Ubrak-Abrik KalTeng, Konten Majalah AKSI (sebelum sunting)

Kalimantan Tengah (Kalteng) adalah salah satu sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di pulau
Kalimantan. Ibukotanya adalah Kota Palangka Raya. Kalimantan Tengah memiliki luas 157.983 km². Berdasarkan sensus tahun 2010, provinsi ini memiliki populasi 2.202.599 jiwa, yang terdiri atas 1.147.878 laki-laki dan 1.054.721 perempuan. Kalteng mempunyai 13 kabupaten dan 1 kotamadya.
                Tapi, saya tidak akan membahas tentang provinsi atau hal-hal politik atau tentang pemerintahan. Di sini saya akan membahas hal-hal yang saya temui selama di sana. Mulai dari tradisi, mitos, fakta, masyarakat, dan sebagainya. Sehingga kita bisa mengenal Kalimantan Tengah lebih dekat dan lebih Indah.

1.       Titik Nol
Desa Tumbang Manggu merupakan titik nol Pulau Kalimantan. Kebetulan, kami sempat bermalam di rumah salah seorang tokoh adat sekaligus seniaman, Syaer Sua. Beliau menjelaskan bahwa tempat di mana beliau tinggal—tepatnya tiang bendera depan rumah—merupakan titik nol Kalimantan Tengah.


2.       Rumah Betang
Rumah Betang merupakan rumah adat Kalimantan Tengah, biasanya di tinggali oleh seluruh keluarga besar. Rumah ini terbuat dari ‘Kayu Besi’ bulat nan panjang. Menurut info dari Bapak Syaer Sua. Rumah ini berada di Desa Tumbang Manggu, Kalimantan Tengah. Dalam 1 wilayah, terdapat 2 Rumah Betang. Rumah Betang pertama dibangun pada tahun 2005. Sedangkan yang kedua dibangun pada tahun 2008.
Menurutnya, Rumah Betang ini dibangun supaya warga negara Indonesia membayar budaya bangsa. Rumah ini berada di titik tengah Borneo, diharapkan pemerintah (gubernur) dapat mengangkat budaya adat.
"Untuk bangun Rumah Betang kedua saya mengeluarkan biaya sekitar Rp 300jt. Keluarga besar juga ikut membantu pembangunan rumah. Saya tidak memberikan desain gambar di kertas, hanya mengatakan kepada para tukang agar dibuat seperti yang saya inginkan.", penjelasan Syaer Sua.


3.        Batak Kalimantan di Tanah Suci.
“Kalimantan Tengah itu ‘Batak Petak’ yang artinya tanah pilihan. Palangka itu artinya tempat yang suci.”, penjelasan tambahan dari Syaer Sua.

4.       Berperang
Kancet Papatai (Tari Perang) menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari. Dalam tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan perlatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.


5.       Dayak SERAM(AH)
Selama ini kita berpikir bahwa suku dayak adalah suku yang seram/menakutkan. Dimulai dari ritual-ritual, mitos-mitos, dan hal-hal yang beredar di masyarakat. Namun sebaliknya, suku dayak adalah suku yang sangat ramah. Mereka sangat baik ketika menjamu tamu, saya yang baru pertama kali bertemu saja merasa seperti keluarga. Tidak dipungkiri bahwa pria-pria di sana tampan, berbanding lurus dengan wanita-wanitanya yang cantik.


6.       Dikelilingi Wanita Cantik
Kalimanta juga identik dengan wanita-wanitanya yang cantik. Dahulu kala, sekitar 1500 SM, ada migrasi besar-besaran dari Tiongkok (Yunan) menuju Asia Tenggara (Borneo).

7.       Misteri Nama Kota Berujung Raya
Pak Syaer Sua juga menjelaskan kenapa cuma ada 2 nama kota ujungnya raya. Ibu Kota Jakarta Raya dan Palangkaraya. Karena menurut beliau, cita-cita Bung Karno mau mendirikan menara tertinggi di dunia.

8.       Isu Pemindahan Pusat Pemerintahan dan PKI
Beliau juga menjelaskan bahwa Pak Tjilik Riwut (Gubernur Kalimantan Tengah tahun 1958-1967) dan Bung Karno ingin menjadikan Palngkaraya sebagai pusat pemerintahan. Namun, rencana itu diurungkan karena meledaknya PKI.

9.       Manusia pertama
Masyarakat Kaharingan percaya bahwa sejarah mencatat, dahulunya di Puncak Bukit Raya terdapat manusia pertama yang mengisi pulau Kalimantan.

10.   Agama Kaharingan di Indonesia
Hindu Kaharingan dan Hindu Bali jauh berbeda, karena itu Hindu Kaharingan pernah pergi ke Jakarta untuk menjadikan Kaharingan sebagai salah satu agama di Indonesia.

11.   Bendera Kuning yang Makmur
Arti bendera di KalTeng juga berbeda. Di mana, masyarakat KalTeng manggunakan bendera kuning sebagai lambang kemakmuran—di Jakarta sebagai lambang duka— dan hijau melambangkan kesuburan.

12.   Kami Mengantar Roh ke Surga
Tiwah adalah proses mengantarkan roh menuju surga. Kegiatan ini dilakukan turun temurun. Sedikit mirip dengan ritual di Tanah Toraja. Namun, Tiwah adalah upacara yang berasal dari Hindu Kaharingan.

13.   Mabuk Bersama Tuak (Baram)
Ini adalah minuman tradisional Borneo, terbuat dari rempah-rempah dan difermentasi dengan ragi. Baram adalah penyebutan di daerah Katingan.


14.   Tradisi Bukit Raya
Konon, untuk sampai ke Puncak Bukit Raya (Bukit Laki-Laki). Kita harus melewati Puncak Kait Bulan (Bukit Perempuan). Sebelum maneiki Bukit Raya, terdapat  berbagai ritual, mulai dari persembahan ayam yang ikut di bawa naik. Hingga pemberkatan pendaki pertamaoleh Pisur dengan cipratan air berkah.


15.   Batu-batu Keramat
Tempat wisata Bukit Batu ini sangat dekat, bisa dikatakan berada di dalam Kebun Raya Katingan. Konon, batu-batu yang ada di sana muncul secara sendirinya—secara gaib, ada juga yang mengatakan di bawa oleh ‘makhluk’ di sana. Karena Kalimantan Tengah merupakan daerah gambut di mana tidak mungkin ada batu-batu yang sangat besar muncul. Uniknya batu-batu ini menyusun dan menumpuk di satu wilayah. Setiap tumpukan batu memiliki keunikan masiing-masing. Contoh yang paling terkenal adalah Batu Kamiak, mengandung mitos bahwa siapapun yang dapat melewati celah di antara batu, maka semua impian/harapannya akan terkabul.


Sepertinya masih banyak hal-hal yang belum diangkat dari Kalimantan Tengah. Jadi, saya merekomendasiakan pembaca untuk langsung berkunjung ke sana.

Comments

Popular posts from this blog

Marselli Sumarno (Wawancara Singkat)

Sedekit PR untuk FFI