. Gue sampai mati pun,
sampai kepala gue bertanduk gak akan bisa jadi mereka. Zonk! Tolol! Lalu gue
mulai melepas atribut ke’mereka’an. Gue lebih milih fokus sama apa yang gua
suka, vokal terhadap apa yang gua mau, lebih sering mendengar, meminimalisir
rasa menggurui orang, dan nyaman terhadap diri sendiri. Ada yang tiba-tiba baca
tulisan gua dan suka sama statement gua, dan masalahnya yang suka itu orang
yang sangat gua idolakan. Aaaaaaaa!!!!!!! Ada juga yang ngobrol langsung sama
gua dan minta saran gua, iya dia orang yang sebenarnya gua idolakan!!!!!!!! Ada
yang gua rasa nggak mungkin gua deket sama dia, lalu dia dengan bangga nyapa
gua. Aaaaaa!!!!! Terima kasih atas kepercayaannya. Walau sering kali gua
sebodoh itu. Ada aja yang nggak suka, ada aja yang ngomongin nggak-nggak. Awalnya
kesel, lama-lama gue merasa keren. Statement gue juga dibenarkan oleh seorang
senior keren yang nggak sengaja duduk di depan gue (di kantin), “Harusnya lo
seneng kali diomongin. Gue sih bangga. Strategi marketing tuh”. Diperkuat oleh
dosen di kelas, “Kalian tahu kenapa Jessica Iskandar itu kelihatan bodoh”. Atau
Cinta Laura yang katanya keren banget. Gue nggak sengaja jadi bahan omongan, cuma
seketika gua diomongin dan gua ngakak! Terima kasih loh sudah peduli. Lalu image
gue sekarang adalah.. yah terserah lo, gua nggak minta lo ubah statement, gua cuma
mau kasih tau, pikiran lo mencerminkan diri lo.
Orang yang sayang sama gue. Kalau gini
takut dibilang guanya kePEDEan atau dianya kebaperan. Tapi gini, intinya, gua
gatau sih, entah emang dianya baik dan segitu tanggung jawabnya atau emang apa nggak
ngerti. Lebih tepatnya gua berhenti berekspektasi jadi perasaan ini netral
sekali seperti air. Perasaan ini jernih sekali seperti air. Perasaan ini mudah
larut seperti air. Perasaan ini bisa sangat tenang, berombak, mengalir, bahkan
membendung seperti air. Dia datang seperti tetesan hujan yang membasahi ladang saat
kemarau. Jadi gua bisa menanam cabe, tomat, bawang, bayam, kangkung, dan gue
jadi petani yang sejahtera (yohh!!!!!). Kamu
pasti baca ini dan aku bingung menyusun kalimatnya. Aku harus apa? Intinya
gini, terima kasih telah hadir dengan warna-warni yang indah. Dengan gelap
terang yang membuatku lelap dan tersadar. Terima kasih atas jutaan cerita yang
kamu bagikan. Terima kasih atas telinga yang tak lelah mendengar. Terima kasih
atas tangan yang tak lelah menopang. Terima kasih atas kesunyian ketika kubenci
keramaian dan keramaian atas kesepianku yang membosankan. Terima kasih atas
kasih yang aku terima. Kita bukan dua sejoli seperti Galih dan Ratna, bukan
Sebastian dan Mia, apa lagi Riziek dan Firzha, hehee.. Namun, kehadiranmu selalu
menghapus lelahku dan ketidakhadiranmu mampu menginatkanku tentang keberadaan cinta.
Love.. love.. <3
Comments
Post a Comment