Kita Belum Harus Berpisah, Bukan?
Aku bangun lebih bersemangat hari
ini. Iya, ada seseorang yang sangat ingin aku temui. Seorang kakak yang tidak
sengaja kukenal. Seorang pelanggan dari kedai milik mama. Itu kenapa aku selalu
suka tempat makan dengan pemilik yang ramah.
.
.
Aku
segera turun dari ojek motor online sambil
merapikan rambut yang acak-acakan
karena angin. Aku masuk ke dalam coffee shop yang tak terlalu ramai namun juga
tidak terlalu sepi. Ada sebuah meja kosong di tengah ruangan yang segera kududuki. Perasaan
ini mulai gelisah sekaligus lega, gelisah karena kupikir dia telah menunggu
lama, lega—tentu saja
karena aku yang sampai duluan. Tak berapa lama duduk, aku mengirimkan pesan
singkat padanya bahwa aku telah sampai. Dia menelponku dan meminta maaf karena
keterlambatan kereta. Sudah kuduga, hayolah ini Indonesia.
Tak
berapa lama, aku melihat sosok perempuan yang tak asing bagiku di seberang
jalan. Dengan gaya kuncir kuda, pakaian simple, sederhana, dan selalu modis. Segera
kututup sosial mediaku di ponsel.
Orang ini dramatis juga, bisa saja
dia masuk lewat pintu di depanku, dia malah sengaja memilih pintu belakang dan seketika
berteriak dari kiriku, “Aaaaaaa…. Sister. Long time no see! I miss you so much”,
dan kami berpelukan.
Setiap
kami bertemu (ini mungkin baru pertemuan ketiga kami), dia selalu seramah dan seenerjik itu, dia menceritakan bagaimana
pengalamannya bisa sampai di kotaku menggunakan commuter line. Di sela-sela
kesibukannya, aku bahagia bisa bertemu dengannya.
Kami
memesan kue-kue dan kopi di sana. Dia sedikit ragu atas kopi yang di pesannya.
Kalian jangan
salah sangka, dia memiliki kedai kopi yang cukup ternama di Ibu Kota. Sebuah kedai kopi yang
memastikan kualitas biji kopinya. Ditambah, dia baru saja kembali dari sebuah
negara yang sebagian besar masyarakatnya kecanduan kopi. Jadi aku wajar dengan
ekspresi anehnya kala itu.
Setelah pesanan sampai, kami memulai perbincangan. Aku sengaja mengutip singkat saja di sini,
mudah-mudahan berguna. Aku memilihkan yang paling dekat dengan kehidupanku dan
hal-hal yang lulus sensor. Hehehee..
“Jadi,
di sana itu pemerintahnya memberikan sokongan kepada suku asli. Suku asli di
sana pemalas, mereka sengaja menikah muda agar anak-anaknya mendapatkan sokongan
juga, jadi mereka tidak perlu bekerja. Itu kenapa, suku asli di sana banyak
yang obesitas.”
“Kamu
tahu bahwa sebagian tukang bajaj di sini ternyata petani sejahtera di
kampungnya? Mereka memiliki komunitas di sini. Jadi ketika mereka selesai
menanam padi, mereka pergi ke Ibu Kota hanya untuk iseng dan menjadi tukang
bajaj. Saat musim panen, mereka kembali ke desa untuk memanen padi. Kamu tahu, keuntungan
1 petak sawah ternyata dihargai 50juta rupiah. Begitu juga dengan pengemis di sini,
mereka memiliki komunitas. Pada pagi hari, mereka disebar ke beberapa daerah dan
akan dijemput lagi ketika pulang. Para pengemis juga harus melakukan setoran
minimal 100rb per hari. Pengemis cacat malah jauh lebih mahal.”
“Christine,
boleh aku memesan air mineral dulu”, aku tersenyum dan segera pergi ke bar tender. Setelah mendapatkan air, aku
langsung balik ke meja kami.
“Tam,
kenapa kamu tidak jadi model saja? Aku iri melihat posturmu.”
“Aku tidak
percaya diri, Tine. Aku takut dinilai hanya dari fisik, aku ingin orang
menghargai kepribadianku. Aku ingin dinilai dari bagaimana caraku berpikir.”
“Iya,
tadinya aku juga. Tetapi seberapa penting penilaian orang lain terhadap dirimu?
Kita tidak bisa membuat orang berpikir sesuai keinginan kita. Selama kamu
bahagia, lakukan saja. Banyak orang akan menggunjing kita, tetapi dari
kekesalan itu, kita bisa menjadi seperti sekarang. Banyak orang yang karena
merasa kurang, dia bekerja keras untuk memperbaiki kehidupannya. Kamu masih
sangat muda dan punya banyak potensi. Aku sudah berumur, aku bahkan takut untuk
kembali mengulang S1-ku. Tapi, ini impianku. setelah berjuang selama 6 tahun meluluskan S1 dan S2ku di sini. Iya, di negara orang, kita memulai semuanya dari nol. Begini, ada sebuah negara yang
membuka working holiday, aku harapkan
kamu mau ikut program itu.”
Masih
banyak perbincangan yang aku tak tahu lagi bagaimana cara merangkumnya. Kami bicara
tentang ganja, wine, ras, agama, apapun selama kurang lebih 2jam. Iya, hanya 2
jam dan aku terhipnotis sepenuhnya.
Tak
kukira bahwa ini bisa dikatakan hari terakhir kami bertemu, dia akan
melanjutkan studinya selama 4 tahun di sana. Kemungkinan besar, dia tak akan
kembali. Dia yang mengharapkanku ke sana, menyusulnya.
.
.
.
Dari
dua jam pembicaraan kami, seakan semua cita-citaku begitu dekat. Aku ingin
tinggal di sebuah desa dengan rumah sederhana dan halaman yang luas, aku akan
menanam berbagai sayur dan buah di sana. Aku akan bekerja di coffee shop milikku sendiri dan berangkat menggunakan sepeda. Juga membuat
kopi dan melayani pelanggan bersama pegawaiku. Aku ingin tempatku
menjadi tempat segala cinta bertemu; seorang gadis yang bertemu dengan kekasihnya,
atau kakek yang berbincang dengan cucunya, atau seorang duda yang kembali
bertemu dengan cinta pertamanya, atau seorang murid yang bertemu dengan guru killer-nya, atau remaja yang sekadar
berkumpul, atau beberapa orang yang membicarakan proyek tentang penyelamatan
umat manusia, atau pejabat yang sekadar ingin bersantai, atau seperti kita—dua orang yang tak saling mengenal
lalu bisa berbincang dan saling memberikan petualangan.
.
.
Realistis
saja, perjalanan mencapai ke sana tidak semudah itu. Setidaknya aku mungkin
harus mengalahkan Channel, YSL, Versace, bergaul dulu dengan Kim Kadarshian
atau Paris Hilton, atau setidaknya aku harus melakukan perjalanan dengan kapal
pesiar dan berjudi gila-gilaan, atau setidaknya kejar-kejaran dengan polisi
karena menerobos lampu lalu-lintas. Hayolah, aku masih 20 tahun. Belum saatnya
kita berpisah, bukan?
NB: Ada perbincangan konyol kami
tentang kehidupanku yang mempesona ini
1.
Aku sengaja melakukan perjalanan dengan kereta
yang memakan waktu 2-3 jam
Alasannya;
a.
aku bisa tidur selama perjalanan
b.
aku bisa membaca buku atau sekadar mendengar
musuk, berita, dan iklan di radio
c.
aku bisa bertemu, setidaknya memperhatikan
berbagai macam orang di kereta
d. aku lebih bisa menghargai waktu, atau mungkin mereka akan maklum jika aku terlambat (heheee..)
2.
Aku sengaja berjalan kaki ke dan/atau dari
stasiun
Alasannya; aku bisa menghemat uangku untuk biaya pergi ke gym sebesar 400-700rb/bulan. Iya, sembari
mengingatkanku betapa pentingnya berolahraga di sela-sela kesibukan.
3. Aku sengaja tidak menggunakan barang yang
trendy dan menjadi pusat perhatian, aku suka dengan apa yang aku kenakan, aku
mengutamakan kenyamanan pribadi.
Alasannya;
a.
apa yang aku kenakan sangat membantu
aktifitasku
b.
orang-orang tak perlu menebak-nebak harga
barang yang kupakai
c.
tidak ada yang (mau) sama dengan gaya pakaianku yang
sangat biasa saja
d. aku bisa merelokasikan tabungan belanja untuk
kesempatan yang mungkin tidak datang lagi (beberapa terealisasi, sisanya masih
harapan)
4. Sejujurnya, uang jajanku yang sangat mepet ini membuatku lebih berhati-hati untuk membeli makanan. Aku jadi sangat
memperhatikan nilai gizi dari makanan pilihanku. Juga, aku lebih berusaha untuk mencari pekerjaan yang masih sulit sekali datang. :(
Aku yakin kalian juga punya kehidupan yang luar biasa, mungkin kita bisa berbincang. Semoga kebahagiaan bersamamu :)

Comments
Post a Comment