Analisis Semiotika: In the Mood for Love

In the Mood for Love merupakan film besutan sutradara Wong Kar Wai. Film ini mengambil latar di Hong Kong tahun 1962. Bercerita tentang Mrs. Chan beserta suami yang baru pindah ke sebuah kamar, dan tetangganya yang juga baru pindah, Mr. Chow beserta istri. Mrs. Chan cantik, disegani banyak pria, namun suaminya sering melancong untuk berbisnis. Mr. Chow baik, bahkan terlalu baik sebagai suami, namun istrinya tidak banyak merasakan kebaikannya karena jarang di rumah. Memiliki kondisi yang sama, Mrs. Chan dan Mr. Chow kemudian berteman dan saling bertukar pikiran mengenai kondisi masing-masing. Lambat laun, cinta pun bersemi. Sayangnya, ketakutan akan isu buruk dan keadaan sekitar memaksa mereka untuk memendam cinta mereka.

·        Mise en scene
1.      Setting: bukan hanya urusan geografi tapi juga menunjukan emosional dan psikologi dalam naratif film.
-          Film In the Mood for Love
menambil lokasi di Hong Kong pada tahun 1962, Singapur 1963, Hong Kong 1996 dan Kamboja pada hatun 1966. Pada masa itu, berselingkuh merupakan hal yang tabu. Merefleksikan Mrs. Chen dan Mr. Chow dengan kedua pasangan tua pemilik rumah memberikan kesan yang bertolak belakang atas hal yang terjadi dengan Mrs. Chen dan Mr. Chow. Mereka sama-sama bertetangga dan menikah, awalnya berniat menjadi tetangga yang baik satu sama lain namun kejadian yang harus mereka hadapi bertolak bealkang. Mereka awalnya tidak ingin melakukan perselingkuhan, mereka hanya ingin mendapat penjelasan kenapa istri dan suaminya berselingkuh, namun seiring berjalannya waktu, mereka justru mendapatkan kenyamanan satu sama lain di balik kesamaan masalah, yaitu diselingkuhi.
-          Film ini menitik beratkan emosi dari kedua karakter yaitu Mr. Chow dan Mrs. Chan. Mereka berdua mengetahui bahwa suami Mrs. Chan berselingkuh dengan istri Mr. Chow. Film yang tidak menampilkan wajah dari suami Mrs. Chan dan steri dari Mr. Chow justru semakin memberikan kekuatan emosi romantisme kepada Mr. Chow dan Mrs. Chan. Saya hanya membayangkan, jika saja penonton merasakan kekuatan dari Mr. Chan yang berselingkuh dengan Mrs. Chow maka, kemistri Mr. Chow dengan Mrs. Chan tidak akan sekuat ini.
-          Jika saya mengulik dari sisi psikologi yang terjadi pada kakakternya, di mana Mrs. Chen yang bekerja sebagai sekretaris dan memiliki atasan yang sangat bertanggung jawab kepada istri dan keluarganya hingga selalu menyediakan waktu untuk istri dan keluarganya, berbeda dengan diri Mrs. Chen yang memiliki suami seperti itu. Karakter atasan Mrs. Chen memberikan efek yang cukup kuat agar seorang perempuan (Mrs. Chen) merasa iri dan terpukul dengan apa yang terjadi dengan dirinya yaitu memiliki suami yang tidak bertanggung jawab dan berselingkuh.
Mengulik psikologi karakter Mr. Chow yang memiliki teman “buruk” juga semakin memperkuat keyakinan Mr. Chow. Dia terpukul bahwa sebagai lelaki yang baik masih saja dihadapkan dengan istri yang tidak bertanggung jawab. Cara teman Mr. Chow yang selalu memuji Mrs. Chen juga meyakinkan Mr. Chow bahwa Mrs. Chen merupakan perempuan yang baik. Kasihan sekali karena suami Mrs. Chen adalah lelaki yang “buruk”.

2.      DĂ©cor (dekor): memberikan informasi tentang karakter, mood, genre, atmosfir dalam film.
-          Dekor pada kedua rumah yang bersebelahan tersebut tentunya memberikan karakter pada tahun 1962 di Hong Kong. Sama juga seperti ruangan kerja Mrs. Chan dengan mesin ketiknya, ruangan kerja Mr. Chow.
-          Mood justru terasa pada dekor di lorong tukang mie yang sempit dan agak lusuh di mana Mrs. Chan dan Mr. Chow berdatangan bergantian beberapa detik sehingga penonton akan berpikir bahwa mereka pasti selalu berpapasan hingga akhirnya ada shot yang memastikan bahwa mereka benar-benar berpapasan. Mood juga terasa pada setiap kali Mr. Chow sendirian di kantornya sambil merokok, di mana kegelisahan Mr. Chow yang abu-abu antara memikirkan kelakuan iserinya atau perasaannya pada Mrs. Chen.
-          Kita mengetahui bahwa genre film ini adalah romance, namun film ini sangat cantik tanpa harus menampilkan banyak simbol-simbol umum romancae kebanyakan (sesungguhnya saya ingin katakana tidak ada simbol klise romance). Katakanlah yang paling terasa adalah pada dĂ©cor di hotel tempat mereka berdua bertemu, juga pada saat mereka berdua makan di restaurant khas America dengan nuansa merah.
-          DĂ©cor yang mempengaruhi atmosfir dalam film ini sesungguhnya dapat dilihat pada hamper setiap tempat. Ruangan (katakan itu lorong atau taksi atau gang) di mana mereka bertemu selalu menunjukan sisi sempit, gelap, dan sepi. Menjelaskan bahwa hubungan di antara keduanya memang ditutup-tutupi.

3.      Warna: merupakan hal penitng untuk mengkonstruksi mood film, warna bisa menunjukan optimisme, pesimisme, kehangatan, dan keintiman.
-          Sebenarnya warna yang dipakai dalam film ini cukup berfariasi dan natural. warna dominasi merah terasa setiap kali Mrs. Chen dan Mr. Chow terasa intim, warna semakin merah dan menunjukan keintiman terdapat di hotel, merah itu seperti menunjukan gairah seksualitas.
-          Warna-warna natural di ruang publik yang digunakan pada sebagian besar film ini memberikan impresi bahwa “mereka tidak ada apa-apa” setidaknya mereka ingin orang-orang menganggp mereka tidak ada apa-apa atau mereka dapat tenang sedikit saat menyangkal “mereka tidak ada apa-apa” di ruang publik.

4.      Pencahayaan: merupakan sebuah elemen yang mengkonstruksi mood dan atmosfir. Pencahayaan pasti memberikan efek pada gambar terutama untuk penggunaan kontras dan bayangan (shadows).

5.      Properti: merupakan objek atau barang-barang yang berkontribusi pada naratif, terkadang property juga dapat mengidentifikasi gendre film.
-          Dasi, tas tangan, dan sepatu sangat berkontribusi dalam aratif film ini. contohnya ketika Mrs. Chen mendapati bosnya memiliki dasi baru, kemudian mengatakan bahwa dasi lama lebih nyaman baginya, kemudian mendapati Mr. Chow memiliki dasi baru yang sangat mirip dengan dasi suaminya, asi tersebut juga selalu dipasangkan Mrs. Chen kepada suaminya setiap hari. Mr. Chow juga mandapati bahwa Mrs. Chen memiliki tas tangan yang sama persis seperti yang dimiliki oleh istrinya. Tas tangan dan dasi sangat berkontribusi untuk membuktikan bahwa mereka berselingkuh. Sedangkan sepatu menjadi bukti bawa Mrs. Chen berselingkuh dengan Mr. Chow. Dibangun pada saat Mrs. Chen berhati-hati salah menggunakan sepatu saat keluar dari kamar Mr. Chow dan benar salah menggunakan sepati hingga pada saat Mrs. Chen bertandang ke Singapur dan hendak mengmbil sendal di kamar Mr. Chow.
-          Rokok juga menjadi property yang selalu hadir untuk menunjukan kegelisahan Mr. Chow. Tampak jeals pada adegan ketika Mr. Chow berbicara dengan Mrs. Chen atau ketika Mr. Chow sedang berpikir.
-          Jam di dinding menunjukan wakru yang selalu berjalan walau waktu itu lambat. Hubungan mereka yang terus berjalan dan pergolakan yang membuat mereka mengulur waktu untuk mengakui perasaan mereka. Penggunaan jam di sepanjang cerita menunjukkan lewatnya waktu sebagai mesin nostalgia yang tak terbendung. Jika tidak ada cara untuk menghentikan waktu, maka apa yang telah berlalu hanya bisa diingat dan tidak lagi dialami. Memori menjadi kebutuhan manusia seiring berlalunya waktu, dengan nostalgia sebagai produk sampingannya. Musik sering berulang, terutama tema liris film yang terus-menerus diulang tapi tidak pernah dimainkan secara keseluruhan, memicu perasaan familiar dan dengan demikian nostalgia penonton terhadap nilai musik. Hujan, yang sering digunakan dalam film, membangkitkan melankolis, emosi yang dampaknya mendekati nostalgia.

6.      Kostum, aksesoris, makeup: merupakan elemen penting untuk mengknstruksi maksud dari film. Hal ini berkontribusi pada naratif fdan bentuk dari film, kadang digunakan sebagai tanda untuk mengidentifikasi gendre film.
-          Kostum yang digunakan oleh Mrs. Chen dalam setiap kegiatan adalah sama, bisa dikatakan formal pada masa itu, bahkan ketika di rumah dan membeli mie. Mungkin ini dimaksudkan karena Mrs. Chen harus selalu siap dengan segala keadaan, siap untuk pergi, bekerja, bahkan tidak ada waktu yang benar-benar santai bagi dia. Hanya sesekali menggunakan sendal rumahan ketika di apartemen. Kostum Mrs. Chen juga menunjukan betapa besar martabat seorang perempuan pada masa itu, sebagai seorang istri dia juga harus menghargai suaminya dengan selalu tampil cantik.
-          Begitu juga dengan kostum Mr. Chow yang selalu formal walau beberapa kali berantakan. Setiap selesai bekerja dan saat merokok, atau ketika memikirkan Mrs. Chen pakaian Mr. Chow selalu berantakan, menjelaskan betapa berantakannya pikiran Mr. Chow. Mungkin juga sama dengan Mrs. Chen bahwa Mr. Chow harus siap setiap saat karena hal-hal bisa saja terjadi tanpa bisa diduga. Pakaian formal juga menunjukan martabat Mr. Chow disbanding dengan sahabat Mr. Chow yang tampak “buruk” itu.

7.      Bloking, gestur, dan pergerakan pemain: merupakan cara termudah untuk mengetahui perasaan dari karakter dalam film.
-          Bloking untuk gaya pembingkaian karakter pada film ini dimainkan ketika kedua karakter berada di lorong sempit sepanjang koridor, pembingkaian ini menggambarkan kebebasan namun terbatas yang dimiliki oleh Mr. Chow dan Mrs. Chan di apartemen. Sebagian besar waktu dan tindakan mereka diawasi oleh pemilik kontrakan. Misalnya, pintu di antara kedua protagonis tersebut digunakan untuk menunjukkan penghalang di antara kedua karkater tersebut.
Ada ungkapan saling memahami, namun yang secara tidak langsung disampaikan sebagai larangan dan suatu hal yang tidak diterima oleh masyarakat terutama para tetua. Sebelum Mrs Chan tidur, kamera biasanya akan memusatkan perhatian pada peralihannya dari satu alas kaki ke kaki lainnya. Hal ini memberikan asumsi bahwa ada pemaksaan diri untuk memakai topeng yang menutupi perasaan putus asa mengenai suami Mrs. Chan yang berbohong untuk berselingkuh.
Perasaan atas keterlibatan karakter dijelaskan kepada penonton pada saat medium close up ketika terjadi obrolan Mr. Chow dan Mrs. Chan. Shot yang ditampilkan terus-menerus (repeat) pada film ini saat adegan membeli mie. Mrs. Chan membawa sebuah wadah disertai dengan lagu berjudul 'Maybe, Maybe, Maybe' ditambah dengan efek gerakan lambat yang mengekspresikan kepekaan dan ketegangan saat mereka bertemu pada satu titik.
Contohnya pada scene di bawah gudang saat hujan lebat, gambar bar ditampilkan sedemikian rupa untuk menunjukkan bahwa keduanya yang merupakan suami dan istri dari pasangan mereka masing-masing hanyalah saling terjebak dalam hubungan pernikahan mereka. Mereka tidak dapat lagi melanjutkan keinginan yang mereka miliki untuk diri meeka sendiri. Penggunaan shot high angle saat Mr. Chow berbisik ke lubang untuk mengatakan tentang kerentanannya yang tidak memiliki kontrol atas fakta akan cintanya pada Mrs. Chan tetap menjadi rahasia sampai akhir zaman.
-          Gerak lambat yang digunakan untuk meningkatkan perasaan halus inilah yang ingin disampaikan Wong Kar Wai. Adegan-adegan itu semuanya dihubungkan oleh sebuah narasi: mereka selalu melibatkan dua tokoh utama, Mrs. Chan dan Mr. Chow, dan menekankan hubungan mereka satu sama lain. Pada adegan pertama, Mrs. Chan, yang duduk di samping suaminya, dengan lembut didorong oleh Mrs. Chow (dengan isyarat tangan yang sangat kering) yang melewatinya untuk duduk saat Mr. Chow meninggalkan meja. Tapi, dalam sekejap, saat mata Mr. Chow dan Mrs. Chan bertemu, sebuah hubungan telah terbentuk, apakah mereka menyadarinya atau tidak, bahwa Wong Kar-Wai memilih untuk menyarankan secara visual dengan dilatasi waktu ini. Kemudian, setelah mengambil beberapa mie di pasar, Mrs. Chan akan meninggalkan kedai mie tersebut beberapa detik sebelum Mr. Chow tiba, menandakan, pada saat ini dalam cerita, jarak antara kedua karakter ditekankan, dengan gerak lambat, kedekatan mereka. Kedua kalinya, mereka akan bertemu di tangga ke pasar dan tersenyum satu sama lain, semakin dekat dengan setiap pertemuan. Setelah bertemu di restoran bergaya Amerika, ada gerakan lambat yang berjalan melalui jalan Hong Kong; Kami melihat mereka dari belakang karena mereka tampaknya akhirnya menjadi pasangan, kedekatan mereka ditekankan oleh gerak lambat.
-          Wong Kar-Wai banyak mengulangi situasi, sedikit dialog dan shot untuk memperkuat suasana hati penonton ketika menonton film tersebut dan juga tambahan narasinya. Ada dua jenis pengulangan yang digunakan dalam film, yaitu dengan variasi dan yang tidak menggunakan variasi. Pada bagian pertama, pengulangan menekankan variasi; Pada bagian kedua, pengulangan itu sendiri dipanggil ulang untuk diperhatikan. Adegan pasar, sudah disebutkan sebelumnya. Contoh mencolok dari pengulangan yang menggerakan film tersebut adalah setiap pertemuan Mr. Chow dan Mrs. Chan di pasar hampir secara eksklusif difilmkan dengan cara yang sama, untuk menyoroti hubungan mereka yang berkembang. Adegan restoran juga akan mematuhi praktik ini dan akan terlihat dua kali. Yang pertama, Mr. Chow dan Mrs. Chan menyadari bahwa pasangan mereka berselingkuh satu sama lain, dengan lagu bahasa Spanyol milik Nat King Cole, Aquellos ojos verdes, bermain di latar belakang. Dalam adegan yang berulang, mereka berdua membicarakan pasangan mereka, mencoba mensimulasikan makan malam yang mereka miliki bersama, dengan lagu Nat King Cole yang sama diputar. Kemudian, di taksi, Mr. Chow mencoba memegang tangannya, tapi dia menariknya kembali. Ketika adegan taksi berulang, setelah Mr. Chow mengakui cintanya kepada Mrs. Chan, dia adalah orang yang kali ini meraih tangannya dan menahannya. Dengan suara lembut, dia menyatakan, "Saya tidak ingin pulang malam ini", membiarkan dia tahu bahwa dia merasakan hal yang sama tentang dirinya. Kemudian, keduanya mengulangi dialog off-frame yang sama ("Ini saya. Jika ada tiket kedua, apakah kita akan pergi bersama?). Selalu mengikuti sebuah adegan di mana salah satu dari mereka berkonflik tentang hubungan mereka, setelah menenatap dirinya sendiri melalui cermin. Semua adegan tersebut menunjukkan regresi karakter, seperti di tempat makan, sebuah cara bagi mereka untuk memberi makna dan logika pada situasi atau emosi yang tidak ada kemajuan, seperti di adegan taksi, menuju pemahaman yang lebih baik dengan menyadari diri mereka sendiri. Adegan terakhir juga mengikuti logika pengulangan tapi berbentuk satu narasi. Chow mengatakan kepada temannya bahwa rahasia nenek moyang mereka selalu tersembunyi karena mereka menggunakan hutan untuk menceritakan rahasia mereka, caranya dengan membisikan rahasia mereka ke sebuah lubang di pepohonan dan kemudian menutupnya, memastikan bahwa rahasia mereka akan tetap dikuburkan. Ketika Mr. Chow sendiri mengunjungi reruntuhan Angkor Wat, dia berbisik ke sebuah lubang di dinding sesuatu yang disembunyikan dari penonton, dan begitu dia pergi, lubang itu tertutup oleh kotoran; Hubungan asmara rahasianya selamanya akan disembunyikan dari semua orang, termasuk penonton. Munculnya adegan musik liris yang tiba-tiba, yang hanya digunakan pada saat itu di film, mematahkan pola pengulangan yang telah, sampai sekarang membanjiri film tersebut. Pada saat itu, Mr. Chow adalah orang yang berubah, bebas dari pola obsesi, masa lalunya dan bebas memandang ke masa depan, seperti yang ditunjukkan pada shot-nya meninggalkan reruntuhan.
-          Banyaknya shot-shot frame di dalam frame selain menunjuka keerbatasan gerak di antara Mrs. Chen dengan Mr. Chow, juga menujukan bahwa penontonlah yang harus mengobservasi apa yang terjadi pada kedua karakter tersebut, bukan hanya kedua karakter. Fungi frame di dalam frem pada film ini membuat penonton menyadari diri mereka sebagai penonton, bukan bagian dari karakter itu.

·        Editing
-          Sebagian besar teknik editing yang digunakan adalah cut to continuity karena film ini beralur maju.
-          Pada beberapa adegan juga terdapat jump cut untuk memepersingkat waktu, misalnya pada adegan Mrs. Chen berjalan menghampiri Mr. Chow, selain sebagai pemersingkat waktu, teknik editing ini berfungsi memberi informasi bahwa Mrs. Chen harus sesegera mungkin menemui Mr. Chow sebelum disadar oleh orang lain. Berbeda dengan adegan ketika Mrs. Chen harus meninggalkan Mr. Chow karena adegan aan berjalan lambat (slow motion) sebagai penekanan bahwa Mrs. Chen tidak terlalu rela untuk meninggalkan Mr. Chow. Begitu juga ketika Mr. Chow tidak tega meninggalkan Mrs. Chen.

·        Suara
Keintiman dalam film ini tidak ditampilkan secara seksual yang fulgar namun disampaikan dengan cemerlang melalui suara non-diegetik.

Unsur suara
a.      Speech (pembicaraan): dialog, monolog, direct address (seolah berbicara pada penonton), narasi, voice over (tidak terliat di layar namun ada dalam ruang cerita), interior monolog (suara hati).
-          Dialog dalam film ini dibuat sesingkat mungkin namun semuanya terasa sangat utuh dalam pengembangan alur cerita ini. Tidak banyak dialog-dialog tidak penting yang justru membuyarkan mood penonton untuk memahami esensi dari hubungan Mr. Chow dengan Mrs. Chen.
-          Beberapa kali terjadi interior monolog, ketika Mr. Chow mengajak Mrs. Chen untuk pergi bersamanya. Interior monolog dalam film ini berfungsi sebagai cita-cita maupun pesan yang tak pernah tersamapaikan dari karakter satu dengan karakter lainnya. Paling jelas adalah pesan Mr. Chow pada Mrs. Chen dan sebaliknya.
-          Non Diagetic Off Screen Room terjadi pada scene kantor Mr. Chow maupun Mrs. Chen dan pada kafe ketika Mr. Chow hendak menceritakan kisah rahasia nenek moyang. Keberadaan OS difungsikan sebagai realitas film untuk mengidentifikasi tempat dan waktu.

b.      Sound effect (efek suara): suara yang tidak sengaja dibuat manusia, contoh room tone (dalam ruang tertutup) atau atmosfer/ambience (pada ruang tak terbatas).
-          Room tone terjadi ketika Mrs. Chen hendak memasak untuk Mr. Chow ketika sakit, suara-suara di dapur memberikan efek realitas tentang apa yang terjadi di dapur.
-          Ambience hujan, langkah kaki juga muncul sebagai realitas.

c.       Musik: sengaja dibuat manusia dan memiliki irama tertentu, contoh; natural (jika dalam layar terlihat alat musik dimainkan), fungsional (ketika suatu adegan seharusnya sedih namun aromanya kurang, maka ditambahkan musik)
-          Lagu bahasa Spanyol milik Nat King Cole, Aquellos ojos verdes, atau 'Maybe, Maybe, Maybe' ditambah dengan efek gerakan lambat yang mengekspresikan kepekaan dan ketegangan saat mereka bertemu pada satu titik. Maka musik ini merupakan musik yang fungsional. Di mana lagu ini bukanlah lagu Bahasa Mnadarin untuk film yang keseluruhannya mengambil mood Hong Kong. Ke dua lagu ini hanya diputar saat adengan Mrs. Chen dan Mr. Chow sedang sangat intim, atau dengan kata lain intim ketika mereka bahkan tidak menyadari keintiman yang mereka buat.

Inilah mistri film ini di mana beberapa elemen narasi ditekankan oleh pengulangan. Penggunaan ganda dalam penjabaran cerita dan mise-en-scène memperkuat mood film ini. Jean Baudrillard, dalam bukunya yang terkenal, Simulacra and Simulation, menyatakan bahwa "ganda adalah prototipe simulacrum klasik." Jika memang benar, maka In the Mood for Love adalah simulacrum yang sempurna bersamaan dengan film melodramatis dan film romantis. Ide ganda terus dieksploitasi di seluruh film. Sepintas lalu, diperlihatkan nama dua karakter utama, Chow dan Chan, yang sangat erat kaitannya. Apakah itu berarti bahwa Mr. Chow dan Mrs. Chan adalah pasangan? Beberapa petunjuk dalam film juga seakan memberi isyarat. Dalam satu adegan, Mr. Chow berbicara dengan Mr. Chan yang tidak tahu tentang istrinya dan kemudian, Mrs. Chan melakukan hal yang sama dengan Mrs. Chow. Kedua adegan difilmkan agar kita tahu bahwa mereka merupakan pasangan, justru hal-hal tersebut memberi kesan tentang hubungan mereka yang abstrak.
Beberapa adegan juga menempatkan mereka sebagai refleksi/bayangan satu sama lain. Setelah terjebak dalam hujan di pasar, mereka pulang ke rumah dan, pada saat bersamaan, memasuki apartemen mereka masing-masing. Untuk sesaat, seolah mereka melihat diri mereka sendiri dengan saling pandang. Kemudian, setelah adegan taksi untuk yang kedua kalinya, mereka bersandar di dinding apartemen masing-masing, di mana secara simetris berhadapan satu sama lain. Informasi yang digunakan oleh Wong Kar-Wai ini terlihat jelas dalam banyak cuplikan gambar yang diambil memalui cermin di film ini. Mrs. Chen dan Mr. Chow jelas-jelas merupakan refleksi satu sama lain, beberapa adegan juga menunjukkan bahwa mereka lebih memiliki ikatan yang kuat dari pasangan mereka. Setiap kali Mr. Chow dan Mrs. Chen melakukan simulasi tentang bagaiana terjadinya perselingkuhan suami dan istri mereka, mereka seakan membayangkan hadirnya kehadiran abstrak yang tidak pernah jelas oleh penonton. Dalam simulasi pertama mereka, dalam adegan restoran pertama, mereka mencoba membayangkan bagaimana pasangan mereka bertemu, berpura-pura menjadi mereka. Simulasi mereka mungkin terbukti menjadi kenyataan, imajinasi mereka telah meniru dengan dengan sempurna atas apa yang terjadi. Tapi bagi penonton, satu-satunya kenyataan, karena ini adalah satu-satunya skenario yang mungkin diberikan kepada penonton. Kedua protagonis melanjutkan untuk mensimulasikan pertemuan pertama mereka, mencoba untuk menyalahkan penyebab pertama pasangan masing-masing dan oleh karena itu, menggunakan efek penggandaan satu sama lain. Penggandaan yang mereka tampilkan sangat mutlak sehingga penonton mungkin saja keliru dan menganggap mereka sebagai pasangan sampai mereka mengungkapkan kepada penonton, misalnya, ketika Mr. Chow bertanya pada suaminya tentang perselingkuhannya. Dalam adegan itu, selama Mr. Chow disembunyikan, Mr. Chow berpotensi menjadi Mr. Chan, sampai Mr. Chow diperlihatkan kepada penonton. Kedua karakter tersebut dapat saling dipertukarkan dengan rekan-rekan yang dibangun. Semua adegan tersebut berkontribusi pada suasana abstrak dan suasana hati yang tidak jelas.
Jika karya Wong Kar-Wai sebelumnya agak berbeda dengan In the Mood for Love, film ini tetap mempertahankan keanggunan tematik dan tematis sang sutradara. Sebuah over emosi murni, film ini menyampaikan visi Wong Kar-Wai dengan kejelasan dan efisiensi yang mengesankan. Wong mengkomunikasikan perasaan etiketnya dengan menggunakan gerak lambat, pengulangan dan efek penggandaan, yang memperkuat kualitas singkat film ini. Dalam hal itu, Wong Kar-Wai memiliki banyak kesamaan dengan Stanley Kubrick, yang percaya bahwa suasana hati adalah kekuatan pendorong sebuah film. Wong bahkan memutuskan, untuk film ini, untuk mencari lokasi yang disukainya dan kemudian menulis adegan di sekitar mereka. Dengan metode itu, ruang mengambil kehadiran yang luar biasa, seperti yang terlihat dalam reruntuhan reruntuhan Angkor Wat yang menutup film tersebut. In the Mood for Love nampaknya menjadi film terkuat sang sutradara sampai saat ini.

gambar dari http://www.chinadaily.com.cn/culture/attachement/jpg/site1/20160825/b083fe9562de192897e23e.jpg

( Hey, my fetish Dimples :* )

Comments

Popular posts from this blog

Marselli Sumarno (Wawancara Singkat)

Sedekit PR untuk FFI