Surat terbuka untuk seseorang yang takut kehilangan helm dan malah kehiangan kunci motor
Mungkin terlalu cepat bagi kita, terutama bagi saya yang baru saja menutup buku pada hari itu, tepat ketika ulang tahun saya.
Saya menjalani waktu yang menyenangkan dengannya, bahkan saya tidak tahu apakah itu benar-benar indah.
Saya masih menyayangi dia hingga detik ini, sering kali saya khawatir, beberapa kali saya merasa bersalah atas apa yang saya lakukan.
Tapi saya sangat memahami diri saya sendiri, dan nyatanya saya memang peduli dengan dia, saya memang menyayangi dia, berbeda dengan yang saya rasakan terhadap kamu.
Ketika menjelang ulang tahun, hingga 1 hari pasca ulang tahun, saya merasa sangat menyedihkan.
Saya sangat marah dan kecewa pada diri saya sendiri.
Saya sangat kecewa atas apa yang terjadi di negara ini, tentang buruknya toleransi yang saya lihat sehari-hari.
Malam itu, saya bertengkar dengan kedua orang tua saya.
Di sisi lain, saya sangat memperjuangkan dia.
Namun, hati saya masih menolaknya, selalu seperti sebelumnya.
Maka tepat pada hari ulang tahun saya,
Saya memutuskan hubungan kami, yang tak juga pantas disebut sebagai hubungan.
Saya memutuskan hubungan kami, yang tak juga pantas disebut sebagai hubungan.
Sehari setelah saya meyakinkan diri saya untuk membuka lembaran baru hidup saya,
Kamu datang.
Saya sangat kaget waktu itu,
Sekaligus, saya mendapatkan ketenangan yang belum pernah saya temukan sebelumnya.
Sekaligus, saya mendapatkan ketenangan yang belum pernah saya temukan sebelumnya.
Namun, bayang-bayangnya masih ada, sehingga dengan kebodohan yang untuk kedua kalinya,
Saya masih menganggap kamu sebagai pelampiasan.
Saya masih menganggap kamu sebagai pelampiasan.
Saya mengaggumimu jauh sebelum hari ini,
Saya tidak mengharapkan apapun karena saya tahu itu hal yang mustahil, terlebih ada kabar burung yang tidak baik beredar tetang kamu.
Tapi saya yakin, saya mengenal diri saya sendiri,
Bagaimana bisa, ketika kabar buruk itu sampai ke telinga saya, saya segera memaafkan kamu walau waktu itu saya tahu kita belum sejauh ini.
Sepertinya, selang beberapa waktu kedekatan kita, yang diawali dengan kabur dari tanggung jawab masing-masing,
Saya merasa telah melakukan hal yang tepat.
Saya tidak tahu apa yang terjadi pada diri saya,
Saya merasa sangat tenang berada di dekat kamu,
Saya tidak memikirkan keliaran hasrat seks saat bersama kamu,
Saya merasa mengenal kamu walau kita tidak bercerita banyak.
Di balik itu semua, tentu ada keraguan dalam diri saya,
Pertama, kamu tentu dengar kabar bahwa saya tidak ingin memiliki sebuah ikatan, sedangkan kamu seseorang yang percaya sebuah ikatan itu bisa dibangun dengan baik.
Kedua, kamu juga dengar bahwa saya bukanlah seorang perempuan yang akan bangga memproduksi jiwa baru dalam rahimnya, tapi kamu menanyakan hal itu ketika kita berjalan di atas jembatan di antara arus air dan debur ombak.
Ketiga, saya tidak percaya kepada Tuhan, sebagaimana kamu mempercayai kehadiran-Nya.
Maka, saya hanya bisa menikmati waktu tanpa rentang ini, hingga ia menyerah.
Semoga, kamu juga melakukannya bersama saya.
Saya tidak ingin berharap.
Sepertinya saya punya karma yang belum tuntas atas kejahatan saya terhadap dia.
Tapi bersama kamu, saya ingin membayar semuanya.
Saya ingin mencintaimu sebagaimana saya mampu memberikannya kepada orang-orang di sekitar saya, sahabat dan tentunya keluarga saya.
Saya ingin mencintaimu tanpa membuat kamu harus berpikir bahwa kamu harus membalas cinta saya,
Karena kamu telah memberikan cinta itu pada orang-orang di sekelilingmu
Termasuk orang-orang yang saya sayangi.
Terima kasih.

Comments
Post a Comment