Laporan Kimia Elektrolisis
Kata Pengantar:
Puji
syukur saya panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat
dan berkahnya saya dapat menyelesaikan makalah ini yang berisi tentang “Laporan
Praktikum Kimia Tentang Elektrolisis.”
Tak
lupa pula saya mengucapkan terimakasih kepada guru saya yang telah membimbing
saya dalam menyelesaikan makalah.
Saya
sadar bahwa Laporan ini memiliki banyak kekurangan maka untuk itu saya memohon
maaf apa bila ada kesalahan penulisan atau sebagainya. Semoga makalah ini dapat
bermanfat bagi guru dan teman-teman yang telah membaca laporan ini. Sekian dan
Terimakasih.
Tangerang,
25 September 2013
Tamara
Citra Deliesza
Daftar isi:
Kata Pengantar 1
1.
Tujuan 3
2.
Materi 3
3.
Alat
dan Bahan 8
4.
Langkah-langkah 8
5.
Data
HasilPengamatan 9
6.
Foto-foto
saat pengamatan 10
7.
Pertanyaan
dan Jawaban 11
8.
Kesimpulan 13
9.
Daftar
Pustaka 14
1.
Tujuan:
Mampu
mengamati reaksi yang terjadi pada anoda dan katodapada reaksi elektrolisis.
2.
Materi:
Pengertian Elektrolisis
Sel Elektrolisis adalah sel yang menggunakan arus listrik untuk menghasilkan reaksi redoks yang diinginkan dan digunakan secara luas di dalam masyarakat kita. Baterai aki yang dapat diisi ulang merupakan salah satu contoh aplikasi sel elektrolisis dalam kehidupan sehari-hari. Baterai aki yang sedang diisi kembali (recharge) mengubah energi listrik yang diberikan menjadi produk berupa bahan kimia yang diinginkan. Air, H2O, dapat diuraikan dengan menggunakan listrik dalam sel elektrolisis. Proses ini akan mengurai air menjadi unsur-unsur pembentuknya. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut : 2 H2O(l) ——> 2 H2(g) + O2(g)
Rangkaian
sel elektrolisis hampir menyerupai sel volta. Yang membedakan sel elektrolisis
dari sel volta adalah, pada sel elektrolisis, komponen voltmeter diganti dengan
sumber arus (umumnya baterai). Larutan atau lelehan yang ingin dielektrolisis,
ditempatkan dalam suatu wadah. Selanjutnya, elektroda dicelupkan ke dalam
larutan maupun lelehan elektrolit yang ingin dielektrolisis. Elektroda yang
digunakan umumnya merupakan elektroda inert, seperti Grafit (C), Platina (Pt),
dan Emas (Au). Elektroda berperan sebagai tempat berlangsungnya reaksi. Reaksi
reduksi berlangsung di katoda, sedangkan reaksi oksidasi berlangsung di anoda.
Kutub negatif sumber arus mengarah pada katoda (sebab memerlukan elektron) dan
kutub positif sumber arus tentunya mengarah pada anoda. Akibatnya, katoda
bermuatan negatif dan menarik kation-kation yang akan tereduksi menjadi endapan
logam. Sebaliknya, anoda bermuatan positif dan menarik anion-anion yang akan
teroksidasi menjadi gas. Terlihat jelas bahwa tujuan elektrolisis adalah untuk
mendapatkan endapan logam di katoda dan gas di anoda.
Ada dua
tipe elektrolisis, yaitu elektrolisis lelehan (leburan) dan elektrolisis
larutan. Pada proses elektrolisis lelehan, kation pasti tereduksi di katoda dan
anion pasti teroksidasi di anoda. Sebagai contoh, berikut ini adalah reaksi
elektrolisis lelehan garam NaCl (yang dikenal dengan istilah sel Downs) :
Katoda
(-) : 2 Na+(l) + 2 e- ——> 2 Na(s) ……………….. (1)
Anoda
(+) : 2 Cl-(l) Cl2(g) + 2 e- ……………….. (2)
Reaksi
sel : 2 Na+(l) +
2 Cl-(l) ——> 2 Na(s) + Cl2(g) ……………….. [(1) + (2)]
Reaksi
elektrolisis lelehan garam NaCl menghasilkan endapan logam natrium di katoda
dan gelembung gas Cl2 di anoda. Bagaimana halnya jika lelehan garam NaCl
diganti dengan larutan garam NaCl? Apakah proses yang terjadi masih sama? Untuk
mempelajari reaksi elektrolisis larutan garam NaCl, kita mengingat kembali
Deret Volta (lihat Elektrokimia I : Penyetaraan Reaksi Redoks dan Sel Volta).
Pada
katoda, terjadi persaingan antara air dengan ion Na+. Berdasarkan Tabel
Potensial Standar Reduksi, air memiliki E°red yang lebih besar dibandingkan ion
Na+. Ini berarti, air lebih mudah tereduksi dibandingkan ion Na+. Oleh sebab
itu, spesi yang bereaksi di katoda adalah air. Sementara, berdasarkan Tabel
Potensial Standar Reduksi, nilai E°red ion Cl- dan air hampir sama. Oleh karena
oksidasi air memerlukan potensial tambahan (overvoltage), maka oksidasi ion Cl-
lebih mudah dibandingkan oksidasi air. Oleh sebab itu, spesi yang bereaksi di
anoda adalah ion Cl-. Dengan demikian, reaksi yang terjadi pada elektrolisis
larutan garam NaCl adalah sebagai berikut :
Katoda
(-) : 2 H2O(l) +
2 e- ——> H2(g) + 2 OH-(aq) ……………….. (1)
Anoda
(+) : 2 Cl-(aq) ——> Cl2(g) +
2 e- ……………….. (2)
Reaksi
sel : 2 H2O(l) +
2 Cl-(aq) ——> H2(g) + Cl2(g) +
2 OH-(aq) ……………………. [(1) + (2)]
Reaksi
elektrolisis larutan garam NaCl menghasilkan gelembung gas H2 dan ion OH‑ (basa) di katoda serta gelembung gas Cl2 di anoda.
Terbentuknya ion OH- pada katoda dapat dibuktikan dengan perubahan warna
larutan dari bening menjadi merah muda setelah diberi sejumlah indikator
fenolftalein (pp). Dengan demikian, terlihat bahwa produk elektrolisis lelehan
umumnya berbeda dengan produk elektrolisis larutan.
Selanjutnya
kita mencoba mempelajari elektrolisis larutan Na2SO4. Pada katoda, terjadi
persaingan antara air dan ion Na+. Berdasarakan nilai E°red, maka air yang akan
tereduksi di katoda. Di lain sisi, terjadi persaingan antara ion SO42- dengan
air di anoda. Oleh karena bilangan oksidasi S pada SO4-2 telah mencapai keadaan
maksimumnya, yaitu +6, maka spesi SO42- tidak dapat mengalami oksidasi.
Akibatnya, spesi air yang akan teroksidasi di anoda. Reaksi yang terjadi adalah
sebagai berikut :
Katoda
(-) : 4 H2O(l) +
4 e- ——> 2 H2(g) + 4 OH-(aq) ……………….. (1)
Anoda
(+) : 2 H2O(l) ——> O2(g) +
4 H+(aq) + 4 e- ……………….. (2)
Reaksi
sel : 6 H2O(l) ——> 2 H2(g) +
O2(g) + 4 H+(aq) + 4 OH-(aq) …………………….. [(1) + (2)]
6 H2O(l)
——> 2 H2(g) + O2(g) +
4 H2O(l) …………………. [(1) + (2)]
2 H2O(l)
——> 2 H2(g) + O2(g) …………………….. [(1) + (2)]
Dengan
demikian, baik ion Na+ maupun SO42-, tidak bereaksi. Yang terjadi justru adalah
peristiwa elektrolisis air menjadi unsur-unsur pembentuknya. Hal yang serupa
juga ditemukan pada proses elektrolisis larutan Mg(NO3)2 dan K2SO4.
Bagaimana
halnya jika elektrolisis lelehan maupun larutan menggunakan elektroda yang
tidak inert, seperti Ni, Fe, dan Zn? Ternyata, elektroda yang tidak inert hanya
dapat bereaksi di anoda, sehingga produk yang dihasilkan di anoda adalah ion
elektroda yang larut (sebab logam yang tidak inert mudah teroksidasi).
Sementara, jenis elektroda tidak mempengaruhi produk yang dihasilkan di katoda.
Sebagai contoh, berikut adalah proses elektrolisis larutan garam NaCl dengan
menggunakan elektroda Cu :
Katoda
(-) : 2 H2O(l) +
2 e- ——> H2(g) + 2 OH-(aq) …………………….. (1)
Anoda
(+) : Cu(s) ——>
Cu2+(aq) + 2 e- …………………….. (2)
Reaksi
sel : Cu(s) +
2 H2O(l) ——> Cu2+(aq) + H2(g) +
2 OH-(aq) …………………….. [(1) + (2)]
Dari
pembahasan di atas, kita dapat menarik beberapa kesimpulan yang berkaitan
dengan reaksi elektrolisis :
Baik elektrolisis lelehan maupun larutan,
elektroda inert tidak akan bereaksi; elektroda tidak inert hanya dapat bereaksi
di anoda
Pada elektrolisis lelehan, kation pasti
bereaksi di katoda dan anion pasti bereaksi di anoda
Pada elektrolisis larutan, bila larutan
mengandung ion alkali, alkali tanah, ion aluminium, maupun ion mangan (II),
maka air yang mengalami reduksi di katoda
Pada elektrolisis larutan, bila larutan
mengandung ion sulfat, nitrat, dan ion sisa asam oksi, maka air yang mengalami
oksidasi di anoda
Salah
satu aplikasi sel elektrolisis adalah pada proses yang disebut penyepuhan.
Dalam proses penyepuhan, logam yang lebih mahal dilapiskan (diendapkan sebagai
lapisan tipis) pada permukaan logam yang lebih murah dengan cara elektrolisis.
Baterai umumnya digunakan sebagai sumber listrik selama proses penyepuhan
berlangsung. Logam yang ingin disepuh berfungsi sebagai katoda dan lempeng
perak (logam pelapis) yang merupakan logam penyepuh berfungsi sebagai anoda.
Larutan elektrolit yang digunakan harus mengandung spesi ion logam yang sama
dengan logam penyepuh (dalam hal ini, ion perak). Pada proses elektrolisis,
lempeng perak di anoda akan teroksidasi dan larut menjadi ion perak. Ion perak
tersebut kemudian akan diendapkan sebagai lapisan tipis pada permukaan katoda.
Metode ini relatif mudah dan tanpa biaya yang mahal, sehingga banyak digunakan
pada industri perabot rumah tangga dan peralatan dapur.
Setelah
kita mempelajari aspek kualitatif reaksi elektrolisis, kini kita akan
melanjutkan dengan aspek kuantitatif sel elektrolisis. Seperti yang telah
disebutkan di awal, tujuan utama elektrolisis adalah untuk mengendapkan logam
dan mengumpulkan gas dari larutan yang dielektrolisis. Kita dapat menentukan
kuantitas produk yang terbentuk melalui konsep mol dan stoikiometri.
Satuan
yang sering ditemukan dalam aspek kuantitatif sel elektrolisis adalah Faraday
(F). Faraday didefinisikan sebagai muatan (dalam Coulomb) mol elektron. Satu
Faraday equivalen dengan satu mol elektron. Demikian halnya, setengah Faraday
equivalen dengan setengah mol elektron. Sebagaimana yang telah kita ketahui,
setiap satu mol partikel mengandung 6,02 x 1023partikel. Sementara setiap
elektron mengemban muatan sebesar 1,6 x
10-19 C. Dengan demikian :
1
Faraday = 1 mol elektron = 6,02
x 1023 partikel elektron x 1,6 x 10-19 C/partikel elektron 1 Faraday =
96320 C (sering dibulatkan menjadi 96500 C untuk mempermudah
perhitungan)
Hubungan
antara Faraday dan Coulomb dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :
Faraday =
Coulomb / 96500
Coulomb =
Faraday x 96500
Coulomb
adalah satuan muatan listrik. Coulomb dapat diperoleh melalui perkalian arus
listrik (Ampere) dengan waktu (detik). Persamaan yang menunjukkan hubungan
Coulomb, Ampere, dan detik adalah sebagai berikut :
Coulomb =
Ampere x Detik
Q =
I x t
Dengan
demikian, hubungan antara Faraday, Ampere, dan detik adalah sebagai berikut :
Faraday =
(Ampere x Detik)
/ 96500
Faraday =
(I x t)
/ 96500
Dengan
mengetahui besarnya Faraday pada reaksi elektrolisis, maka mol elektron yang dibutuhkan
pada reaksi elektrolisis dapat ditentukan. Selanjutnya, dengan memanfaatkan
koefisien reaksi pada masing-masing setengah reaksi di katoda dan anoda,
kuantitas produk elektrolisis dapat ditemukan.
3. Alat dan bahan:
-
Tabung U
-
Baterai
-
Jarum
-
Kabel
-
2 Jepit buaya (Merah Positif dan Hitam Negatif)
-
Kertas Lakmus Merah dan Biru
-
Penoptalin
-
Beberapa zat/senyawa:
|
-
NaOH
|
|
-
CuSO4
|
|
-
H2SO4
|
|
-
NaCl
|
4. Langkah-langkah:
1. Buat
rangkaian elektroda menggunakan baterai, jarum, kabel, dan jepit buaya
2. Isi
tabung U dengan zat
3. Masukan
kedua elektroda, selama +/- 10 menit
4. Amati
yang terjadi
5. Masukan
potongan lakmus merah dan biru di katoda dan anoda
6. Amati
perubahan warnanya
7. Masukan
indikator penoptalin di katoda dananoda masing-masing 1 tetes
8. Amati
perubahan yang terjadi
Nb: Ulangi langkah 2-9 untuk mengamati zat yang
berbeda-beda (CuSO4, NaOH, H2SO4, NaCl)
usahakan tabung dalam keadaan bersih/telah di cuci.
5. Data Hasil Pengamatan
Dari
langkah-langkah tersebut diperoleh data sebagai berikut:
|
Nama
Zat
|
|
ANODA
|
|
KATODA
|
|
|
Timbul Gas
|
Tidak Ada Gas
|
Timbul Gas
|
Tidak Ada Gas
|
|
NaOH
|
Banyak
|
|
Lebih
banyak
|
|
|
CuSO4
|
Sedikit
|
|
|
Tidak
ada
|
|
H2SO4
|
Sedikit
|
|
Lebih
banyak
|
|
|
NaCl
|
|
Tidak
ada
|
Ada
banyak
|
|
|
Nama
Zat
|
|
ANODA
|
|
KATODA
|
|
|
Lakmus
Merah
|
Lakmus
Biru
|
Lakmus
Merah
|
Lakmus
Biru
|
|
NaOH
|
Biru
|
Biru
|
Biru
|
Biru
|
|
CuSO4
|
Merah
|
Merah
|
Merah
|
Merah
|
|
H2SO4
|
Merah
|
Merah
|
Merah
|
Merah
|
|
NaCl
|
Merah
|
Biru
|
Biru
|
Biru
|
|
Nama
Zat
|
Di
Anoda dengan PP
|
Di
Katoda dengan PP
|
|
NaOH
|
Merah
muda
|
Merah
muda
|
|
CuSO4
|
Tidak
berubah warna
|
Tidak
berubah warna
|
|
H2SO4
|
Tidak
berubah warna
|
Tidak
berubah warna
|
|
NaCl
|
Tidak
berubah warna
|
Merah
muda
|
6.
![]() |
Foto – Foto
![]() |

![]() |
3. Pertanyaan dan Jawaban:
1. Tuliskan
reaksi elektrolisisnya!
a. NaOH :
Katoda: 2H2O + 2e---> 2OH-
+ H2 x2
Anoda: 4OH---> 2H2O + O2
+ 4e- x1
Katoda: 4H2O + 4e---> 4OH-
+ 2H2O
Anoda: 4OH- --> 2H2O +O2
+ 4e- -
2H2O --> 2H2
+ O2
b. CuSO4 :
Katoda: Cu2++ 2e---> Cu x2
Anoda: 2H2O --> 4H+ + O2
+ 4e- x1
Katoda: 2Cu2+ + 2e---> 2Cu
Anoda: 2H2O --> 4H+ + O2
+ 4e- -
2Cu2+ + 2H2O
--> 2Cu + 4H+ + O2
c. H2SO4 :
Katoda: 2H2O + 2e- --> 2OH-
+ O2 x2
Anoda: 2H2O --> 4H+ +O2
+ 4e- x1
Katoda: 4H2O + 4e- -> 4OH-
+ 2H2
Anoda: 2H2O --> 4H+ + O2
+ 4e- -
2H2O --> 2H2
+ O2
d. NaCl :
Katoda: 2H2O + 2e--->
2OH- +H2
Anoda: 2Cl- -->
Cl2 + 2e- -
2H2O + 2Cl-
--> 2OH- + H2 + Cl2
2. Tentukan
sifat asam/basanya!
a. NaOH : bersifat
basa pada katoda dan anoda
b. CuSO4 : bersifat
asam pada katoda dan anoda
c. H2SO4 : bersifat
asam pada katoda dan anoda
d. NaCl : bersifat
basa pada katoda dan asam pada anoda
3. Gas apa
yang terbentuk!
Gas O2
(Oksigen)
4. Endapan
apa yang terbeuk!
Endapan
yang terjadi pada elektrolisis larutan CuSO4 diruang anoda adalah
endapan SO42-.Pada elektrolisis CuSO4
di elektroda ruangnkatoda terdapat endapan dan anoda tidak terdapat endapan
(namun banyak gelembung). Hal tersebut menunjukkan, pada katoda terjadi reduksi
Cu2+ yang menghasilkan endapan Cu dan pada anoda terjadi
oksidasi H2O yang
menghasilkan gas oksigen (O2).
4. Kesimpulan:
·
Reaksi terjadi pada 2 tempat yaitu anoda dan
katoda.
·
Pada sel elektrolisis, reaksi kimia akan terjadi
jika arus listrik dialirkan melalui larutan elektrolit,yaitu energi listrik
(arus listrik) diubah menjadi energi kimia (reaksi redoks).
·
Elektroda yang di reaksikan dengan zat NaOH, CuSO4,
H2SO4, dan NaCl menghasilkan gas-gas O2 (Oksigen).
·
Elektrolisis senyawa NaOH termasuk basa karena lakmus
merah yang dicelupkan dapa katoda dan anoda berubah menjadi biru. Senyawa CuSO4
dan H2SO4 termasuk asam karena lakmus biru yang di
celupkan pada katoda dan anoda berubah menjadi merah. Sedangkan pada senyawa
NaCl, asam terdapat pada anoda karena mengubah kertas lakmus biru menjadi merah
dan basa terdapat pada katoda karena mengubah kertas lakmus merah menjadi biru.
·
NaOH yang ditetesi inndikator penoptalin pada kato
dan dan anoda terjadi perubahan warna menjadi merah muda. CuSO4dan H2SO4yang
ditetesi indikator penoptalin pada katoda dan anoda tidak terjadi perubahan
warna, dan NaCl yang ditetesi indikator penoptalin pada katoda terjadi
perubahan warna menjadi merah muda sedangkan perubahan warna tidak terjadi di
anoda.
5. Daftar Pustaka:
http://esdikimia.wordpress.com/2011/09/28/sel-elektrolisis/
http://herehereisit.blogspot.com/2012/09/laporan-praktikum-elektrolisis.html



Comments
Post a Comment