UTS Artistik II, Wildest Dream-Taylor Swift

A. Metode Penyajian
Dalam video clip Wlidest Dream by Taylor Swift, sutradara mengambil setting di Afrika. Dengan maksud
mendukung kulit hitam dan mengisahkan perjalanan cinta yang berbeda.
Video clip ini menyajikan metode visual yang berasal dari lirik lagu. Visual sangat disesuaikan dengan lirik lagu. Namun, dengan pengembangan dan pemilihan tema pembuatan film wild life sampai dengan pemutaran perdana film.
Wildest Dream adalah sebuah lagu tentang hubungan yang ditakdirkan, dan konsep musik video adalah bahwa mereka memiliki hubungan cinta di lokasi jauh dari kehidupan normal mereka. Ini bukan video tentang kolonialisme tapi kisah cinta pada set kru film periode di Afrika, 1950.
Ada kulit hitam Afrika dalam video di sejumlah tembakan, tapi jarang memotong ke wajah awak luar sutradara. Sebagian besar screentime adalah Taylor dan Scott.
Video ini didasarkan pada klasik roman Hollywood seperti Elizabeth Taylor dan Richard Burton, serta film klasik seperti The African Queen, Out of Africa dan The English Patient, untuk beberapa nama.
Kenyataannya tidak hanya ada orang kulit berwarna dalam video, tetapi materi kunci yang bekerja pada video ini adalah orang-orang dari berbagai warna kulit.

b.     Struktur penyajian :
Struktur penyajiannya linear. Video clip ini memang mempresentasikan lirik lagu yang berulang. Namun, cerita tetaplah linear, yaitu dari mulai pembuatan film sampai akhir penayangan film.

c.      Persentasi visual     :
Tokohnya adalah wanita yang tampak anggun dan cerdas karena pakaiannya yang sexy nan elegant. Karakter lawan main pria yang tampak gagah, dengan otot yang kuat, tatapan mata yang tajam dan penambahan adegan sedang merokok.
“Wildest Dream” adalah cerita cinta yang dibuat dengan gaya seperti sedang membuat (shooting) film percintaan. Memunculkan kehidupan wild life di Afrika dengan menampilkan jerapah-jerapah, macan, air terjun yang luar biasa indah, dan tenggelamnya matahari dengan cahaya begitu emas.
Bukan hanya itu, video clip Wildest Dream juga menggabungkan gaya 1950an—atau bisa disebut vintage—untuk mendukung keindahan wild life di Afrika. Karena seperti yang kita ketahui, beberapa tahun lalu, keadaan hutan ataupun wild life di bumi masih sangat indah. Semuanya masih tampak baik-baik saja. Seperti keadaan hewan-hewan yang masih sehat dan alam yang masih tertata sangat baik.
Dalam video clip ini, sutradara juga menampilkan sebuah kemah yang biasanya dibangun oleh orang-orang yang sedang mengobservasi hutan. Saya pernah melihat film, misalnya Mummy ataupun seperti beberapa film yang mengambil lokasi wild life. Mereka membuat kemah yang cukup nyaman. Dengan berbagai keperluan observasinya, ada tempat idur untuk beristirahat, ada meja untuk bekerja, bahkan ada kaca pembesar, lensa, peta, dan tentu saja baju-baju yang hendak digunakan.
Karena memunculkan kesan tahun 1950an dengan keadaan pesawat yang masih seadanya. Bentuk pesawat di sini akan kembali mengingatkan kita pada saat-saat tahun 1930an. Pesawat kecil dengan penumpang hanya 2 awak, di mana pilot yang mengendarai duduk di kursi belakang.
Dalam potongan video klip ini bukan hanya tentang kisah cinta yang baik-baik saja, tapi ada saat di maan mereka bertengkar. Seperti dalam pembuatan film sungguhan, ada kala di mana pemain tidak lagi sejalan dengan pemain lainnya. Namun, demi kelancara film, sang pemeran harus rela menekan emosinya. Emosi di sini terkesan apa adanya.
Pada ¾ video clip. Sutradara dengan bangga menampilkan sebagian teknik pembuatan film. Bisa kita lihat bahwa ternyata pengambilan gambar ini di lakukan di dalam studio. Dengan menampilkan berbagai peralatan bahkan lampu-lampu yang menghidupkan konsep.
Pada akhir video clip. Kita dituntun untuk melihat pemutaran film perdana tentang wild life. Di pemutaran film ini, kita diingatkan tentang Hollywood pada masa lalu. Masa di mana mobil-monil antic, kamera-kamera dengan bohlam sebagai flash, poster sederhana, dan hasil gambar film yang hitam putih.
Dalam penataan pakaian, Taylor Swift menggunakan baju berwarna emas denga bulu. Ini menunjukan bahwa dia adalah bintangnya. Kita juga jadi terfokus pada Taylor Swift. Sedangkan lawan mainTaylor Swift, seperti pada umumnya mengenakan jas berwarna hitam. Tambahan yang manyakitkan bahwa wanita dari lawan mainTaylor Swift juga mengenakan gaun hitam.  Ini menambah kecocokan dan meyakinkan kita kalau lawan main Taylor Swift sudah punya pasangan. Ditambah lagi adengan ciuman kemudian close up Taylor Swift yang sedih melihat mereka.
Sampai pada akhir video clip, yaitu pertengahan dari pemutaran film pertama di studio Hollywood. Di bioskop dengan kursi-kursi yang sangat pas dengan cerita. Taylor Swift memperhatikan si lawan main. Begitu juga si lawan main yang sesekali memperhatikan Taylor Swift. Taylor Swift melihat adegan saat di film, itu membuatnya miris. Taylor Swift pergi dari pemutaran film dan masuk ke mobil. Dengan kaca jendela mobil yang sedikit berembun, menggambarkan suasana hati Taylor Swift yang gusar. Hingga akhirnya Taylor Swift benar-benar pergi walaupun si lawan main mengejarnya.


d.     Aspek daya tarik konten  :
Konten dalam video clip ini yang menarik bagi saya adalah seperti shooting film bertema wild life. Dengan beberapa aspek artistic yang sengaja dibocorkan untuk mendukung tema. Sampai pada akhirnya ditayangkan secara perdana. Lagi-lagi dengan sangat detail menampilkan kesan berada dalam pemutaran film perdana Hollywood.



e.     Skema standart      :
Video clip ini untuk standart internasional dan kalangan pecinta alam, sebagai bentuk konservasi hutan.

f.       Ide original               :
Ide pembuatan video clip Wildest Dream ini berasal dari harapan mengangkat persamaan hak dan konservasi alam.

g.     Drama                       :
Genre video clip ini adalah drama, percintaan, dan petualangan.

h.     Tema              :

Tema Wild Life Afrika pada tahun 1950an.

Popular posts from this blog

Marselli Sumarno (Wawancara Singkat)

Sedekit PR untuk FFI